Jumat, 18 Juni 2010

Ba Tzang (Festival Musim Panas)


Ba Tzang (chinese rice dumplings) atau dalam dialek mandarin disebut zongzi adalah makanan tradisional dari Tiongkok, terbuat dari beras ketan dengan aneka variasi isian, dibungkus dengan daun bambu lalu dikukus hingga matang.
Dalam istilah cantonese makanan ini disebut joong, sedangkan dalam dialek Minnan, makanan ini disebut tzang. Karena seringkali berisi olahan daging babi, maka makanan ini lebih dikenal dengan istilah ba tzang.

Awal Mula Zongzi


Zongzi biasanya dihidangkan pada tradisi perayaan Duanwu (Festival Perahu Naga / Dragon Boat Festival) yang jatuh pada tanggal lima bulan ke lima Imlek untuk memperingati wafatnya Qu Yuan, seorang penyair dari jaman kerajaan Chu (sekarang berada di propinsi Hubei) yang hidup pada masa perang saudara. Dikenal dengan jiwa patriotismenya, Qu Yuan mencoba tanpa hasil memperingatkan kaisar dan para pejabat bahaya ekspansi dari kerajaan Qin yang masih bertetangga.

Ketika jenderal kerajaan Qin bernama Bai Qi akhirnya berhasil menguasai Yingdu, ibukota kerajaan Chu pada tahun 278 SM, Qu Yuan melompat kedalam sungai Miluo setelah menuliskan puisi Äi Yǐng (Lament of Ying – berisi ungkapan rasa cemas dan khawatir Qu Yuan menghadapi peperangan ditanah airnya yang sudah ada didepan mata. Puisinya mengekspresikan perhatian dan kekhawatiran yang mendalam akan masa depan tanah airnya, rasa kasihan terhadap masyarakat dan rasa geramnya terhadap para pemimpin negeri yang hanya memikirkan diri sendiri dan membiarkan tragedi tersebut terjadi).

Menurut legenda, orang – orang yang mencoba menyelamatkannya melemparkan bungkusan nasi kedalam sungai untuk memberi makan ikan agar tidak memangsa tubuh sang penyair.

Memasak Zongzi

Zongzi biasanya berbentuk tetrahedral atau silindris. Seni membungkus zongzi benar – benar berupa ketrampilan tersendiri yang diajarkan turun temurun dalam keluarga, demikian pula resepnya. Kegiatan membuat zongzi dulunya adalah kegiatan bersama seluruh keluarga, tapi sekarang sudah semakin jarang.

Zongzi biasanya dibungkus dengan daun bambu, namun jika tidak tersedia, seringkali daun teratai, pisang, kelapa atau daun lainnya dapat juga digunakan sebagai pengganti. Masing – masing daun tersebut memberikan aroma khas pada masakan ini.

Bahan isiannya beraneka ragam tergantung daerah masing – masing, namun beras yang digunakan biasanya adalah beras ketan. Isiannya bisa berupa pasta manis yang terbuat dari aneka kacang – kacangan, atau bisa juga berupa masakan daging babi merah, sosis, jamur shiitake, telor asin, udang atau biji kenari. Beberapa jenis zongzi dibuat tanpa isian sama sekali dan dihidangkan dengan sirup atau gula.

Untuk memasaknya, zongzi harus dikukus selama beberapa jam lamanya tergantung bagaimana beras dan bahan isian yang dipakai dipersiapkan sebelumnya. Setelah matang, zongzi juga dapat disimpan lama dalam lemari pendingin untuk dihidangkan sewaktu – waktu. Karena proses memasak yang sangat lama, seringkali zongzi gagal dibuat karena tergesa – gesa diangkat dari kukusan. Ada kepercayaan lama yang mengatakan bahwa zongzi akan gagal dimasak apabila ada wanita hamil memasuki dapur pada saat zongzi sedang dikukus !

Sumber Tulisan :

1. http://community.siutao.com/showthread.php/2570-Ba-Tzang
2. Cerita turum temurun masyarakat Tionghoa Indonesia

Minggu, 11 April 2010

Hakim Jujur Bao Zheng (包拯)


Bao Zheng (Chinese: 包拯; pinyin: Bāo Zhěng), biasa dijunjung dengan gelar kehormatan Xiren 希仁, atau Xiaosu 孝肅 (999–1062). Hakim Bao adalah orang yang paling dihormati karena kejujurannya dan kehebatannya untuk menjunjung keadilan. Beliau mengabdikan hidupnya pada zaman kaisar Renzong di jaman dinasti Song tepatnya Song utara. Karena kejujurannya menjunjung keadilan, sampai saat ini beliau dinobatkan sebagai simbol keadilan, dan bukan hanya di China saja, bahkan diseluruh dunia.

Asal - Usul Hakim Bao

Bao dilahirkan dalam keluarga sarjana di Luzhou (sekarang Hefei, provinsi Anhui). Kehidupan awalnya banyak mempengaruhi kepribadiannya. Orang tuanya walaupun hidup pas-pasan, namun masih sanggup menyekolahkannya dengan baik.

Ketika sedang mengandungnya, ibunya sering turun naik gunung untuk mengumpulkan kayu bakar. Di kampungnya dia banyak berteman dengan rakyat jelata sehingga dia mengerti beban hidup dan masalah mereka. Hal ini membuatnya membenci korupsi dan bertekad untuk menegakkan keadilan dan kejujuran. Orang yang berpengaruh besar pada kehidupannya adalah Liu Yun, seorang pejabat kehakiman di Luzhou, seorang pejabat yang ahli dalam puisi dan literatur serta adil dan membenci kejahatan. Dia juga seorang yang menghargai intelektual dan bakat Bao. Di bawah pengaruh Liu, Bao bertekad untuk memberikan kesetiaannya terhadap kerajaan dan cintanya pada negara dan rakyat.

Menurut sejarah, di tahun 1027 di usia 29 tahun, Bao Zheng lulus ujian kerajaan tingkat tertinggi dibawah pengujian langsung dari kaisar hingga menyandang gelar Jinshi. Sesuai hukum dan peraturan saat itu yang mengatakan bahwa seorang sarjana Jinshi dapat ditunjuk menempati posisi penting dalam pemerintahan, maka Bao diangkat sebagai pejabat kehakiman mengepalai Kabupaten Jianchang.

Namun dia mengundurkan diri tak lama kemudian karena sebagai anak berbakti dia memilih pulang kampung untuk merawat orang tuanya yang sudah tua dan lemah selama sepuluh tahun. Baru setelah kematian orang tuanya, dia kembali diangkat sebagai pejabat, kali ini sebagai pejabat kehakiman Provinsi Tianchang. Ketika itu dia telah berumur 40 tahun. Mulai tahun 1037 - 1062, beliau sukses memimpin berbagai posisi di pemerintahan dan terakhir menduduki posisi Hakim agung di Bian (sekarang Kaifeng), ibukota Dinasti Song. Hakim Bao dikenal sebagai hakim yang tidak kenal ampun, sangat strict dan tidak mengenal toleransi kepada pelaku ketidak adilan dan korupsi.

Dengan perilaku tersebut akhirnya Hakim Bao lebih dikenal dengan istilah pejabat bersih(qingguan 清官)atau Bao Qingtian (包青天) yang berarti Bao si langit biru, sebuah nama pujian bagi pejabat bersih. Dan mulai saat itu sampai dengan saat ini sering sekali ditemukan pada literatur dan berbagai pertunjukan opera.

Sejarah mencatat bahwa selama kurang lebih 30 tahun sejak dia memegang jabatan pertama kalinya, sebanyak lebih dari 30 orang pejabat tinggi termasuk beberapa mentri telah dipecat atau diturunkan pangkatnya olehnya atas tuduhan korupsi, kolusi, melalaikan tugas, dan lain-lain. Dia sangat berpegang teguh pada pendiriannya dan tidak akan menyerah selama dianggapnya sesuai kebenaran.

