Kamis, 14 November 2013

FUZHOU WINTER CAMP (20 Dec'13 - 01 Jan'14)

Atas undangan Departemen Oversea Chinese Affairs kota Fuqing China, kami Perkumpulan Fuqing Indonesia mengorganisir para generasi muda keturunan Fuqing untuk mengadakan study tour sekaligus untuk menelusuri asal mula leluhur kita di Fu Qing dengan tema : 

WINTER CAMP 2013

Tujuan utama kerjasama ini adalah untuk memberikan kesempatan kepada kaum muda mudi Fuqing untuk menambah wawasan pengetahuan kebudayaan Tiongkok dan melihat kemajuan-kemajuan yg telah dicapai di kampung leluhur sehingga dapat menjadi inspirasi bagi mereka dalam menuntut dan memicu kemajuan.

Syarat: 
1). Winter Camp 2013 dibatasi maksimal 45 peserta yang dibagi untuk 29 kota Perkumpulan Fuqing. Se-Indonesia, dengan calon peserta yang berusia antara 12-30 thn.

2). Selama di China semua biaya akomodasi makan dan tour ditanggung oleh pemerintah Fuqing-China. Tiap peserta cukup menyediakan pembayaran :
a. Tiket pesawat Surabaya-Fuzhou PP USD 820/org atau Tiket pesawat Jakarta-Fuzhou PP USD 680/org.
b. Airport Tax Internasional Rp.150,000/org
c. Visa China
e. Airport domestik Rp.80.000/org
f. Tgl 20 Dec hotel Amaris Airport Jakarta Rp.500.000/kamar/malam* Selama kamar masih available (Khusus bagi yang dari luar kota Jakarta)

3). Mengingat tempat yang terbatas, maka calon peserta yang ingin melakukan pendaftaran dimohon menyetor uang muka USD 300. Pendaftaran dibuka sampai tgl 22 Nop'2013.

4). Acara Winter Camp sendiri terdiri dari :
a. Mengunjungi obyek wisata bersejarah kota Fuqing dan Fuzhou dimana kita dapat menikmati keindahan alam serta melihat langsung kemajuan kota serta pembangunannya.
b. Belajar bahasa Tionghoa, kaligrafi Tiongkok, Seni lukis (Chinese painting) dan seni cutting, seni tari, wushu, nyanyi, olahraga, dll yang bernuansa kebudayaan tradisional Fuqing lainnya.

Informasi dan Pendaftaran dapat dilakukan di:

Pelita Pasar Atum Mall
Pasar Atum Mall Lt.1 Blok A-83
(Depan Hartani, Sebelah Holland Bakery)
031 353 6148 / 031 8364 9838 / HP. 0878 5368 1338
Pin BB 27515E8F
YM: pelitalctt_atum1 / pelitalctt_atum2 / pelitalctt_atum3

Pelita Pakuwon Trade Center
PTC Lt. LG Blok A3-38 Surabaya
(Seberang Amazon, Belakang Crown Jewelry)
031 739 2238 / 031 7236 6608
Pin 26297FEB
YM: pelitalctt_ptc1 / pelitalctt_ptc2

Pelita Dharmahusada
Dharmahusada Mas Ad-6 Surabaya
031 5994197 / 031 5994130 / 031 7006 6216 / 0878 5368 2181
Pin BB 295C4E48
YM: pelitalctt_dh1 / pelitalctt_dh2 / pelitalctt_dh3 / pelitalctt5

Kamis, 25 Juli 2013

Undangan Resmi Acara Baba - Nonya (Cina Peranakan) di Malaka

Buat Semua kawan-kawan yang ingin mengetahui even menarik ini silahkan langsung menghubungi Benteng Herritage ya. Ini adalah even menarik yang diadakan secara periodik dan mengumpulkan seluruh Baba - Nonya seluruh dunia (Kalau saya nggak salah).

Pada kesempatan berikut semoga saya punya kesempatan untuk menuliskan tentang perjalanan saya September lalu untuk menelusuri sedikit peradaban Cina peranakan di Tangerang.



Su Dong Po 蘇東坡

Mungkin banyak teman-teman yang pernah menonton drama seri China yang berjudul Su Dong Po yang terkenal sekitar tahun 2008 lalu dengan pemain terkenal Ruby Lin dan Lu Yi. Drama seri ini sangat terkenal dan diputar di CCTV China dan hingga saat ini diberbagai kota di Indonesia masih dijual seri filmnya yang terkenal romantis dan sedikit tragis. ( Silahkan cek http://www.youtube.com/watch?v=s1zqG1u_n1s&feature=player_embedded untuk Trailer Drama Seri ini, bila setelah itu ingin mencari film-nya jangan heran karena memang patut untuk ditonton :D )

Sudongpo
Cover Promo Drama Seri Su Dong Po
Saya tertarik untuk menelusuri lebih jauh tentang sosok Su Dong Po yang sebenarnya terlepas dari bumbu-bumbu drama serial tersebut. Kebetulan beberapa saat lalu saya berkesempatan kembali ke Hangzhou dimana banyak kisah cinta bermunculan dan diceritakan kembali dengan begitu menarik oleh setiap guide-nya. Adalah sebuah tempat yang paling terkenal dan "must be seen" di Hangzhou yaitu Danau Xi Hu, didepan sebuah taman terdapat patung Su Dong Po yang kebanyakan orang China mengenalnya sebagai Sastrawan dan Negarawan pada jaman Dynasty Song.

Berikut adalah beberapa legenda mulut kemulut serta beberapa literatur yang saya temukan mengenai sosok Su Dong Po yang menarik dan patut untuk diteladani.

Su Dong Po terlahir dengan nama Su Shi 苏 轼 juga dikenal sebagai Dong Po (Tanggal 8 Bulan Pertama tahun 1037 - Tanggal 24 Bulan kedelapan tahun 1101) adalah seorang penulis Cina, penyair, pelukis, kaligrafi, farmakolog, gastronome, dan seorang negarawan dari Dinasti Song (960-1279). Su merupakan salah satu tokoh penting dalam era Dynasty Song yang bersama-sama dengan Sima Guang ikut untuk melawan berbagai kebijakan-kebijakan baru golongan Wang Anshi. Su Shi berkontribusi besar pada penulisan-penulisan penting abad ke 11 yang diterjemahkan ke berbagai bahasa dan sangat berpengaruh pada masyarakat China serta berbagai negara sekitarnya termasuk Jepang. Bahkan dialihkan ke dalam bahasa Inggris yang ditulis ulang oleh Arthur Waley. Bahkan dalam hal seni Su Shi dianggap sebagai salah satu orang paling berpengaruh di abad ke-11.

Nama Su Shi yang diberikan oleh ayahnya (Su Xun) berasal dari makna sebuah penyambung kereta (pada bagian depan kereta), dikenal pula dengan nama gelar Zizhan (子瞻) serta nama samaran yang sering digunakannya dalam berbagai sastra yang ditulisnya yaitu Dongpo Jushi (东坡 居士) atau Su Dong Po (苏东坡). Su Shi lahir di Meishan dekat dengan gunung Emei yang sekarang terletak diwilayah Sichuan, bersama dengan saudara lelakinya Su Zhe, dikenal sebagai Sastrawan terkenal.

Pendidikan awalnya dibimbing oleh seorang Imam Tao di sekolah desa setempat, kemudian dari ibunya juga beliau belajar apalagi mengingat untuk jaman itu ibunya adalah seorang yang berpendidikan tinggi. Menikah di umur 17thn dan lulus bersama adiknya pada ujian negara saat berumur 19thn dengan tingkatan Jinshi yakni sebuah posisi tinggi dalam pemerintahan. Untuk itu beliau diperhatikan kemudian oleh Kaisar Renzong serta Ouyang Xiu yang kemudian menjadi panutan dari Su Shi. 