Enam kali dia melaporkan pada kaisar dan memintanya agar memecat pejabat tinggi, Zhang Yaozhuo, paman dari selir kelas atas kerajaan, tujuh kali untuk memecat Wang Kui, pejabat tinggi lain yang kepercayaan kaisar, bahkan dia pernah beberapa kali membujuk kaisar untuk memecat perdana mentri Song Yang. Dalam kapasitasnya sebagai juru sensor kerajaan dia selalu sukses meyakinkan kaisar tanpa membawa kesulitan bagi dirinya, padahal dalam sejarah banyak juru sensor telah mengalami nasib yang buruk, seperti misalnya Sima Qian, sejarawan dan filsuf Dinasti Han yang dikebiri karena Kaisar Han Wudi tidak bisa menerima pendapatnya.

Dalam pemerintahan, teman dekatnya adalah paman kaisar yaitu Zhao Defang yang lebih dikenal dengan nama pangeran ke delapan (八王爷, Ba Wang Ye). Di kalangan rakyat, Bao Zheng dikenal sebagai hakim yang adil dan berani memutuskan segala sesuatu berdasarkan keadilan tanpa rasa takut, juga mampu membedakan mana yang benar dan yang salah. Baginya siapapun termasuk kerabat dekat kaisar sekalipun harus dihukum bila terbukti bersalah melakukan pelanggaran. Bao meninggal tahun 1062 dan dimakamkan di makam keluarganya di Hefei, di kota itu juga dibangun kuil untuk mengenangnya (包公祠).

Kuburan Hakim Bao


Dalam perkembangan berikutnya selepas masuknya ajaran Buddha di daratan China, Hakim Bao dinobatkan sebagai Dewa Yama yang mana menguasai pengadilan akhirat - kehidupan setelah kematian.

Dalam kisah-kisah fiksi, Hakim Bao juga mendapatkan gelar yang banyak sekali. Antara lain; "Lord Bao" or "Judge Bao" (Chinese: 包公; pinyin: Bao Gong), Edict Attendant Bao (Chinese: 包待制; pinyin: Bao Daizhi), Bao of the Dragon Image (Chinese: 包龍圖; pinyin: Bao Longtu), and "Blue-Sky Bao"/"Unclouded-Sky Bao" (Chinese: 包青天; pinyin: Bao Qingtian). Yang sampai dengan saat ini masih sering diangkat sebagai serial TV terkenal di Hongkong dan Taiwan.

Bao Zheng dalam legenda

Bao Zheng banyak menghiasi karya literatur dalam sejarah Tiongkok, kisah hidupnya yang melegenda sering ditampilkan dalam opera dan drama, kebanyakan kisah-kisah ini didramatisasi. Dalam opera biasanya dia digambarkan sebagai pria berjenggot dengan wajah hitam dan tanda lahir berbentuk bulan sabit di dahinya (beberapa versi menyebutkan tanda ini berasal dari luka ketika dia memberi hormat dengan sangat keras pada ibunya untuk menunjukkan baktinya).

Disebutkan juga bahwa kaisar menganugerahi Bao tiga gilotin (alat penggal) dalam tugasnya sebagai hakim. Ketiga gilotin itu mempunyai dekorasi yang berbeda dan digunakan untuk menghukum orang sesuai statusnya. Guilotine kepala anjing untuk menghukum rakyat jelata, kepala macan untuk menghukum pejabat korup, dan kepala naga untuk menghukum bangsawan jahat. Dia juga dianugerahi tongkat emas kerajaan oleh kaisar sebelumnya untuk menghukum kaisar sendiri bila bersalah dan pedang pusaka kerajaan sebagai tanda berhak untuk menghukum siapapun termasuk anggota kerajaan tanpa melapor atau mendapat persetujuan dulu dari kaisar.

Dalam tugasnya dia dibantu oleh enam deputinya yaitu polisi Zhan Zhao, sekretaris Gongsun Zhi, dan empat pengawal Wang Chao, Ma Han, Zhang Long, dan Zhao Hu. Selain itu juga lima pendekar dari dunia persilatan yang dijuluki lima pendekar tikus. Keduabelas orang ini disebut “tujuh pendekar lima ksatria” (七侠五义, qi xia wu yi).

Beberapa kisah legendanya yang terkenal adalah :

* 鍘美案, mengisahkan Bao Zheng mengeksekusi Chen Shimei, seorang sarjana yang meninggalkan anak istrinya setelah lulus ujian kerajaan dan menikahi seorang wanita bangsawan, Chen bahkan mencoba membunuh istrinya dengan mengirim pembunuh bayaran.

* 貍貓換太子, mengisahkan Bao membongkar konspirasi dalam istana, dimana bayi putra mahkota ditukar dengan anak kucing ketika baru dilahirkan. Dalam kasus ini Bao harus berhadapan dengan kasim yang menjadi temannya pada awal karirnya, Guo Huai sehingga Bao harus memilih antara perasaan pribadi sebagai teman dan kewajibannya menegakkan keadilan. Bao menyamar sebagai dewa Yama, raja neraka untuk membongkar kejahatan Guo Huai. Guo pun akhirnya mengakui segalanya karena dia mengira telah berada di neraka.

Bao Zheng dalam budaya populer

Hakim Bao tampil sebagai peran utama dalam novel detektif dengan nama Bao Gong An pada zaman dinasti Ming

Karakter Hakim Bao juga muncul dalam permainan video game "Bao Qing Tian" yang dirilis oleh Famicom
Selain itu karakter Hakim Bao muda juga muncul dalam komik buatan Mervel "New Universal" yaitu perusahaan komik besar Amerika.

Kisahnya yang difilmkan oleh sebuah perusahaan film Taiwan dengan judul Justice Bao (包青天) meraih popularitas luar biasa di Asia pada dekade 90-an, tak lama kemudian untuk mengikuti kesuksesannya, Hongkong pun ikut menggarap kisah ini dengan aktor pemeran Bao yang sama pula, Jin Chaoqun, namun tidak sesukses versi Taiwannya. Di Indonesia serial ini dulu ditayangkan di dua stasiun TV sekaligus yaitu RCTI dan TPI.

Hampir semua kisah dalam serial ini adalah fiksi yang dihubungkan dengan kehidupannya, namun sarat dengan nilai-nilai tradisional Tiongkok, seperti bakti pada orang tua, kesetiaan pada negara, dan kehormatan.

Sumber Tulisan :

1. Wilt L. Idema. “The Pilgrimage to Taishan in the Dramatic Literature of the Thirteenth and Fourteenth Centuries.” Chinese Literature: Essays, Articles, Reviews (CLEAR), Vol. 19 (Dec., 1997)
2. Wang, Yun Heng (汪运衡) and Xiao Yun Long (筱云龙). Tie Bei Jin Dao Zhou Tong Zhuan (铁臂金刀周侗传 - "Iron Arm, Golden Sabre: The Biography of Zhou Tong"). Hangzhou: Zhejiang People's Publishing House, 1986 (UBSN --- Union Books and Serials Number) CN (10103.414) and 464574
3. http://en.wikipedia.org/wiki/Bao_Zheng (dalam Bahasa Inggris)
4. http://www.tionghoa.com/131/bao-zheng/

Rabu, 07 April 2010

Dewa Pintu

Dewa pintu adalah karakter dewa yang sering dan umum dikenal dalam kepercayaan tradisional populer Tionghoa. Dewa pintu, walaupun hanya merupakan dewa dengan derajat relatif lebih rendah dibandingkan dewa-dewa rumah lainnya, namun sebenarnya sejarah dewa pintu malah lebih tua daripada beberapa karakter pendewaan lainnya. Membicarakan dewa pintu harus dibabarkan dari 2 segi pembahasan yaitu sejarah faktual dan legenda.

Legenda dewa pintu

Popularitas karakter dewa pintu mulai menanjak di zaman Dinasti Tang, di mana legenda dewa pintu paling terkenal berasal dari zaman ini. Dikatakan bahwa naga Sungai Jing melanggar perintah langit karena menurunkan hujan pada waktu dan kapasitas yang salah sehingga langit menitahkan salah seorang menteri, Wei Zheng untuk menghukumnya. Karena takut dihukum, sang naga kemudian meminta perlindungan kepada Kaisar Taizong (Li Shimin) yang saat itu berkuasa. Taizong mengiyakan permintaan naga dan mengajak Wei Zheng bermain catur supaya lupa batas waktu untuk menghukum sang naga. Namun, rupanya Wei Zheng hanya perlu menebas leher sang naga dalam mimpinya sehingga siasat Taizong gagal memenuhi janjinya pada sang naga.

Sang naga yang mati penasaran kemudian datang menghantui Taizong tiap malam di istananya. Wei Zheng mengetahui perihal ini dan mengurus 2 jenderal, Qin Qiong dan Yuchi Gong untuk berjaga di luar pintu istana. Sang naga tidak datang menghantui Taizong untuk beberapa hari, namun kembali kemudian lewat pintu belakang yang tidak dijaga. Wei Zheng kemudian memutuskan untuk berjaga sendiri di pintu belakang dan sang naga tidak pernah kembali setelah itu. Taizong menyadari tak mungkin membiarkan jenderal dan menterinya berjaga terus di istananya, memutuskan untuk melukis potret kedua jenderalnya di daun pintu kiri dan kanan, serta Wei Zheng di pintu belakang. Ini kemudian yang mengawali penggunaan potret Qin Qiong dan Yuchi Gong di pintu berdaun dua (biasanya pintu depan) serta Wei Zheng untuk pintu dengan satu daun.

Sejarah faktual

Sebenarnya dewa pintu mulai ada sejak zamannya Huangdi, 5000 tahun lalu, namun ini sebuah legenda. Catatan mengenai dewa pintu yang lebih akurat adalah di zaman Dinasti Shang, di mana dewa pintu berawal dari kepercayaan tradisional di Tiongkok sebelum munculnya agama. Raja-raja Dinasti Shang menjadikan pintu sebagai satu objek dari lima objek penghormatan pada masa itu. Kepercayaan tradisional Tionghoa menganggap bahwa setiap benda mempunyai rohnya sendiri-sendiri. Dewa pintu lebih jauh merupakan bentuk penghormatan ke-4, penghormatan pada benda-benda. Pintu dipilih karena pintu merupakan bagian dari rumah tempat tinggal yang sangat penting, simbol perlindungan terhadap ancaman dari luar dan dilewati setiap hari. Manusia selalu membutuhkan keseimbangan jasmani dan spiritual, pintu yang nyata dianggap hanya melindungi dari makhluk yang nyata, untuk melindungi dari makhluk halus, maka pintu haluslah yang mengambil peranan ini. Inilah cikal bakal dewa pintu.

Dewa pintu dalam sejarah

Zaman Han = Shen Shu dan Yu Lu
Zaman Tang = Qin Qiong dan Yuchi Gong, Wei Zheng, Zhong Kui
Zaman Song dan Yuan = Qin Qiong dan Yuchi Gong, Zhao Yun, Yue Fei

Semua karakter di atas adalah karakter sejarah nyata, kecuali Shen Shu dan Yu Lu yang merupakan tokoh legenda. Satu-satunya persamaan di antara mereka mayoritas adalah jenderal perang yang terkenal pada masanya masing-masing kecuali Wei Zheng yang terkenal sebagai menteri vokal serta Zhong Kui yang terpelajar namun berperawakan sangat jelek sampai-sampai hantupun takut kepadanya.

Evolusi dewa pintu masa sekarang
Dewa pintu di masa sekarang berbentuk lukisan biasanya hanya ditemukan di pintu kelenteng. Rumah-rumah penduduk tidak melukis gambar dewa pintu di daun pintu rumah mereka, biasanya hanya ada tempat menancapkan hio di sebelah kiri kanan pintu. Namun, masih ada tradisi menempel lukisan dewa pintu di daun pintu pada malam Tahun Baru (tanggal 30 bulan 12 penanggalan Imlek). Zaman sekarang, dewa pintu tidak hanya ditujukan untuk melindungi rumah dari hal-hal buruk, namun juga untuk mengundang nasib baik dan keberuntungan. Selain itu, lukisan dewa pintu di kelenteng sebenarnya juga ditekankan pada nilai artistiknya, biasanya sangat mengundang perhatian dari pemerhati arsitektur tradisional Tiongkok karena kekhasannya.

Versi lain :

Dalam versi Buddhis, dewa pintu yang terkenal adalah : Wetuo Pu Sa dan Guan Yu

Sumber Tulisan :
1. Berdasarkan penuturan Sdr. Rianto Jiang via email
2. http://indonesia.siutao.com/

Macan Kilin – Kie Lin (Hokkian), Chi Lin (Mandarin)


Bila anda jeli, maka anda akan melihat dan memperhatikan arca macan kilin di hampir semua klenteng dan bila yang belum pernah mampir ke klenteng sebelumnya, anda pasti yang warga Surabaya minimla pernah melihat arca ini didepan gerbang Kya-Kya Kembang Jepun.

Arcanya berwujud sepasang Macan Kie Lin. Salah satunya menggendong Kie Lin kecil. dan biasanya diletakkan di depan pintu utama atau gerbang utama.

Dalam legenda Cina dikenal ada binatang yang menjadi tunggangan para dewa. Binatang yang mendapat kepercayaan untuk mengantar para dewa ke mana pun mereka pergi itu bernama Kie Lin. Kie Lin ini merupakan binatang yang mewakili 18 binatang yang ada di dunia.

Selain patung batu Kie Lin terletak di depan pintu masuk sebuah klenteng atau beberapa gerbang, patung Kie Lin juga bisa didapati di dalam klenteng. Seperti yang diduduki Ji Lay Nan U Fuk.

Sebagai binatang dewa, Kie Lin sendiri bentuknya sepintas mirip singa. Tetapi, bila dilihat secara agak mendetail maka terlihat kalau sebagian tubuh Kie Lin ini mewakili ke-18 binatang yang ada di bumi.

Seperti badannya yang merupakan badan kuda tetapi memiliki sisik ular dan sisik ikan. Buntutnya pun dari kura-kura. Keempat kakinya juga berbeda semuanya. Ada yang berupa kaki burung hong (rajawali), kaki macan, kaki kerbau, dan kaki menjangan.
Kedua matanya yakni mata kepiting, dengan telinga mewakili telinga kelinci serta bertaring macan. Sedangkan jenggot dan mulutnya merupakan mulut singa serta pipinya pipi naga.

Kie Lin ini juga memiliki tanduk bercabang dua yang merupakan tanduk rusa.
Warna Kie Lin biasa diambil dari salah satu warna lima unsur yang ada di bumi, Bisa hijau yang merupakan unsur langit atau organ paru-paru dalam tubuh manusia. Bisa juga warna biru (air/tenggorokan), merah (bumi/dubur), kuning (alam/jantung) dan oranye(gunung/perut).

Di jaman dinasty Ming, Macan Kilin menjadi hadiah yang sangat populer saat mengunjungi sanak keluarga yang melahirkan anak laki-laki. Makna tersirat yang terkandung adalah doa agar anak tersebut menjadi orang yang besar dan hebat.

Sumber Tulisan :
1. Koran Kompas, 31 Januari 2003.
2. Berdasarkan penuturan dan Wawancara dengan Krisna Warih, ahli feng shui dan ngoheng peji.
3. http://www.chi-linasianarts.com/home.html

Sabtu, 03 April 2010

Dewi Welas Asih Guan Si Yin Pho Sat


Kemarin 4 Apri 2010 adalah perayaan besar Dewi Kwan Im. Saya sendiri mengunjungi klenteng Sanggar Agung Kenjeran untuk memberikan penghormatan. Berikut adalah cerita mengenai Dewi Welas Asih Kwan Si Yin Pho Sat yang berhasil saya himpun.