Memulai karirnya di tahun 1060 dan sepanjang dua puluh tahun berikutnya, Su memegang berbagai jabatan pemerintahan di seluruh China terutama di Hangzhou. Di mana beliau dipercaya untuk bertanggung jawab membangun lintas penyeberangan melintasi Danau Barat yang masih menyandang namanya: Suti (苏堤). Selain itu beliau pernah menjabat sebagai hakim di Mizhou yang hari ini tepatnya beradi di wilayah distrik Zhucheng Provinsi Shandong. Kemudian ketika menjadi gubernur Suzhou, dia pernah menulis peringatan kepada kekaisaran pada tahun 1078, pengeluhannya tentang kondisi ekonomi yang memprihatinkan dan potensi pemberontakan bersenjata di Liguo Prefektur Industri, di mana tempat sebagian besar dari industri besi Cina didirikan.

Lukisan Sosok Su Shi
Su Shi sering bertentangan dengan salah satu penguasa politik yaitu Wang Anshi. Salah satunya yaitu Su Shi pernah menulis sebuah puisi mengkritik reformasi Wang Anshi, terutama monopoli pemerintah dikenakan pada industri garam. Karena berbagai gesekan politis akhirnya Su Shi ditahan dan dituduh menghina Kaisar dengan puisinya, padahal puisi tersebut bertujuan untuk mengkritik kebijakan Wang Anshi. Namun kemudian ternyata Wang Anshi sendiri tidak pernah terbukti dalam penangkapan ini karena saat itu Wang Anshi sudah pensiun serta memiliki hubungan yang sangat baik dengan Su Shi. Pada tahun 1080-1086 Su Shi memulai kehidupan pengasingannya yang pertama dalam keadaan sangat miskin di kota Hubei sebagai seorang pejabat rendahan. Di saat inilah Su mulai menyibukan diri dengan melatih meditasi Buddha, serta dengan bantuan temannya Su dapat membangun sebuah rumah kecil di tahun 1081. Disinilah nama Dong Po mulai dikenal, dan saat ini pula pertumbuhan sastranya mulai dikenal. Disini pula sebuah penggalan puisinya yang terkenal dibuat yaitu Han Shi Tie. Di tahun 1086 semua orang yang berada di pengasingan ditarik kembali ke ibukota akibat pergantian takhta, namun Su kembali diasingkan di tahun 1094 ke wilayah Huizhou (Saat ini bagian wilayan Guangdong) serta Danzhou (Saat ini wilayahnya termasuk Hainan). Di pengasingan Huizhou beliau mencapai titik keemasannya dengan menorehkan 2300 dari total 2700 puisinya yang sebagian diantaranya terkenal hingga hari ini serta 800bh surat hidup. Selain itu ditahun 1098 kembali beliau menorehkan karya dengan dibangunnya akademi Dong Po dalam pengasingannya. Selain itu juga membuat sebuah karya terkenal Chibifuyaitu sebuah penggalan prosa yang menceritakan peperangan Red Cliffs yang merupakan kisah Liu Bei dan Sun Quan dengan jumlah prjuritnya yang sedikit namun dapat memenangkan perang dengan Cao Cao. Kemenangan tersebut akhirnya meruntuhkan Dynasty Han Timur dan menyeretnya dalam perang Tiga Negara yang terkenal.

Di tahun 1100 beliau menerima pengampunan kemudian ditugaskan ke Chengdu. Namun sayangnya dalam perjalanan menempuh tugasnya, beliau meninggal di tahun 1101 di wilayah Changzhou, Provinsi Jiangsu dalam usia 64thn. Setelah beliau meninggal, penghargaan terbesar diterimanya dengan diburunya semua hal yang pernah berhubungan dengan beliau, mulai tulisan, karya setengah jadi hingga tempat-tempat yang pernah dikunjungi maupun ditinggalinya. 

Su Shi pernah menikah dua kali dan memiliki seorang selir. Istri pertamanya Wang Fu dinikahi saat umurnya 19thn. Wang Fu diceritakan berasal dari Sichuan dan pendiam, Wang Fu meninggal pada tanggal dua bulan lima lunar. Kemudian Su Shi menikah kembali dengan Wang Runzhi, yaitu adik sepupu istrinyanya dari jalur ayah dan lebih muda 11thn dari beliau.  Su sangat menyayangi istrinya yang dianggapnya bijaksana karena memperlakukan ketiga puteranya dengan sama, khususnya putera pertamanya yang lahir dari istri pertamanya. Wang Runzhi meninggal di usia 46thn di tahun 1093. Dalam kesedihannya Su meminta apabila beliau meninggal untuk dikuburkan bersama dengan istri keduanya. 

Selir Su adalah Wang Zhaoyun yang merupakan gadis penyanyi (penghibur) di Qiantang. Su menebusnya saat Zhaoyun berusia 12thn dan setelahnya menjadikannya selir. Diantara sahabat Su, Zhaoyun-lah mungkin yang paling terkenal. Qin Guan yang merupakan salah satu kenalan dekat Su mengungkapkan bahwa Zhaoyuan mendapatkan banyak hadiah puisi dari Su karena kecantikan dan suaranya yang merdu. Namun berada didalam pemerintahan membuat Su sering berpisah dengan orang-orang yang dicintainya, termasuk pada perayaan-perayaan besar yang harus dilaluinya sendiri dalam mengemban tugas negara. 

Catatan Penyusun:
Keteladanan Su Dong Po dalam kisah diatas tersamarkan, poin-poin utamalah yang sedikit tersampaikan diantaranya kejujuran dan keikhlasannya dalam mengemban tugas negara walaupun terpisah dari orang-orang yang disayanginya. Kecintaannya yang mendalam pada pendampingnya serta keuletannya dan kegigihannya mengejar apa yang dianggapnya benar walaupun harus menjadi bagian dari yang terbuang selama bertahun-tahun dalam pengasingan. Banyak kisah orang hebat dalam literatur China, mereka menjadi legenda dan dikenang karena kehebatannya menjunjung tinggi nilai-nilai prinsip dalam kehidupan.

Sumber Penulisan:
- Hatch, George. (1993) "Su Hsun's Pragmatic Statecraft" in Ordering the World : Approaches to State and Society in Sung Dynasty China, ed. Robert P. Hymes, 59–76. Berkeley: Berkeley University of California Press.
- Hegel, Robert E. "The Sights and Sounds of Red Cliffs: On Reading Su Shi," Chinese Literature: Essays, Articles, Reviews (CLEAR) (Volume 20 1998): 11-30.
- Yang, Vincent. Nature and Self: A Study of the Poetry of Su Dongpo, With Comparisons to the Poetry of William Wordsworth (American University Studies, Series III). Peter Lang Pub Inc, 1989.
- Ronald Egan, Word, Image, and Deed in the Life of Su Shi. Cambridge (Mass.): Harvard University Press, Harvard-Yenching Institute Monograph Series, 1994.
- Hartman, Charles. "Poetry and Politics in 1079: The Crow Terrace Poetry Case of Su Shih," Chinese Literature: Essays, Articles, Reviews (CLEAR) (Volume 12, 1990): 15–44.

Legenda Lampion China & Festival Lantera

dragon boat lantern display
Display Lampion Kapal Naga
 Sejak runtuhnya Orde baru dan memasuki era reformasi di Indonesia, semua suku bangsa dan keturunan darimanapun di Indonesia bisa menjadi masyarakat Indonesia yang seutuhnya dengan hak serta kewajiban yang sama. Demikian halnya dengan masyarakat keturunan Tionghoa yang kini tidak lagi terkucilkan dan bisa melaksanakan kegiatan kebudayaannya dengan terbuka. Apalagi sejak Gus Dur - KH Abdurrahman Wahid - Presiden RI ke-4 meresmikan Imlek sebagai salah satu libur perayaan Nasional.

Ada beberapa ciri dari Masyarakat Tionghoa yang sangat khas dan unik yaitu salah satunya Lampion yang dihiasi dirumah-rumah keturunan China saat perayaan Imlek ataupun Restoran makanan China atau Klenteng. Sedikit terbersit dalam pikiran saya apakah ada arti Lampion sebenarnya? Memang dalam film ataupun secara fungsi lampion digunakan sebagai alat penerangan, khususnya penerangan dibagian depan rumah yang gelap maupun saat bepergian dibawa dengan tangan.

Dalam penelusuran saya hingga saat ini, belum ada literature pasti tentang siapa yang menemukan lampion atau dalam bahasa Inggrisnya Chinese Lantern / Lentera Berwarna, namun dalam kebudayaannya dituliskan bahwa budaya Lampion sudah dikenal sejak jaman Dynasty Han, tepatnya jaman Dynasty Han Barat (206SM - 220M) sekitar 2000thn yang lalu dan selalu digunakan pada setiap acara gembira. Setiap tahunnya pada jaman itu, setiap orang China memasang lentera berwarna (Lentera Putih adalah tanda perkabungan/lentera tak berwarna) saat tanggal kelima belas dari bulan pertama untuk menciptakan suasana meriah. Salah satu alasannya adalah pada tanggal ini juga dikenal dengan Cap Go Meh yaitu reuni keluarga besar yang tinggal berjauhan, sehngga lentera berwarna juga dikenal sebagai simbol reuni/pertemuan yang berbahagia.

Lentera China sendiri terbagi atas beberapa type, yaitu:
1. Lentera Kerajaan / Istana
Asal-usul lentera China diperkirakan mengikuti sebuah legenda di jaman Dynasty Qing, era Yongzheng. Seorang pria tua di Provinsi Hebei sangat terampil dalam konstruksi lentera. Orang tua ini membuat beberapa lentera dan menjualnya di pasar di Distrik Gaocheng. Suatu hari, ia kebetulan bertemu hakim distrik yang menyukai lentera buatannya dan hakim ini membeli semuanya sekaligus. Sang hakim memuja hasil karya ini dan ia menganggap mereka sebagai harta. 

Pada tahun yang sama, Kaisar mengumpulkan upeti dan hakim distrik ini mengirimkan banyak barang berharga sekaligus menitipkan beberapa lentera berwarna ini. Diluar dugaan ternyata Kaisar sangat senang dan menerima Lentera ini sebagai upeti dan menghias seluruh Istana dengan lentera ini. Disinilah asal mula dikenalnya lentera Istana yang indah.  

2. Lentera Kasa / Shadeng / Gauze Lantern dan Lentera Gantung / Swag Lantern
Lentera kasa adalah lentera yang umum digunakan di China. Menurut legenda lentera digunakan bersama-sama saat Kaisar Langit marah akibat orang desa membunuh angsa kesayangan-Nya.

Legenda ini dimulai saat banyak sekali binatang buas yang datang menyerbu desa dan membunuh banyak orang dewasa, anak dan bahkan bayi. Sehingga penduduk desa memutuskan untuk menyerang dan membunuh semua binatang tersebut secara bersama-sama. Sialnya dalam perburuhan tersebut seekor Angsa Suci kehilangan nyawanya oleh penduduk desa sehingga membuat Kaisar Langit marah dan memutuskan untuk menghukum seluruh desa dengan mengirimkan badai api. Seorang Dewi Langit yang baik kemudian merasa kasihan kepada penduduk yang tidak bersalah akan ikut menerima hukuman dari Kaisar langit dan memutuskan untuk turun dari langit dan memberitahukan hal tersebut kepada kepala desa dan mengusulkan sebuah rencana untuk menyalakan secara bersama-sama lentera disekeliling rumah serta semua taman dan halaman bersamaan dengan penyalaan petasan dan kembang api pada tanggal 14, 15 serta 16 malam di bulan pertama Imlek, sehingga Kaisar langit melihat bahwa desa tersebut sudah mendapatkan balasan dari apa yang mereka lakukan. Sejak saat itu kemudian ini menjadi festival lantera China didesa tersebut dan merambah keseluruh China hingga hari ini.

Legenda - Legenda Lainnya :
1. Legenda Penghormatan Kaisar terhadap Ping Lu
Setelah mangkatnya kaisar Han Liu Bang, Liu Ying yang adalah putra dari Ratu Lu menjadi Kaisar. Namun posisinya yang lemah segera membuat banyak pemberontakan dan ketidaknyamanan di Istana. Ratu Lu kemudian mengambil alih dan atas keputusannya maka keluarga bermarga Liu dikurangi dalam porsi kedudukannya di istana dan memasukkan banyak marga Lu. Setelah Ratu mangkat, marga Lu menjadi takut akan pembalasan dari orang-orang yang tidak puas atas pemerintahan sebelumnya sehingga mereka berkumpul di kediaman Jenderal Lu.

Seorang bernama Liu Xiang melihat situasi ini memutuskan untuk berperang dan mengajak serta veteran Zhou Bo dan Chen Ping sehingga dapat menang dan membunuh Jenderal Lu. Setelah semuanya tenang kemudian para menteri memutuskan untuk mengangkat putera kedua Kaisar Liu Bang, yakni Pangeran liu Heng menjadi penerus. Dalam sejarah beliau dikenal dengan Kaisar Wen dari Dynasty Han.

Kaisar merasa perjuangannya merupakan perjuangan yang sangat sulit untuk mendapatkan kemenangan serta ketenangan didalam negara sehingga memerintahkan untuk kemenangan ini dirayakan sebesar-besarnya dan memunculkan tanda-tanda kebahagian salah satunya dengan Lampion berwarna. Sehingga disini kemudian menjadi asal mula festival lampion.

2. Kisah Dong Fang Shuo (东方朔) dan Yuan Xiao
Dong fang Shuo.jpg
Dong Fang Shuo
Legenda ini tidak secara langsung berhubungan dengan Festival Lantera maupun asal-usul lantera, namun lebih berhubungan dengan kebiasaan yang dilakukan saat diadakannya Festival Lentera yaitu kebiasaan memakan makanan khas Yuan Xiao. Dikisahkan Kaisar Wu dari Dynasty Han memiliki seorang menteri favorite yaitu Dong Fang Shuo yang terkenal baik hati dan humoris. Sesaat setelah menteri akan keluar dari Istana mendapati seorang wanita yang mencoba bunuh diri dengan melompat kedalam Sumur. Setelah sang menteri menyelamatkannya, wanita itu bercerita akan kesedihannya karena terpisah dari keluarganya.

Suatu hari penasihat Dong Fang Shuo pergi kejalan Chang'an dan mengatur sebuah meja ramalan sebagai sebuah trik penyelesaian masalah wanita tersebut. Namun setiap orang yang diramalnya hari itu mnedapati bahwa mereka akan terkena bencana yang dikirimkan oleh Dewa Api pada tanggal 13 pada bulan pertama. Semua orang kemudian meminta pertolongan dari Dong Fang Shuo apa yang bisa dilakukan untuk menyelamatkan mereka. Sehingga Dong Fang Shuo memberikan mereka sebuah gulungan kertas untuk disampaikan kepada Kaisar. Semua masyarakat yang berkumpul kemudian langsung berbondong-bondong ke Istana untuk menyampaikan langsung ke Kaisar tentang bencana tersebut. Setelah sang Kaisar membaca kemudian meminta petunjuk
tang yuan in the lantern festival
Tang Yuan
Dong Fang Shuo bagaimana cara menganggulanginya. Dong fang Shuo kemudian pura-pura terkejut dan mengatakan bahwa Dewa Api sangat menggemari Tang Yuan, dan bukankah sang Kaisar memiliki seorang pelayan bernama Yuan Xiao yang pintar membuatkannya untuk Kaisar? Kaisar menyetujui dan kemudian menyuruh di pelayan membuatkan beberapa Tang Yuan untuk diberikan kepada dewa Api. Saat tanggal 15 kemudian Dong Fang Shuo mengatur pada tanggal tersebut perayaan ramai serta pemasangan kembang api dan petasan sehingga membuat Kaisar berpikir bahwa Dewa Api telah datang. Seluruh kota bergembira terlepas dari bencana, demikian juga banyak orang desa yang datang ke kota termasuk keluarga Yuan Xiao. Ketika mereka melihat lentera Yuan Xiao mereka berteriak dan berlarian kearahnya untuk melepas kangen.