Kwan Im Pho Sat / Guan Yin Phu Sa / Kwan Si Im Pho Sat / Guan Shi Yin Phu Sa (Tiongkok) / Avalokitesvara Bodhisatva (Lokeshvara, Sansekerta) / Spyan ras gizgs (Tibetan) / Kannon Bosatsu (Kanjizai / Kanzeon / Kwannon, Jepang) & Quan Am (Vietnam)

Jauh sebelum masuknya agama Budha menjelang akhir Dinasti Han, Kwan Im Pho Sat telah dikenal di Tiongkok purba dengan sebutan Pek Ie Tai Su yaitu Dewi Berbaju Putih Yang Welas Asih (“Dewi Welas Asih”).

Di kemudian hari, Beliau identik dengan perwujudan dari Budha Avalokitesvara. Secara absolut, pengertian Avalokitesvara Bodhisatva dalam bahasa Sansekerta adalah : “Avalokita” (Kwan / Guan / Kwan Si / Guan Shi) yang bermakna Melihat ke Bawah atau Mendengarkan ke Bawah. “Bawah” disini bermakna ke dunia, yang merupakan suatu alam (lokita). “Isvara” (Im / Yin), berarti suara. Yang dimaksud adalah suara dari makhluk-makhluk yang menjerit atas penderitaan yang dialaminya. Oleh sebab itu Kwan Im adalah Bodhisatva yang melambangkan kewelas-asihan dan penyayang. Di negara Jepang, Kwan Im Pho Sat terkenal dengan nama Dewi Kanon.

Penjelasan Arti

Guan : Melihat atau merenungi.
Shi : Dunia, alamnya orang yang menderita.
Yin : Segala suara dari dunia, jeritan atau ratapan dari mahluk hidup,lahir
maupun batin, yang kesemuanya ini menyentuh lubuk hati sang Dewi Welas
Asih.

Sebab itu Guan Yin adalah Bodhisattva yang melambangkan hati yang welas asih dan penyayang, yang tertanam dalam – dalam dihati tiap pemujanya. Mereka percaya bahwa GuanYin dapat mendengarkan keluh – kesah mereka yang menderita dan datang menolong, dalam wujud yang berbeda – beda, baik pria maupun wanita.

Guan Yin, Pria atau Wanita :

Pada waktu memasuki Tiongkok sekitar dinasti Han, Agama Buddha memang memperkenalkan Avalokitesvara yang kemudian dikenal sebagai Guan Yin Pu Sa sebagai pria. Mulai dinasti Tang (618 – 907 M) dan lima dinasti (907 – 960 M).Guan Yin ditampilkan sebagai wanita. Mungkin ini terpengaruh ajaran Konfusianisme yang sangat berakar dalam sistem sosial masyarakat pada waktu itu. Mereka menganggap tidak layak wanita memohon anak dari seorang Dewata pria. Bagi para penganutnya, hal itu dianggap sebagai kehendak dari Guan Yin sendiri untuk mewujudkan dirinya sebagai wanita, agar ia dapat leluasa dengan kaum wanita yang banyak memohon uluran tangannya.

Kelihatannya perubahan ini terjadi secara berlahan – lahan. Mula – mula Guan Yin ditampilkan sebagai pasangan Avalokitesvara (seperti halnya Dewa – dewa dari India yang selalu mempunyai pasangan). Kemudian lambat laun, oleh penganutnya di Tiongkok, dewata pria Avalokitesvara mulai dilupakan. Sampai abad ke – 12 Masehi. Guan Yin telah dipuja sendirian sebagai Dewata yang khas Tiongkok, begitu juga Dewata – dewata Buddhist lainnya.

Perlu diketahui bahwa sebelum masuknya Buddhist ke Tiongkok, kaum wanita di sana sudah banyak memuja para dewi dari Taoisme yang mereka panggil dengan sebutan “Niang – niang” (Probabilitas adalah Dewi Wang Mu Niang-Niang), sebagai tempat mereka memohon perlindungan, keselamatan dan keturunan. Sebab itu ketika muncul Guan Yin,mereka menyebutnya dengan panggilan Niang – niang pula. Sebutan Guan Yin Pu Sa yang sepenuhnya bersifat Buddhisme dikalangan rakyat akhirnya popular dengan sebutan “Guan Yin Niang – niang”. Sehubungan dengan adanya legenda Puteri Miao Shan yang sangat terkenal, (menurut Kitab Suci Kwan Im Tek Too yang disusun oleh Chiang Cuen, Dewi Kwan Im dilahirkan pada jaman Kerajaan Ciu / Cian Kok pada tahun 403-221 SM) mereka memunculkan tokoh wanita yang disebut “Guan Yin Niang Niang”, sebagai pendamping Avalokitesvara Bodhisatva pria. Tidak sampai di situ, kaum Taoist-pun yang akhirnya ikut pula memujanya, bahkan menempatkannya sejajar dengan Dewi mereka, yaitu Tian Hou (Tian Shang Sheng Mu). Nama Taoist untuk Guan Yin adalah Zi Hang Dao Ren (Zu Hang To Jin – Hokkian). Yang berarti pendeta penyelamat pelayaran. Begitulah Guan Yin memperoleh kepopuleran yang jauh melebihi Dewata Buddhisme yang tertinggi Sakyamuni Buddha, meskipun dalam banyak kelenteng dan vihara, Sakyamuni duduk di altar yang paling terhormat.

Legenda Putri Miao San

Puteri Miao Shan, anak dari Raja Miao Zhuang / Biao Cong / Biao Cuang Penguasa Negeri Xing Lin (Hin Lim), kira-kira pada akhir Dinasti Zhou di abad III SM. Disebutkan bahwa Raja Miao Zhuang sangat mendambakan seorang anak lelaki, tapi yang dimilikinya hanyalah 3 (tiga) orang puteri. Puteri tertua bernama Miao Shu (Biao Yuan), yang kedua bernama Miao Yin (Biao In) dan yang bungsu bernama Miao Shan (Biao Shan).

Setelah ketiga puteri tersebut menginjak dewasa, Raja mencarikan jodoh bagi mereka. Puteri pertama memilih jodoh seorang pejabat sipil, yang kedua memilih seorang jendral perang sedangkan Puteri Miao Shan tidak berniat untuk menikah. Beliau malah meninggalkan istana dan memilih menjadi Bhiksuni di Kelenteng Bai Que Shi (Tay Hiang Shan). Berbagai cara diusahakan oleh Raja Miao Zhuang agar puterinya mau kembali dan menikah, namun Puteri Miao Shan tetap bersiteguh dalam pendirianNya.

Didalam kelenteng atau vihara itu terdapat kira – kira 500 orang bikkhuni. Kepala bikkhu disitu memerintahkan Miao Shan bekerja berat, dibagaian dapur. Sebetulnya kepala bikkhu ini telah mendapat perintah dari ayah Miao Shan agar membuat putrinya tidak betah untuk hidup di vihara itu.

Melihat keteguhan hati Miao Shan, Dewa Dapur Zao Jun, lalu membuat laporan kepada Yu Huang Da Di. Yu Di menerima laporan ini segera memerintahkan para malaikat dari Lima Pegunungan, dan Delapan Dewa Naga, untuk membantu Miao Shan di vihara Bai Que Si. Kemudian disusulnya peritah kepada Raja Naga dari lautan timur untuk membuat sumur di dapur Vihara itu, dan para binatang liar di pegunungan berdatangan mengantar kayu bakar, serta burung – burung membawa sayur – mayur. Dengan segala bantuan ini Miao Shan tidak banyak mengalami kesengsaraan.

Raja Miao Zhuang akirnya mengirim tentara ke Vihara itu untuk memaksa agar Miao Shan. Pasukan ini dipimpin oleh Raja Muda Zhau dan Raja Muda Ye. Biyara Bai Que Si di bakar, Miao Shan lalu berdo’a memohon perlindungan Yang Maha Kuasa,kemudian ia mencabut tusuk kondenya dan ditusukan ke lidahnya. Darah dari lidah itu di semburkan ke udara,dan tiba-tiba dari angkasa turun hujan yang berwarna merah. Api yang berkobar menelan biara itu segera padam.

Raja Miao Zhuang habis kesabarannya dan memerintahkan para prajurit untuk menangkap dan menghukum mati sang puteri.

Sang Buddha yang mengetahui peristiwa ini lalu memerintahkan pada Tu-di, sang Dewi Bumi, untuk menyelamatkan Miao Shan. Beliau bersabda ”Tak ada di dunia sebelah barat ini manusia yang sesuci dan sebaik Miao Shan. Besok ketika pelaksanaan hukuman mati dilaksanakan patahkanlah golok dan tombak para algojo yang dipergunakan untuk membunuh dia. Jagalah agar dia tidak banyak menderita kesakitan.

Pada saat kematiannya, rubahlah dirimu menjadi seekor harimau dan bawalah tubuhnya ke suatu Hutan Pinus. Sembunyikan dan masukkan sebutir pil ke dalam mulutnya agar tubuh itu tidak membusuk. Rohnya akan kembali mencari badan kasarnya sesudah selesai perjalanan ke neraka. Setelah itu ia akan bersemayam di bukit Xiang Shan di pulau Pu Tuo samapi mencapai kesempurnaan”.

Pada waktu pelaksanaan hukuman di jalankan, golok dan tombak para algojo patah ketika menyentuh leher Miao Shan. Lalu leher Miao Shan dijerat dengan tali baja, barulah sang putri tewas. Bersamaan dengan itu mendadak seekor macan besar menyerbu masuk dan menggondol tubuh putri yang malang itu, lalu membawanya masuk ke dalam Hutan Pinus.

Roh Miao Shan di neraka, karena kesucian dan ke – welas – asihannya, serta ketulusan do’anya, menyebabkan tempat yang penuh penderitaan itu berubah menjadi seperti sorga. 10.000 roh yang tersiksa memperoleh pengampunan berkat do’anya.

Penguasa Akherat, Yan Luo Wang, menjadi bingung sekali. Akhirnya arwah Puteri Miao Shan diperintahkan untuk kembali ke badan kasarNya. Begitu bangkit dari kematianNya, Budha Amitabha muncul di hadapan Puteri Miao Shan dan memberikan Buah Persik Dewa. Akibat makan buah tersebut, sang Puteri tidak lagi mengalami rasa lapar, ke-tuaan dan kematian. Budha Amitabha lalu menganjurkan Puteri Miao Shan agar berlatih kesempurnaan di gunung Pu Tuo, dan Puteri Miao Shan-pun pergi ke gunung Pu Tuo dengan diantar seekor harimau jelmaan dari Dewa Bumi.

9 (Sembilan) tahun berlalu, suatu ketika Raja Miao Zhuang menderita sakit parah. Berbagai tabib termasyur dan obat telah dicoba, namun semuanya gagal. Puteri Miao Shan yang mendengar kabar tersebut, lalu menyamar menjadi seorang Pendeta tua dan datang menjenguk. Namun terlambat, sang Raja telah wafat. Dengan kesaktianNya, Puteri Miao Shan melihat bahwa arwah ayahNya dibawa ke neraka, dan mengalami siksaan yang hebat. Karena rasa bhaktiNya yang tinggi, Puteri Miao Shan pergi ke neraka untuk menolong.

Pada saat akan menolong ayahNya untuk melewati gerbang dunia akherat, Puteri Miao Shan dan ayahNya diserbu setan-setan kelaparan. Agar mereka dapat melewati setan-setan kelaparan itu, Puteri Miao Shan memotong tangan untuk dijadikan santapan setan-setan kelaparan. Setelah hidup kembali, Raja Miao Zhuang menyadari bahwa bhakti ketiga putrinya sangat luar biasa.

Akhirnya sang Raja menjadi sadar dan mengundurkan diri dari pemerintahan serta bersama-sama dengan keluarganya pergi ke gunung Xiang Shan untuk bertobat dan mengikuti jalan Budha. Rakyat yang mendengar bhakti Puteri Miao Shan hingga rela mengorbankan tanganNya menjadi sangat terharu. Berbondong-bondong mereka membuat tangan palsu untuk Puteri Miao Shan. Budha O Mi To Hud yang melihat ketulusan rakyat, merangkum semua tangan palsu tersebut dan mengubahNya menjadi suatu bentuk kesaktian serta memberikannya kepada Puteri Miao Shan.

Lalu Ji Lay Hud memberiNya gelar Qian Shou Qian Yan Jiu Ku Jiu Nan Wu Shang Shi Guan Shi Yin Phu Sa, yang artinya Bodhisatva Kwan Im Penolong Kesukaran Yang Bertangan Dan Bermata Seribu Yang Tiada Bandingnya. Dalam kisah lain disebutkan bahwa pada saat Kwan Im Phu Sa diganggu oleh ribuan setan, iblis dan siluman, Beliau menggunakan kesaktianNya untuk melawan mereka. Beliau berubah wujud menjadi Kwan Im Bertangan dan Bermata Seribu, dimana masing-masing tangan memegang senjata Dewa yang berbeda jenis. Kisah Kwan Im Lengan Seribu ini juga memiliki versi yang berbeda, diantaranya adalah pada saat Puteri Miao Shan sedang bermeditasi dan merenungkan penderitaan umat manusia, tiba-tiba kepalanya pecah berkeping-keping. Budha O Mi To Hud (Amitabha) yang mengetahui hal itu segera menolong dan memberikan “Seribu Tangan dan Seribu Mata, sehingga Beliau dapat mengawasi dan memberikan pertolongan lebih banyak kepada manusia.

Masih ada beberapa versi, seperti yang dimuat dalam kitab Shou-sen-ji (Catatan tentang kumpulan Para Dewa), agak berbeda dengan apa yang ditulis dalam kitab Xiang-shan. Raja Miao Zhuang, misalnya dalam kitab Xiang-shan dikatakan berperangai halus dan berbudi. Sebaliknya dalam Shou-sen-ji, beliau disebut sebagai berwatak kasar, kejam dan gemar nerperang. Tapi secara garis besar, versi – versi yang dimuat dalam beberapa kitab, tidak memiliki perbedaan besar dalam kisah keseluruhannya.

Miao Shan Guan Yin ditampilkan dengan keadaan duduk, tangannya dalam sikap meditasi dan membawa mutiara yang menyala. Banyak lukisan atau pahatan menampilkan dia sedang duduk di atas batu karang dekat air yang mengalir deras, atau di tengah lautan. Lukisan lain memperlihatkan dia sedang membawa gulungan kitab suci yang melambangkan Sutra Penerangan Hati, atau sebatang dahan pohon Yangliu untuk memercikkan embun suci (Amritha) yang berkhasiat menyembuhkan berbagai penyakit dan mengusir roh – roh jahat.

Masih ada bentuk lukisan lain yang menampilkan Guan Yin membawa tasbih mutiara di tangannya, tapi sering juga tasbih itu dibawa di paruh seekor burung kakak – tua. Bajunya berwarna putih dan tampak melayang di atas awan, di atas bunga teratai atau di atas kelopak teratai yang terapung di lautan.

Lukisannya yang paling terkenal adalah pada waktu di tampilkan bersama dengan pembantunya yaitu Si Anak Merah, Shan Cai, dan Si Gadis Naga Long Nü. Shan Cai dengan posisi menyembah dan Long Nü membawa mutiara yang menyala.

Dalam legenda Puteri Miao Shan, disebutkan bahwa kakak-kakak Miao Shan bertobat dan mencapai kesempurnaan, lalu mereka diangkat sebagai Pho Sat oleh Giok Hong Siang Te. Puteri Miao Shu diangkat sebagai Bun Cu Pho Sat (Wen Shu Phu Sa) dan Puteri Miao Yin sebagai Po Hian Pho Sat (Pu Xian Phu Sa). Disebutkan juga bahwa pada saat pelantikan Puteri Miao Shan menjadi Pho Sat, Puteri Miao Shan diberi 2 (dua) orang pembantu, yakni Long Ni dan Shan Cai. Konon, Long Ni diberi gelar Giok Li (Yu Ni) atau “Gadis Kumala” dan Shan Cai bergelar Kim Tong (Jin Tong) atau “Jejaka Emas”.