Karena kota Chang'An selamat, sang Kaisar memerintahkan agar setiap orang membuat Tang Yuan setiap tanggal kelima belas dalam bulan pertama lunar untuk dipersembahkan kepada Dewa Api agar semuanya selamat sentosa.

3. Kisah Yuan Shi Kai dan Festival Lentera
Dikatakan bahwa setelah revolusi di tahun 1911, Yuan Shi Kai ingin menjadi kaisar sekali lagi namun takut bila orang-orang menentangnya. Suatu hari ia mendengar orang-orang dijalan berjualan dan berteriak Yuan Xiao,dalam bahasa China Xiao dianggap kepunahan. Sehingga sebelum 1913, Yuan Shikai menurunkan Dekrit yang mengatakan bahwa perayaan festival lentera hanya boleh disebut dengan Tang Yuan dan tidak boleh disebut dengan Yuan Xiao. Namun kebanyakan masyarkat enggan dan tetap menyebut perayaan dengan Yuan Xiao.

4. Kisah Lie Cu Seng si Perampok Budiman
Sejak zaman Dinasti Han hingga Tang, lampion telah disahkan sebagai simbol penyambutan hari raya imlek. Saat dinasti Ming Zhu Yuan Chang (tahun 1368–1644 M), ribuan lampion sengaja dibiarkan mengambang di atas air ketika memproklamirkan ibu kota negara Nanjing.

Namun ada versi lain tentang sejarah lampion yang banyak beredar. Yaitu tentang sejarah lampion (Teng Lo Leng atau Teng Lung) yang dimulai pada zaman dinasti Ming. Pada waktu ada seorang perampok budiman bernama Lie Cu Seng di kota Kaifeng. Dia adalah Robin Hood di zamannya. Karena Lie Cu Seng hanya merampok orang-orang kaya pelit, dan hasil rampokannya dibagikan ke orang miskin.

Namun suatu ketika Lie Cu Seng difitnah, bahwa sebetulnya hasil rampokannya hanya dimakan sendiri. Lie Cu Seng yang menyamar sebagai rakyat jelata membuat cerita tandingan tentang kebaikan Lie Cu Seng, sang perampok dermawan. Dalam penyamarannya Lie Cu Seng juga meminta rakyat untuk memasang lampion di rumahnya. Tujuannya untuk memudahkan Lie Cu Seng membagikan hasil jarahannya kepada rakyat. Hanya rumah yang memasang lampion saja yang akan diberikan bagian.

Dan tentu saja Lie Cu Seng menepati janjinya. Malam hari Lie Cu Seng membagikan hasil jarahannya ke setiap rumah yang memasang lampion. Lama-kelamaan lampion itu digunakan sebagai bentuk penghargaan kepada Lie Cu Seng, sang perampok budiman. Sedang budaya memasang lampion pada akhir tahun baru diartikan sebagai permohonan berkah kepada para dewa.

Motif dan Hiasan Lentera China
Sedangkan Motif-motifnya pada lampion antara lainnya adalah motif Figuratif, Lansekap/Taman, Bunga, Burung, Naga, Ikan, Serangga dan kaligrafi. Selain itu juga ada yang lentera bergulir atau bisa dimainkan dengan diputar sehingga seakan-akan bercerita tentang pemandangan. Bentuknya pun bermacam-macam, ada yang berbentuk persegi, bulat serta oval. Namun yang paling terkenal adalah yang berbentuk Oval dengan hiasan Jumbai emas. Sedangkan bahan yang digunakan pun bermacam-macam tergantung dari type-nya sendiri. Ada yang berbahan bambu, kayu, rotan bahkan kawat baja sebagai frame dengan penutupnya adalah sutera dan kertas semi transparan sedangkan dekorasinya menggunakan cat, kaligrafi/tulisan indah, kertas cut our maupun bordir.

Tanggal Perayaan Festival Lentera:
2014′s Lantern Festival is in 2010/02/14.
2015′s Lantern Festival is in 2010/03/05.
2016′s Lantern Festival is in 2010/02/22.
2017′s Lantern Festival is in 2010/02/11.
2018′s Lantern Festival is in 2010/03/02.
2019′s Lantern Festival is in 2010/02/19.
2020′s Lantern Festival is in 2010/02/08.

Sumber Penulisan:
- Espesset, Grégoire (2008), "Dongfang Shuo 東方朔", in The Encyclopedia of Taoism, ed. by Fabrizio Pregadio, Routledge
- Giles, Lionel (1948), A Gallery of Chinese Immortals: Selected Biographies Translated from Chinese Sources, John Murray.
- Vervoorn, Aat (1990), Men of the Cliffs and Caves: The Development of the Chinese Eremitic Tradition to the End of the Han Dynasty, Chinese University Press
- Minford, John and Joseph Lau, eds. (2000), Classical Chinese Literature: An Anthology of Translations, Columbia University Press
- Campany, Robert Ford (2009), Making Transcendents: Ascetics and Social Memory in Early Medieval China. University of Hawaii Press.
- Chu Binjie 褚斌傑 (1992). "Dongfang Shuo 東方朔", in: Zhongguo da baike quanshu 中國大百科全書, Zhongguo wenxue 中國文學, vol 1, p. 118. Beijing/Shanghai: Zhongguo da baike quanshu chubanshe.
- "2010 Taichung Traditional Arts Festival", Taiwan News, Taichung City Cultural Affairs Bureau, 2010-02-19  

Rabu, 25 Januari 2012

Kebudayaan Mendasar Masyarakat Tionghoa - Dilihat dari aspek Kultural Spiritual

Prosesi Perayaan Cap Go Meh, Gorontalo
Sebelumnya, mungkin banyak dari kita yang mengira bahwa bicara tentang kebudayaan Tionghoa adalah membicarakan kepercayaan tradisional yang ada dalam masyarakat Tionghoa, seakan – akan kepercayaan tadilah yang membentuk kebudayaan dan cara hidup masyarakat Tionghoa selama ribuan tahun.

Sebenarnya, kepercayaan tradisional hanyalah sebagian kecil dari kebudayaan Tionghoa itu sendiri, namun kepercayaan tradisional yang terbentuk dari kebudayaan leluhur masyarakat Tionghoa sejak zaman pra-sejarah kemudian menjadi salah satu tulang punggung transformasi kebudayaan Tionghoa selama ribuan tahun dalam sejarahnya. Jadi dapat dikatakan, kepercayaan tradisional ini muncul dari kebudayaan dan merupakan bagian darinya dan dalam perkembangannya juga mempengaruhi bentuk kebudayaan dan segala transformasinya.

Tulisan ini sendiri terjadi karena banyaknya masyarakat yang melakukan adat istiadatnya tanpa mengetahui asal – usulnya atau bahkan mempertanyakan kenapa hal – hal tersebut dilakukan. Mudah – mudahan dengan adanya tulisan ini, dapat membantu mencerahkan sedikit kebingungan dan menjawab pertanyaan – pertanyaan kita. Dan apabila memungkinkan, tambahan koreksi yang bersifat membangun dapat menambah pengetahuan kita bersama pada terbitan berikut. Mudah2an sedikit tulisan ini dapat memperkaya koleksi `rsip tentang kebudayaan Tionghoa yang memang sangat minim di Indonesia.

Perlu diingat bahwa ada kemungkinan tulisan yang saya susun berdasarkan sumber-sumber yang ada hanyalah legenda, namun dilain pihak ada beberapa poin penting yang memang ada secara konkrit dan merupakan fakta. Demikian pula dalam kisah-kisah legenda ada banyak hal yang merupakan fakta kemudian ditambahkan sedemikian rupa baik dari isi maupun cerita untuk lebih bisa dimikmati pada jamannya dan kemudian baru di otentik kan pada jaman berikutnya dalam rupa tulisan, teater dan sebagainya. Misalkan cerita Hercules di Yunani atau Gatotkaca di Indonesia serta banyak kisah dibawah ini yang kedengarannya sulit dipercaya di jaman sekarang.

Bedanya adalah budaya Tionghoa kemudian sebagian dijadikan sebagai pegangan dalam kesehariannya hingga kini sebagian besar tidak lagi dapat dibedakan antara bagian mana yang merupakan Legenda dan bagian mana yang berupa Fakta. Apalagi, sama seperti bangsa lainnya di dunia, di jaman kekaisaran kuno Tiongkok banyak mempercayai kisah-kisah misteri yang mencampurkan antara tahyul dan fakta.

Sehingga dalam mebaca tulisan saya berikut, diharapkan pembaca bisa bijaksana untuk memahami dengan pertimbangan sendiri bahwa Legenda inilah yang menjadi cikal bakal asal usul adat istiadat Tionghoa saat ini. Mungkin di jaman ini banyak yang terlihat janggal dan aneh, namun demikian banyak pula yang merupakan fakta sebenarnya yang dibumbui pada jamannya untuk menjadi lebih menarik dinikmati. Saya secara pribadi mempercayakan sepenuhnya kepada pembaca untuk bijaksana dalam berargumen dan menikmati kisah-kisah legenda abadi ini layaknya banyak hal didunia ini yang belum bisa dijawab secara akal ilmu pengetahuan.

Akhir kata, selamat menikmati perjalanan anda untuk menelusuri kembali asal-usul penting sebuah budaya Bangsa Tionghoa.

Kepercayaan Masyarakat Tionghoa

Sejarah kebudayaan Tionghoa seperti kebudayaan kuno lainnya juga dimulai dengan mitologi – mitologi. Di zaman dahulu kala, leluhur orang Tionghoa mulai menuliskan pandangan mereka terhadap alam semesta ini. Mereka menganggap bahwa sebelum dunia ini terbentuk, langit (Tian) dan bumi (Di) merupakan satu kesatuan yang disebut dengan keadaan tidak berbentuk atau chaos (Hun Dun). 18 ribu tahun kemudian, seorang bernama Pan Gu (Cerita Legenda) mulai memisahkan langit dan bumi. Setiap hari, langit bertambah tinggi 3.3 meter, bumi bertambah tebal 3.3 meter dan Pan Gu bertambah tinggi 3.3 meter. Demikian seterusnya 18 ribu tahun berlalu dan langit telah sangat tinggi, bumi telah sangat tebal. Setelah Pan Gu wafat, anggota tubuhnya kemudian menjadi matahari dan bulan, gunung dan laut, sungai dan danau. 

Inilah yang disebut sebagai legenda Pan Gu memisahkan langit dan bumi (Pan Gu Kai Tian Di) dan Pan Gu juga mendapat gelar Raja Langit Pertama (Yuan Shi Tian Wang). Jadi, sebenarnya juga ada mitologi penciptaan di dalam kepercayaan tradisional Tionghoa, cuma Pan Gu adalah tetap merupakan sosok manusia yang kemudian menjadi tokoh legendaris yang tidak pernah di-Tuhan-kan.

Di kemudian hari, dalam mitologi bangsa Tionghoa juga ada tokoh legendaris Nu Wa yang dikenal sebagai ibu pertama dari bangsa Tionghoa menciptakan manusia dan menambal langit yang bocor. Fu Xi yang mengajarkan cara membuat jala dan menangkap ikan, beternak dan berburu, menciptakan Ba Gua (8 diagram) dan Shen Nung yang mengajari cara bertani, ahli obat2 tradisional dan memperkenalkan minuman teh.


Di masa ini, leluhur orang Tionghoa menganggap bahwa alam semesta ini terbagi atas 2 bagian yaitu langit dan bumi. Namun sampai pada munculnya Taoisme dan masuknya Buddhisme ke Tiongkok, bagian alam semesta tadi berkembang menjadi yang sekarang kita kenal yaitu 3 bagian yang terdiri dari alam Langit (Tian Jie), alam Bumi (Ming Jie) dan alam Baka (You Jie). Dan dalam perkembangannya akhirnya lahir aliran yang disebut sebagai Tri-Dharma (Sam Kau = hokkian, Shan Jiau = mandarin) yaitu gabungan antara Taoisme, Konfusianisme dan Buddhisme. 

Pada dasarnya, ada beberapa orang yang mengartikan Tri-Dharma sebagai kepercayaan tradisional yang telah ada jauh sebelum agama eksis dan merupakan bagian dari budaya (sinkretisme budaya), dan masing – masing saling mempengaruhi bentuk dan transformasi ketiga agama tadi dalam batas – batas tertentu. Dan ada pula yang mengatakan, di zaman dulu, ada atau tidaknya agama leluhur orang Tionghoa, mereka tetap akan memegang teguh kepercayaan tradisional ini.

Konsep Tiga Alam

Konsep tiga alam adalah inti dari kepercayaan tradisional Tionghoa. Leluhur orang Tionghoa percaya bahwa tiga alam ini mempunyai peranannya masing – masing dalam menjaga keseimbangan alam semesta ini. Ketiga alam ini tidak dapat dipisahkan dan berdiri sendiri tanpa kedua alam lainnya. 

Alam Langit (Tian Jie) adalah menunjuk pada alam yang didiami dan menjadi tempat kegiatan para raja – raja Langit (Tian Wang) dan dewa-dewi langit (Tian Shen). Alam ini dianggap sebagai pusat pemerintahan alam semesta, yang mengatur seluruh kehidupan di alam bumi. Orang – orang besar yang berjasa di bidangnya masing2 terhadap masyarakat Tionghoa di zamannya (dipercaya) dapat naik menjadi dewa-dewi di alam Langit. Nenek moyang dalam mitologi seperti Nu Wa, Fu Xi dan Shen Nung serta kaisar – kaisar legendaris seperti Yao, Xun dan Yu adalah bertempat tinggal di sana bersama dengan dewa-dewi pejabat pemerintahan langit lainnya yang akan diterangkan lebih lanjut dalam bagian yang lain. 

Alam Bumi (Ming Jie) adalah menunjuk pada bumi tempat kita berada, yang menjadi tempat tinggal dan tempat kegiatan dari seluruh makhluk hidup. Dewa-dewi dan pejabat di alam Langit (dianggap) bertanggung jawab melaksanakan tugas pemerintahan mereka di alam Bumi. Juga disebut sebagai Yang Jian atau pun Ren Jian. 

Alam Baka (You Jie) adalah menunjuk pada alam di bawah bumi ataupun alam sesudah kematian, yaitu alam yang menjadi tempat domisili dan kegiatan dari roh (Ling) dan hantu – hantu (Gui) dari manusia setelah meninggal dunia. Di alam ini, (dipercaya) ada sekelompok dewa dan pejabat alam yang khusus memerintah di alam ini. Dalam kepercayaan tradisional, leluhur orang Tionghoa mempercayai bahwa kehidupan setelah meninggal adalah lebih kurang sama dengan kehidupan manusia di dunia ini. Di alam ini, setiap orang akan menjalani pengadilan yang akan membawa kepada hadiah maupun hukuman dari dewa dan pejabat di alam ini. Alam Baka keseluruhan berjumlah 10 Istana Yan Luo (Shi Dian Yan Luo) dan 18 Tingkat Neraka (Shi Ba Ceng Di Yu). 

Dalam perkembangannya, kepercayaan mengenai alam Baka ini kemudian terpengaruh oleh konsep reinkarnasi dari Buddhisme yang ditandai dengan kepercayaan bahwa roh yang hidup di alam Baka kemudian akan terlahir kembali ke dunia sebagai manusia setelah lupa akan kehidupan sebelumnya dengan meminum sup Meng Po dan melewati jembatan Nai He. Perbedaan yang mendasar adalah bahwa kepercayaan tradisional ini menganggap manusia hanya akan terlahir kembali sebagai manusia dan tidak sebagai makhluk lainnya.