Selain perwujudan Beliau yang beraneka bentuk dan posisi, nama atau julukan Kwan Im (Avalokitesvara) juga bermacam-macam, ada Sahasrabhuja Avalokitesvara (Qian Shou Guan Yin), Cundi Avalokitesvara, dan lain-lain. Walaupun memiliki berbagai macam rupa, pada umumnya Kwan Im ditampilkan sebagai sosok seorang wanita cantik yang keibuan, dengan wajah penuh keanggunan .Selain itu, Kwan Im Pho Sat sering juga ditampilkan berdampingan dengan Bun Cu Pho Sat dan Po Hian Pho Sat, atau ditampilkan bertiga dengan : Tay Su Ci Pho Sat (Da Shi Zhi Phu Sa) – O Mi To Hud – Kwan Im Pho Sat.

Legenda Long Ni

Tentang Gadis Naga Long Nü dikisahkan sebagai berikut ini. Dengan kekuatan gaibnya Miao Shan melihat bahwa putra ketiga Long Wang, Sang Raja Naga, sedang menjelma menjadi ikan tambera. Dalam perjalanan melaksanakan tugas ayahnya, tak terduga ikan itu terperangkap dalam jala nelayan, dan diangkat ke darat lalu dijual ke pasar.

Miao Shan lalu memerintahkan pelayannya yang setia, Shan Cai untuk membeli ikan itu, yang kemudian dibawa ke Pu Tuo Shan untuk dilepaskan ke laut bebas. Putra ketiga Sang Raja Naga sangat berterima kasih atas pertolongan Guan Yin.

Sang Raja Naga dalam terima kasihnya kepada Miao Shan Guan Yin bermaksud menghadiahkan sebutir mutiara yang dapat bersinar di waktu malam. Long Nü cucu perempuan Long Wang dari pangeran ketiga tersebut mohon ijin untuk menghantarkan hadiah kepada Miao Shan.

Di hadapan Miao Shan, Long Nü minta diijinkan untuk belajar ajaran orang – orang suci di bawah bimbingannya. Setelah mengetahui kesungguhan hatinya, Miao Shan akhirnya menerima Long Nü sebagai murid. Shan Cai memanggilnya kakak. Mereka bersama – sama mendampingi Miao Shan.

Sering juga Long Nü ini ditampilkan dalam bentuk naga yang sedang ditunggangi oleh Guan Yin. Oleh Yu Huang Da Di, Shan Cai diberi gelar Jin Tong (Kim Tong – Hokkian) yang berarti “jaka emas” dan Long Nü bergelar Yu Nü (Giok Li – Hokkian) yang berarti “gadis kumala”.

Khusus untuk Shan Cai ada 2 (dua) versi legenda.

Versi pertama


Pada waktu Tu Di Gong mengantar Miao Shan ke pulau Pu Tuo, menjaganya selama 9 tahun, sampai akhirnya sang putri mencapai kesempurnaan. Ditentukan hari pelantikan Miao Shan menjadi Pu Sa adalah tanggal 19 bulan 9 Imlik. Tu Di menyebarkan banyak undangan untuk menghadiri pelantikan tersebut. Yang diundang antara lain adalah San Guan Da Di, Shi Dian Yan Luo (10 Raja Akherat) Ba Xian (8 Dewa), Wu Yue Da Di (dewa dari Lima Pegunungan) dan lain – lain. Pada hari yang telah ditentukan, para undangan telah berkumpul, Miao Shan duduk di atas singgasana bunga teratai, lalu para Dewata itu mengumumkan pelatikan di kalangan ke-Buddha-an dan wilayah kekuasaannya di langit dan bumi.

Kemudian mereka beranggapan bahwa tidak sepantasnyalah Miao Shan sekarang dinamakan Guan Shi Yin berada di Xiang Shan seorang diri tanpa pembantunya. Mereka mengusulkan agar dicarikan dua pembantu, seorang pria perjaka dan gadis yang bertugas melayani semua keprluannya di tempat itu. Tu Di diserahi tugas untuk menemukan calon yang sesuai.

Dalam perjalanan mencari calon pembantu Guan Yin ini, Tu Di bertemu dengan seorang pendeta mudan yang bernama Shan Cai. Setelah kematian kedua orang tuanya, Shan Cai menjadi pertapa di gunung Da Hua Shan, tapi tanpa bimbingan ia merasa sulit untuk mencapai kesempurnaan. Dengan perantara Tu Di akhirnya Shan Cai menghadap Guan Yin. Guan Yin masih meragukan kesungguhan hati pemuda ini dan ingin mengujinya. Disuruhnya pemuda itu menempati sebuah puncak di pulau itu, dan menunggu sampai Guan Yin menemukan cara untuk mengatur kesempurnaannya.

Miao Shan kemudian memanggil Tu Di dan meminta agar para dewa yang hadir di situ mau menyamar menjadi bajak – bajak laut yang mau mengepung gunung itu, membawa obor dan senjata tajam mengancam akan membunuh Guan Yin. “Aku akan lari ke puncak dimana Shan Cai sekarang berada dan menguji kesetiannya”, kata sang Dewi.

Tak lama kemudian segerombolan bandit dan bajak laut datang mengepung vihara di Xiang Shan itu. Guan Yin melarikan diri ke puncak, ia terpeleset dan terguling ke dalam jurang. Melihat sang dewi terguling, Shan Cai tanpa ragu – ragu segera terjun untuk menyelamatkannya. “Anda tidak mempunyai sesutau yang berharga untuk dirampok mereka, mengapa takut dan terjun ke jurang, sehingga terancam bencana kematian”, tanya Shan Cai. Melihat pemuda itu menangis, Guan Yin berkata “aku harus tunduk pada kehendak langit”.

Shan Cai, dengan segala kepedihan hatinya, berdo’a kepada Langit dan Bumi agar Sang Dewi diselamatkan. “Seharusnya kau tak perlu menunjukkan diri untuk menolong aku dengan penuh resiko. Aku belum menjelmakan kau kembali dan mengantarmu kesempurnaan. Tapi kau adalah anak yang berani, aku sekarang tahu hatimu baik, Lihatlah ke bawah sana “ kata Guan Yin. Shan Cai lalu menoleh “Aku melihat mayat”.
“Ya, itulah badanmu yang lama. Sekarang kau telah dijelmakan kembali, dan kau dapat terbang dan membumbung keangkasa sesuka hatimu!” Guan Yin berkata. Shan Cai membungkukkan badannya tanda terima kasih dan Guan Yin berkata lagi “Selanjutnya kau selalu berada di sampingku dan berdo’a, jangan meninggalkan aku seharipun”. Sejak itulah Shan Cai selalu hadir di sebelah Guan Yin.

Versi lain

Dalam cerita Se Yu Ki (Xi You Ji) menyebutkan bahwa Shan Cai adalah putera siluman kerbau Gu Mo Ong (Niu Mo Wang) dengan Lo Sat Li (Luo Sa Ni). Nama asliNya adalah Ang Hay Jie (Hong Hai Erl) atau si Anak Merah. Karena kenakalan dan kesaktian Ang Hay Jie, Sang Kera Sakti Sun Go Kong / Sun Wu Kong meminta bantuan kepada Kwan Im Pho Sat untuk mengatasiNya. Akhirnya Ang Hay Jie berhasil ditaklukkan oleh Kwan Im Pho sat dan diangkat menjadi muridNya dengan panggilan Shan Cai.

Dalam hal ini, banyak orang yang salah mengerti dan menganggap bahwa salah 1 (satu) pengawal Kwan Im Po Sat adalah Lie Lo Cia (Li Ne Zha), yang penampilanNya memang mirip dengan Ang Hay Jie. Secara khusus terdapat perbedaan diantara keduaNya, Lie Lo Cia menggunakan senjata roda api di kakiNya, sedangkan Ang Hay Jie menggunakan semburan api dari mulutnya. Lie Lo Cia adalah anak dari Lie King dan Ang Hay Jie adalah anak dari Gu Mo Ong.

Perbedaan Sejarah Avalokitesvara dengan Guan Shi Yin Pho Sat

Dari sini jelas bahwa tokoh Avalokitesvara Bodhisatva berasal dari India dan tokoh Guan Yin Phu Sa berasal dari Tiongkok. Avalokitesvara Bodhisatva memiliki tempat suci di gunung Potalaka, Tibet, sedangkan Kwan Im Pho Sat memiliki tempat suci di gunung Pu Tao Shan di kepulauan Zhou Shan, Tiongkok. Kesimpulan atas hal ini adalah tokoh Avalokitesvara Bodhisatva merupakan stimulus awal munculnya Kwan Im Pho Sat. Terdapat beberapa legenda lainnya terkait tentang asal-usul Dewi Kwan Im. Dalam kitab Hong Sin Yan Gi / Hong Sin Phang (“Penganugerahan Dewa”) disebutkan bahwa sebelum Beliau dikenal dengan sebagai Dewi Kwan Im, Beliau bernama Chu Hang salah 1 (satu) murid dari Cap Ji Bun Jin (12 Murid Cian Kauw Yang Sakti).

Dalam perwujudan-Nya sebagai pria, Beliau disebut Kwan Sie Im Pho Sat. Dalam Sutra Suddharma Pundarika Sutra (Biauw Hoat Lien Hoa Keng) disebutkan ada 33 (tiga puluh) penjelmaan Kwan Im Pho Sat. Sedangkan dalam Maha Karuna Dharani (Tay Pi Ciu / Ta Pei Cou / Ta Pei Shen Cou) ada 84 (delapan puluh empat) perwujudan Kwan Im Pho Sat sebagai simbol dari Bodhisatva yang mempunyai kekuasaan besar. Altar utama di Kuil Pho Jee Sie (Pho To San) di persembahkan kepada Kwan Im Pho Sat dengan perwujudan sebagai “Budha Vairocana”, dan di sisi kiri atau kanan berjajar 16 (enam belas) perwujudan lainnya.

Perwujudan Beliau di altar utama Kim Tek Ie*, salah satu Kelenteng tertua di Indonesia adalah King Cee Koan Im (Koan Im Membawa Sutra Memberi Pelajaran Buddha Dharma Kepada Umat Manusia. Disamping itu, terdapat pula wujud Kwan Im Pho Sat dalam Chien Chiu Kwan Im / Jeng Jiu Kwan Im / Qian Shou Guan Yin. (Kwan Im Seribu Lengan / Tangan) sebagai perwujudan Beliau yang selalu bersedia mengabulkan permohonan perlindungan yang tulus dari umatNya. Julukan Beliau secara lengkap adalah Tay Cu Tay Pi, Kiu Kho Kiu Lan, Kong Tay Ling Kam, Kwan Im Sie Im Pho Sat.

Guan Yin Berbaju Putih

Memang perwujudan Guan Yin tidak terbatas, tapi yang paling banyak dipuja secara meluas dari abad ke abad ialah Guan Yin berbaju putih. Sebab itu apabila kita melihat di berbagai kelenteg, sebagian besar adalah Guan Yin yang berbentuk demikian. Bentuk ini paling disukai dan paling popular diantara bentuk – bentuk lain.

Patung Guan Yin baik yang bentuk dalam keadaan duduk atau berdiri, mempunyai makna sendiri – sendiri. Kebanyakan orang akan memilih yang dalam posisi duduk, sebab bentuk ini menimbulkan kesan terang, tentram dan anggun, merupakan gambaran pencerahan yang sempurna.

Bentuk Guan Yin yang berdiri melambangkan geraknya yang penuh rasa penyayang. Ini diartikan oleh para pemujanya bahwa tindakannya yang penuh rasa kasih dan sayang itu mempunyai kekuatan untuk mencapai siapa saja yang membutuhkan pertolongannya. Dan Guan Yin selalu siap menghampiri dan membantu dengan uluran kasih dan perlindungan. Makna lain yang tersirat bentuk berdiri ini adalah melambangkan kesediaan Guan Yin untuk memberikan pencerahan kepada siapa saja yang menginginkan.

Guan Yin berbaju putih seringkali tampil dengan memegang botol yang berisi “Amrita” yaitu “ Embun Belas Kasih”, yang berkasiat mensucikan kotoran – kotoran dalam badan, ucapan dan batin manusia dan mempunyai kekuatan penyembuhan yang luar biasa. Diiringi dengan ekspresi wjah yang lembut, tenang dan manis, Guan Yin berbaju putih mencerminkan kebijaksanaan, ketenangan dan rasa kasih yang tak terhingga besarnya. Wajah inilah yang telah banyak memberikan ketenangan batin pada hati para pemujanya.

Bagaimana agar kita dapat menjadi penganutnya yang setia? Beberapa petunjuk dari mereka yang percaya yang telah mengalami sendiri rahmat dari Guan Yin mengatakan bahwa untuk menjadi penganutnya orang tidak boleh begitu saja percaya secara membabi buta dan bersembahyang setiap hari, tapi tetap dengan ingatan yang mementingkan diri sendiri. Harus melalui praktek perbuatan yang mencerminkan watak – wataknya seperti ramah – tamah, sering berbuat amal, sabar teguh hati, suka menolong, suka berbuat sesuatu yang memberikan manfaat bagi orang banyak dan meditasi. Dengan praktek – praktek seperti itu orang akan mendekatkan batinnya kepada Guan Yin dan menjadi pengikutnya.

Dilihat dari sini, kita merasakan bahwa sebetulnya pemujaan Guan Yin mengandung suatu ajaran moral yang tinggi.
Kalau kita perhatikan , semua wajah dari patung Guan Yin tentu memiliki mata yang bisa kita katakan setengah terbuka dan setengah tertutup. Mata yang begini, dalam ilmu kebatinan Budhisme mempunyai arti keselarasan yang sempurna dari kehidupan lahir dan batin, sebab sebagian pandangan untuk melihat dunia luar dan sebagian lain untuk melihat dalam diri sendiri. Jadi dapat dikatakan bahwa GuanYin selalu mengingatkan manusia agar selalu menjaga keseimbangan dunia luar dan batin kita dengan segala kecenderungan.

Guan Yin Tangan Seribu

Seperti kita sebutkan bahwa salah satu bentuk Guan Yin yang terkenal adalah GuanYin bertangan seribu ( bermata seribu) atau Qian-shou qian-yan Guan Yin. Sebetulnya kalau kita hitung dengan teliti,jumlah lengannya hanya 39 dan masing – masing menggenggam benda pusaka keagamaan, yang terbanyak berupa bunga dan senjata penakluk iblis. Pada tiap telapak tangan terdapat sebuah mata.

Dalam legenda dikisahkan pada waktu ia sedang dalam meditasi dan merenungkan tugasnya untuk menyelamatkan dan kebahagiaan semua mahluk yang berdosa, kepalanya tiba – tiba terbelah menjadi seribu kepingan, tepat pada saat ia menyadari betapa berat dan besarnya hal yang dilakukan itu.O-mi-tuo-fo (Amitabha), Bapak pembimbingnya, cepat datang untuk menolong dan menghidupkan kembali Guan Yin serta juga memberikan kesakitan untuk berubah menjadi bentuk kepala seribu itu. Matanya yang seribu, melambangkan watak Guan Yin yang penuh belas kasihan, mampu melihat segala hal, sedangkan tangan seribu melambangkan kemampuannya menolong umat manusia dimana saja dan kapan saja.