Hubungan dan Interaksi Antar Tiga Alam Alam Langit, alam Bumi dan alam Baka adalah mempunyai hubungan satu sama lain dan dapat berinteraksi di antaranya. Kepercayaan leluhur orang Tionghoa bahwa ada kehidupan setelah kematian, seseorang yang telah meninggal akan menjadi roh (Ling) ataupun hantu (Gui). 

Roh ini terbagi atas roh yang baik dan jahat. Roh yang dihormati dan dikenang oleh keturunannya sehingga dapat menjaga, melindungi dan membawa berkah pada keluarga anak cucunya adalah roh leluhur yang baik. Sedangkan roh yang tidak mendapat penghormatan, perlakuan layak dan wajar oleh keturunannya ataupun yang meninggal secara tidak wajar biasanya merupakan roh yang jahat. Roh yang jahat inilah yang biasanya kita kenal dengan sebutan hantu. 

Namun, tidak semuanya akan menjadi roh ataupun hantu. Ada tokoh tertentu yang berjasa dan berkontribusi besar bagi masyarakat, kebudayaan dan negara dipercaya akan naik derajatnya menjadi dewa-dewi yang patut dihormati masyarakat luas untuk mengenang dan menghormati jasa mereka. Banyak dari dewa-dewi leluhur orang Tionghoa yang sebenarnya merupakan tokoh sejarah yang benar – benar pernah hidup pada masanya dan bukan cuma legenda atau mitologi. Masing – masing dewa-dewi tersebut mempunyai peranan dan kelebihan masing – masing pula. seperti Guan Gong (nama asli Guan Yun-chang) yang hidup masa Dinasti Han akhir (Tiga Negara) dipuja sebagai Dewa Perang yang melambangkan kekuatan dan kesetiaan, lalu Ma Zhu Niang-niang (nama asli Lin Mo-niang) yang hidup di zaman Dinasti Sung yang dipuja sebagai Dewi Samudera yang melambangkan bakti seorang anak kepada orang tuanya. 

Dari semua bentuk interaksi ini, yang paling nyata dan penting dalam kepercayaan tradisional ini adalah upacara merayakan ulang tahun dewa-dewi (Wei Shen Zuo Shou) dan membantu roh untuk terbebas dari penderitaan (Ti Gui Cao Sheng, dalam agama tertentu dapat disamakan dengan pelimpahan jasa). Kedua upacara ini biasanya diselenggarakan bersamaan pada hari ulang tahun dari dewa-dewi tersebut. Semua ini dilakukan demi penghormatan kepada dewa-dewi dan roh – roh yang dianggap dapat mempengaruhi kehidupan manusia di dunia ini. Bentuk – bentuk ritual kepercayaan ini sangat berbeda antara satu tempat dengan tempat lainnya. Namun di dalam perbedaan tersebut, persamaannya masih tetap lebih menonjol karena dewa-dewi yang dipuja dan inti dari penghormatan tersebut adalah sama hakikatnya.

Pengertian Dewa

Dewa adalah sebuah ‘Sebutan’ posisinya hampir serupa dengan sebutan lain seperti misalnya ‘Sarjana’. Sebutan ini diberikan kepada ‘Sosok’ yang telah sukses dalam mencapai ‘Kesempurnaan’ hidup secara menyeluruh. (Baca: Spiritual)

Dalam bahasa aslinya Dewa disebut ‘Shen Sian’, merupakan sebutan yang mewakili Dewa-Dewi secara menyeluruh. Dimana jika dibedakan lagi, akan terdapat 2 kelompok Dewa yaitu:

Kelompok Dewa yang disebut ‘Shen’. Kelompok ini terkesan ‘Formal’, (mungkin) seperti pejabat militer. Contohnya antara lain: Dewa Kwan Kong.

Kelompok Dewa yang disebut ‘Sien / Xian’. Kelompok ini terkesan ‘Santai’, (mungkin) seperti pejabat sipil. Contohnya antara lain Pat Sian / Delapan Dewa.

Sebenarnya kedua kelompok tersebut sama saja, manusia ‘melihat’ ada perbedaan lalu menyebutnya berbeda.
Selain itu Dewa-Dewi juga digolongkan menjadi 2 kelompok yaitu:

Dewa-Dewi Sien Thien. Maksudnya adalah Dewa-Dewi yang tidak diketahui sejarahnya. Dan mungkin sekali keberadaannya sudah ada jauh sebelum adanya peradaban manusia, atau bahkan (dipercaya) sudah ada jauh sebelum bumi tercipta. Contohnya antara lain: Yi Vang Ta Ti (Tien Kung), Ciu Thien Sien Nie dll.

Dewa-Dewi Hou Thien. Maksudnya adalah kelompok Dewa-Dewi yang berasal dari manusia yang (dianggap) telah mencapai kesempurnaan. Karenanya seringkali Beliau memiliki catatan otentik kehidupan saat menjadi manusia. Contohnya antara lain Pat Sian, Tien Sang Shen Mu. Juga legenda Hakim Bao yang menjadi Hakim Neraka.

Dalam perkembangannya Agama Rakyat tercampur dengan ajaran Buddha. Sehingga kadang umat Klenteng mencampur adukkan antara Shen Sien yang diterjemahkan sebagai Dewa dengan deva, yaitu makhluk yang hidup di alam surga menurut ajaran Buddha. Apalagi deva juga diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia menjadi dewa. Padahal sebenarnya pengertian antara Shen Sien dengan deva tidaklah sama.

Untuk bisa mencapai tingkat Shen Sien, maka manusia harus Membina Diri untuk mencapai kesempurnaan yang targetnya antara lain:
§ Mencapai kesempurnaan Fisik.
§ Mencapai kesempurnaan batin / kesadaran dengan mencapai Pencerahan.
§ Mencapai kesempurnaan Sukma dengan mencapai Keabadian.
§ Memupuk perilaku Kebajikan, menjadi manusia Bijaksana.

Selain itu ada lagi target akhirnya yaitu ‘Tien Ren Hek Yi’ atau ‘kembali’ ke Wu Chik. Sedangkan agar ‘terlahir’ di alam surga menjadi deva (dipercaya) "targetnya" tidaklah selengkap hal diatas. Selain itu ada lagi sosok yang ‘menjadi’ Dewa karena ‘didewakan’, namun ini adalah suatu persoalan tersendiri.
 
Asal Usul Dewa-Dewi Dalam Kepercayaan Tradisional Tionghoa

Secara garis besar maka jenis – jenis dewa-dewi yang dipuja dalam kepercayaan tradisional ini berdasarkan asal usulnya adalah :
  • Bentuk penghormatan kepada alam (Ze Ran Chong Bai)
Kategori ini termasuk dewa-dewi yang paling awal karena telah ada sejak zaman dahulu kala jauh sebelum munculnya penghormatan jenis lainnya. Karena di zaman dulu, alam merupakan tantangan keras bagi leluhur bangsa Tionghoa untuk bertahan hidup, maka leluhur bangsa Tionghoa berusaha hidup harmonis dalam kerasnya alam. Catatan yang perlu diingat adalah sebagian dari Dewa jenis ini memiliki history sebagai manusia yang pada masa hidupnya adalah merupakan manusia biasa, pejabat bahkan Raja yang semuanya pernah berjasa bagi masyarakat dan dikagumi. Dewa-dewi dari jenis penghormatan ini misalnya :
    • Yu Huang Da Di = Raja Langit, merupakan bentuk penghormatan pada langit.
    • Fu De Zheng Shen (Tu Di Gong atau Tho Te Kong) = Dewa Bumi/Tanah, merupakan penghormatan pada bumi.
    • Wu Lei Yuan Shuai (Lei Gong atau Li Kong) = Dewa Petir, merupakan penghormatan pada petir.
    • Dan masih banyak lagi
  • Bentuk penghormatan kepada leluhur (Zu Xian Chong Bai) Kategori ini muncul setelah adanya pengaruh Konfusianisme yang sangat menekankan pentingnya penghormatan kepada leluhur, terutama yang berjasa dan berkontribusi bagi orang banyak. Bila tidak ada leluhur, tentu kita tidak akan berada di sini sekarang.
  • Dewa-dewi bentuk penghormatan terdiri dari tokoh-tokoh sejarah besar, tokoh-tokoh mitologi yang dianggap sebagai leluhur jauh maupun dekat, misalnya :
    • Tokoh2 sejarah : Kaisar pra-Dinasti Xia seperti Yao, Shun dan Yu.
    • Kong Zi Gong = Konfusius/Khonghucu, lambang kebijakan.
    • Fo Zu = Buddha Sakyamuni/Hud Cho.
    • Tai Shang Lao Jun = Lao-tse.
    • Guan Sheng Di Jun = Kwan Kong, lambang kesetiaan.
    • Bao Gong = Bao Zheng/Hakim Bao, lambang keadilan.
    • Tian Shang Sheng Mu = Ma Zu/Ma Cho, lambang bakti anak terhadap orang tua.
  • Tokoh mitologi (Dalam pengertian belum ditemukan bukti otentik bahwa tokoh-tokoh ini pernah hidup sebagai manusia) :
    • Yuan Shi Tian Wang = Pan Gu, tokoh mitos penciptaan alam semesta.
    • Nu Wa Niang Niang = Nu Wa, tokoh mitos penciptaan manusia.
    • Qi Tian Da Sheng = Sun Go Kong, tokoh mitos dalam cerita Perjalanan ke Barat (Xi You Ji).
    • Xuan Yua Shi = Huang Di, kaisar purba di abad 27 SM.
    • Wu Ke Da Di = Shen Nung, ahli pertanian dan obat tradisional.
  • Bentuk lain – lain (Shu Wu Chong Bai) Kategori ini adalah bentuk penghormatan yang tidak termasuk ke dalam kategori di atas. Misalnya :
    • Men Shen = Dewa Pintu.
    • Zao Jun = Dewa Dapur.
Bila diperhatikan, maka hampir semua dari dewa-dewi yang ditinggikan di dalam kepercayaan tradisional ini adalah dimanusiakan tanpa memandang bentuk asalnya. Ini terutama terlihat dalam bentuk penghormatan pada alam maupun bentuk – bentuk lain. Namun apapun bentuk yang ditunjukkan (patung, papan nama penghormatan dan lain – lainnya), yang dipuja dan dihormati tentu bukan bentuk real darinya. 

Jadi yang perlu diingat adalah yang dilakukan dalam kepercayaan tradisional ini bukanlah memuja sang patung ataupun papan tadi, namun adalah memuja dan menghormati dewa-dewi yang bersangkutan beserta kebajikan dan panduan hidup mereka.

Asal Usul Dewa-Dewi Dalam Perkembangannya pada Peribadatan Beragama Masyarakat Tionghoa

Seringkali kita melihat prosesi gotong Toapekong, orang yang sujud berdoa, bertanya dengan ciamsie dan lain-lain. Pemandangan ini dapat kita lihat di kelenteng-kelenteng. Pada kenyataannya, semua yang kita lihat itu hanya permukaan dari kepercayaan orang Tiongkok, permukaan itu mengandung pemahaman yang luas dan berisi makna filosofis yang mendalam. Makna dan pemahaman itu tidak dapat kita lihat atau pahami seperti kita hanya melihat patung-patungnya atau prosesinya.

Ketika kita melihat seorang nenek tua yang dengan sujud bersembayang, pasti ada banyak orang yang tidak mengerti beranggapan bahwa nenek tua itu percaya tahayul, menyembah berhala, tidak berpendidikan, kuno dan sebagainya. Tapi seandainya kita merenungkan lebih mendalam, nenek tua yang begitu bersujud tentunya keyakinan yang timbul dari hatinya sendiri dan ada pengharapan serta keyakinan yang teguh dan kuat. Tidak perduli keyakinan, pengharapan itu bersifat psikologis atau tidak, bagi saya nenek tua itu sedang mencari ketenangan dan rasa aman dari dewa dewi yang ia yakini.

Dalam memandang masalah dewa dewi ini diperlukan suatu bentuk toleransi yang besar sehingga cara memandang kita akan menjadi berbeda dan kita bisa hayati betapa dalamnya makna filosofis yang terkandung didalamnya serta betapa berharganya kepercayaan masyarakat itu. 

Disini penulis bersikap netral, Tapi disisi lain saya mencoba untuk menghormati dewa dewi Tiongkok yang merupakan bagian dari budaya Tionghoa dan pada perkembangannya telah melewati batasan-batasan keagamaan. 

Diatas kita telah mengenal pemilahan dewa dewa Tiongkok. Disini kita mencoba melihat apa yang sebenarnya dipikirkan masyarakat jaman itu dari unsur psikologi dan filosofis yang kemudian membuat Dewa dan Dewi Tionghoa dipuja dan dihormati. 

Jaman dahulu , orang Tiongkok memiliki peribahasa , "Pintar dan jujur adalah Shen" Banyak tokoh-tokoh jaman purba menjadi Shen (diangkat oleh masyarakat dan kerajaan) karena jujur, berjasa, pintar. Yang termasuk kategori ini amat banyak sekali. Bahkan dapat dikatakan bahwa disini Taoism menyerap banyak dewa-dewa rakyat, walau tidak semua diserap. Confuciusm bahkan sampai sempat membuat pendaftaran dewa-dewa rakyat yang pantas dan tidak pantas dihormati karena sangat banyaknya. Pendataan terakhir yang dilakukan oleh Confuciusm adalah pada masa dinasti Qing. 

Orang Tiongkok juga beranggapan manusia mati menjadi Gui atau Shen (Gui = Setan dan masuk neraka, Shen = Dewa dan masuk Surga, ibaratnya sama seperti agama umumnya yang kita kenal beserta para nabi-Nya). Yang menjadi gui maka akan kedalam bumi. Perbedaannya disini dengan pemikiran barat, tidak selalu gui itu jahat dan mencelakakan. Dalam pemikiran rakyat Tiongkok kuno, ada 2 tempat dasar bumi bagi mereka yang meninggal. Tai Shan & Feng Du merupakan 2 tempat tersebut. 

Setelah mengenal jenis-jenis dewa dalam pandangan Taoism, disini saya mencoba menjelaskan makna dan perkembangan bagi masyarakat.

Dalam menjelaskan hal-hal tersebut diatas, saya tidak membahas masalah tingkatan 36 surga, tingkatan dewa-dewi, perbedaan shen dan xian. Karena jika hal tersebut diuraikan bisa terlalu panjang dan masih butuh penelitian lebih lanjut. 

Pada prinsipnya fungsi dan makna dewa-dewi Taoism tidak berbeda jauh dengan dewa-dewi Buddhism. Perlu kita ketahui bahwa dalam perkembangan cerita dewa-dewi Tiongkok agak berbeda dengan dewa-dewi Yunani. Sepanjang pengetahuan saya, cerita dewa-dewi Yunani kebanyakan adalah dewa yang sering mempermainkan manusia, menikahi manusia dan bersenang-senang. Sedangkan dewa dewi Tiongkok adalah dewa yang membantu manusia,misalnya Nu Wa. Ada pula tokoh yang berkorban untuk membantu orang lain, misalnya Huang Da Xian atau Huang ChuPing. Ada pula yang mengajarkan kebenaran bagi masyarakat, misalnya Zhao Jun. 

Dalam perkembangannya, ada pendapat yang mengatakan bahwa Dewa – dewi tersebut di sembah untuk mengingatkan kebajikan yang pernah mereka lakukan. Hal ini dibagi dalam beberapa bagian fungsi. Antara lain :
  • Fungsi sebagai sarana untuk mengajarkan kebajikan Mengajarkan kebajikan adalah salah satu pilar dari semua agama. Tiada agama yang tidak mengajarkan kebajikan. Disini dalam perjalanan sejarah Tridharma (saya menyingkat ke 3 agama menjadi Tridharma agar lebih mudah) di Tiongkok menyerap dewa-dewi sebagai salah satu sarana untuk mengajarkan kebajikan. Kebanyakan kisah-kisah dewa memiliki makna kebajikan yang mendalam. Misalnya Zhang Fu De atau Fu De Zheng Shen, Mu Jian Lilan
  • Dewa-dewi sebagai penolong Selain sebagai pengajar kebajikan , banyak dewa-dewi adalah penolong manusia dan segala mahluk. Baik dari segi mitos maupun fakta sejarah. Cara menolongpun berbeda-beda.
  • Menolong yang sakit dan meninggal. Tokoh pengobatan Sun Se Mao dikenal sebagai orang yang memiliki ilmu pengobatan yang tinggi sekali , bahkan pernah menolong seorang bayi dalam kandungan ibunya yang telah meninggal 1 minggu. Beliau digelari sebagai Yao Wang. Wu Ben yang juga sebagai tokoh pengobatan digelari Bao Sheng Da Di. Dalam Buddhism juga mengenal Bhaisajyaguru Buddha. 3 kaisar purba yaitu Fu Xi, Shen Nong dan Huang Di masuk dibanyak kategori dimana salah satunya adalah sebagai penolong bagi yang sakit dan meninggal. 

  • Membasmi kejahatan dan memakmurkan masyarakat. Banyak dewa-dewi merupakan pembasmi siluman atau setan yang mengganggu rakyat. Misalnya Zhang Dao Ling atau Zhang Tian Shi, Kim kong , Zhong Tan Yuan Shuai. 

  • Menyebarkan kebajikan, menolong orang yang menderita, menolong yang kekurangan. Dewa-dewanya seperti Ji Gong, Dan Yang Zhen Ren,Bao Qing Tian. 

  • Menolong mereka yang telah meninggal, roh-roh gentayangan, roh- roh penasaran, menyadarkan roh-roh yang tersesat. Bagi keluarga yang ditinggalkan oleh yang dikasihi tentunya memerlukan suatu bentuk keyakinan kemanakah perginya, siapa yang membantu mereka, bagaimana seandainya orang jahat yang meninggal, siapa yang membantu mereka yang berada dineraka dan lain-lain. Berbeda dengan pemahaman agama lain, dewa-dewi Tiongkok percaya bahwa roh-roh jahat juga bisa disadarkan, mereka yang terjebak dalam neraka bisa ditolong dan diangkat ke surga dengan bantuan para dewa. Jadi dalam pemikiran rakyat Tiongkok, neraka bukanlah bentuk yang abadi dan tidak ada penyelamat. Istilah populer dalam Buddhism adalah "Kalau bukan Aku yang ke neraka menyelamatkan mereka yang menderitai siapa lagi", "Aku tidak akan memasuki nirvana selama neraka masih penuh." Taoism juga mengenal tokoh-tokoh seperti Buddhism itu, misalnya Tai Yi Jiu Ku Tian Zun, Dong Yue Da Di. Ksitigarbha Bodhisatva.

  • Fungsi sosial masyarakat dan moralitas. Masyarakat yang mengenal makna-makna yang terkandung dibalik dewa- dewi tentunya akan mengetahui hukum karma, tidak berbuat jahat, percaya dengan berbuat kebajikan akan menuai buah yang baik, memiliki sifat welas asih, menghargai tokoh-tokoh yang berjasa, menghargai para leluhur yang dengan kebajikannya menjadi dewa. Mereka juga tidak perlu takut menghadapi kematian karena dewa-dewanya akan menolong mereka memberi ketenangan dan rasa yakin dari misteri dibalik pintu kematian. Secara umum, orang Tionghua tidak begitu perduli akan dunia kematian, karena mungkin telah tertanam dalam pikiran mereka bahwa dengan berbuat baik maka surga berada ditangannya.
  • Bodhisatva Bodhisatva merupakan dewa yang amat sangat banyak dipuja oleh orang-orang Tionghua, terutama Avalokitesvara Bodhisatva yang dipercaya menolong manusia dan welas asih. Selain itu masih ada bodhisatva lainnya seperti Ksitigarbha bodhisatva, Manjusri Bodhisatva, Maha Cundi Bodhisatva dan lain-lain. Rata-rata bodhisatva memiliki metta karuna untuk menyelamatkan segala mahluk.
  • Pelindung Dharma. Dewa pelindung dharma kadang suka rancu menjadi bodhisatva. Qie Lan Pu Sa yang sering disebut orang, padahal merupakan kumpulan dari 18 shan shen. Lebih tepat menyebutnya Qie Lan Shen. Figur Qie Lan dalam Buddhisme Tiongkok adalah tokoh pahlawan terkenal Guan Yun Zhang. Qie Lan Shen adalah pelindung umat Buddhism. Yang lain adalah Wei Tuo Shen atau kadang sering disebut Wei Tuo Pusa, Wei Tuo Tian. Dipercaya Beliau merupakan pelindung vihara. Selain yang diatas masih ada lagi yang disebut Tian Long Ba Bu, tapi ingat yang dimaksud Tian Long Ba Bu itu bukan cerita silat karangan Jin Yong. 
Demikianlah sedikit yang bisa saya bagikan dalam penelusuran kebudayaan asal usul kepercayaan masyarakat Tionghoa. Mungkin ada banyak diantara rekan sekalian yang bingung dan tadinya tidak memahami arti dalam setiap langkah peribadatan yang dilakukan. Yang perlu diingat adalah setiap manusia baik dijaman dulu maupun saat ini butuh tempat untuk berpegang. 

Setiap manusia berpegang pada apa yang dia percaya, dengan percaya kepada kebaikan, kejujuran, kesetiaan dan keadilan, masyarakat Tionghoa percaya bahwa dirinya bisa "tertolong" bisa "terselamatkan". Pada dasarnya ini sama dalam semua ajaran, bahwa kita mempercayai kebaikan. Kepercayaan ini sendiri tidak membuat masyarakat Tionghoa yang "mengerti" mengagungkan lainnya dan tidak berdoa kepada Tuhan. Thian Kung (Tuhan) dalam kepercayaan masyarakat Tionghoa adalah pusat dari segalanya. Dengan mengerti hal ini maka kitapun lebih paham mengapa saat masyarakat Tionghoa berdoa selalu memulai dari depan yakni ke hadapan Thien Kung dan kemudian baru bersujud kepada Shen Sian untuk menghormati dan mengagumi serta meneladani apa yang Beliau ajarkan.

Semoga dengan ini semua masyarakat Tionghoa lebih mengerti dan tidak tercebur pada kesalahan pemahaman yang akhirnya membuat salah kaprah dan perbuatan yang keliru. Dengan demikian asal usul serta adat istiadat tidak hilang karena pemikiran yang keliru.

Sumber Penulisan : 
- Li Xiaoxiang,"Origins of Chinese People and  Customs 
- Seminar "Budaya Tionghoa di Indonesia" oleh Madame Claudine Salmon & Myra Sidharta 21 Oct'11
- Confucius, 1967, Li Chi: Book of Rites, trans. James Legge, New Hyde Park: University Book
- Jung, Hwa Yol, 1981, “The Orphic Voice and Ecology” in Environmental Ethics, Vol. 3, pp. 329-340
- Kohr, Gary, 2201, “Environmental Chi –Feng Shui” in Living Chi: The Ancient Chinese Way to Bring Life Energy and Harmony into Your Life, Boston: Tuttle Publishing
- Lao Tzu, 1995, Tao Te Ching: The Book of Meaning and Life, trans. H.G. Oswald, New York:
Penguin Books
- Lie Tek Tjeng, 1983, Studi Wilayah Pada Umumnya, Asia Timur Pada Khususnya, Bandung: Penerbit Alumni
- Pound, Ezra, 1969, Confucius: The Graet Digest, The Unwobbling Pivot, The Analects, New York: New Direction Publishing Corporation