Semua bentuk Guan Yin baik itu wanita atau pria berkepala tunggal atau ganda, bertangan sepasang atau banyak , dengan ekspresi wajah bengis atau penyabar, mempunyai arti sendiri – sendiri. Dan yang harus diingat, apapun bentuknya, GuanYin tetap menampilkan wataknya yang pengasih dan penyayang,bahkan walau ditampilkan dalam bentuk bermata dan bertangan seribu, sekalipun, beliau tidak kehilangan watak aslinya yang luhur.

Di kelenteng Pu Ning Si yang terletak di dalam komplek Istana Kekaisaran untuk persinggahan musim panas, di Chengde, Tiongkok Utara,terdapat sebuah patung Guan Yin yang bertangan seribu terbuat dari pahatan kayu, yang merupakan patung kayu terbesar di dunia, patung ini tingginya 22 meter dan dibikin pada tahun 1755.

Kemukjijatan Guan Yin

Diantara para Dewata yang dipuja di klenteng – klenteng, Guan Yin bagi penganutnya dianggap paling sering menurunkan kemujijatan. Seorang yang telah membaca mantra : Namo Da-Bei Guan Shi Yin Pu Sa, dengan penuh ketulusan akan menerima pertolongannya lambat atau cepat, tergantung dari karma orang tersebut pada saat mengucapkan, dan kadar kesungguhan dari mantranya.

Kemujijatan Guan Yin banyak disaksikan dan diceritakan oleh para pemujanya. Kalau kita pernah bertatap muka dengan mereka, tentu ada saja keajaiban yang dituturkan selama memuja Guan Yin. Seperti Perawan Suci, Maria, dalam agama katholik, yang seringkali dilaporkan menampakkan diri atau melakukan mujijat penyembuhan seperti di Lourdes, atau patungnya mencucurkan air mata, begitu juga Guan Yin Pu Sa. Yang kami tulis disini ada beberapa peristiwa baik yang dicatat dalam kitab suci maupun pengalaman atau kesaksian seseorang :

1. Yang termuat dalam kitab penting Agama Buddha, fayuan-zhu-lin, antara lain menceritakan tentang hal ihwal Sun Jing De (Sun Keng Tek – Hokkian). Sun Jing De adalah seorang pegawai negeri bagian urusan social di kota Dingzhou, yang hidup di negeri Wei. Sun Jing De ini sangat tekun bersembahyang kepada Guan Yin dan juga telah membuat sebuah patung Sang Dewi.

Suatu ketika ia dilibatkan dalam suatu peristiwa perampokkan oleh salah seorang pelakunya. Tanpa pemeriksaan dan penelitian lagi, Sun Jing De secara serampangan lalu dijatuhi hukuman mati. Malam menjelang pelaksanaan hukuman mati, ia bermimpi bertemu seorang pendeta yang mengajarinya untuk membaca Do’a yang kemudian terkenal dengan nama Gao Wang Guan Shi Yin Jing, (Ko Ong Kuan Si Im Keng – Hokkian) sebanyak seribu kali agar dapat terbebas dari kematian. Paginya, pada saat digiring ke tempat pelaksanaan hukuman mati, Sun Jing De terus membaca do’a itu.

Tepat pada pelaksanaan hukuman mati akan dilaksanakan, Sun Jing De berhasil mencapai jumlah do’a keseribu, dan pada saat golok lagojo menabas batang lehernya, terjadilah mujijat. Golok itu pecah menjadi dua. Semua orang yang hadir di tempat situ heran. Samapai tiga kali algojo mengganti goloknya, tapi tetap saja Sun Jing De tidak terluka sedikitpun. Ketika diteliti pada leher, patung Guan Yin buatan Sun Jing De di rumahnya, ternyata terdapat tiga garis seperti bekas benda tajam. Menerima laporan ini, perdana menteri negeri itu, Gao Huan, lalu memerintahkan agar Sun Jing De dibebaskan dari semua perkara, dan dianjurkan agar do’a Gao Wang Guan Shi Ying Jing itu ditulis dan disebarkan. Sejak itu dari do’a penolong Guan Yin ini terkenal sampai sekarang.

2. Sun Dao De, seorang yang hidup pada jaman dinasti Jin, sangat gemar berdo’a. pada umur 50 tahun belum dikarunia seorang anak. Seorang bikkhu yang tinggal dalam kelenteng dekat rumahnya menganjurkan agar membaca Guan Yin Jing (Koan Im Keng) sejak itu tak lama lagi isteri hamil dan kemudian melahirkan anak laki – laki.

3. Pada tahun 1923 bulan Maret, seorang perwira angkatan darat yang sering disebut sebagai Zhang Jiang-Jun, berangkat bersama keluarganya dari Shanghai ke Nanjing dengan pesawat terbang. Setelah mengudara beberapa saat, tiba-tiba pesawat itu mengalami gangguan mesin dan mulai tidak dapat dikuasai. Zhang Jiang-jun yang biasanya sering membaca Do’a penolong Guan Yin, lalu mengajak semua orang yang ada di situ untuk berdo’a bersama. Baru saja berdo’a, dari jendela pesawat tampak Dewi Guan Yin muncul dengan tersenyum diantara awan, dan pesawat yang hamper menhunjam ke bumi itu mendadak dapat kembali naik dengan mesin hidup kembali. Sekretaris Zhang Jiang-jun sempat memotret wajah Guan Yin yang muncul diantara awan itu.

4. Pada tahun 1973 seorang perwira angkatan udara Amerika (USAF) yang sedang mengadakan penerbangan patroli di atas selat Taiwan, melihat segerombolan awan hitam yang bentuknya aneh, dia lalu memotretnya. Setelah hasil bidikan kamera itu dicuci, tampaklah gambaran Guan Yin sedang berdiri di atas seekor naga yang sedang terbang. Peristiwa ini sanggat menggemparkan dan sempat dimuat oleh beberapa surat kabar terkemuka.

5. Peristiwa ajaib terjadilah pada tahun 1977 bulan Juni. Patung Guan Yin besar yang ada di Port Stanley, Hongkong telah bergerak secara ajaib. Kejadian didahului dengan memancarnya sinar dari batu permata yang ditempelkan pada dahi patung yang bersangkutan, dan disaksikan oleh banyak umat yang pada waktu itu sedang khitmah berdo’a. berita ini sempat dikutip oleh Pikiran Rakyat, Bandung, terbitan 7 – 6 – 1977, dari salah satu harian di Hongkong.

6. Seorang penulis dari Malaysia, Guan Ming, menceritakan pengalamannya yang dimuat dalam buku yang berjudul “Popular Deities of Chinese Buddhisme” terbitan tahun 1985. pada pemulaan tahun 1979 penulis itu mengalami suatu peristiwa spiritual luar biasa yang telah merubahnya menjadi penganut Buddhist yang taat.

Berminggu- minggu ia berdoa kepada Tuhan untuk kesembuhan adik lelakinya yang mengidap kanker ganas. Rupanya do’a itu didengar oleh Yang Maha Kuasa dan secara tidak terduga Guan Yin Pu Sa muncul dihadapannya. Guan Yin tidak hanya menjanjikan kesembuhan buat adik lelakinya, tetapi juga mengatakan bahwa ia akan dikarunia seorang putra tahun berikutnya. Adiknya yang dinyatakan dokter hanya dapat bertahan hidup beberapa minggu lagi, ternyata sembuh total, dan dikaruniai seorang anak laki – laki pada tahun 1980, tepat seperti yang telah diucapkan oleh Guan Yin. Sejak itu sang penulis lalu mendirikan perkumpulan do’a Guan Yin yang berpusat di Malaysia, untuk menyebarkan agama Buddha dan memuja Guan Yin.

Pemujaan Guan Yin

Di atas telah kita singgung sedikit, bahwa pusat pemujaan Guan Yin terletak di Pu Tuo Shan, sebuah pulau kecil di sebelah timur Kabupaten Dinghai, Propinsi Zhejiang. Tiap tahun, terutama pada musim semi dan panas, para peziarah yang berjumlah puluhan ribu berbondong – bondong datang ke sini untuk bersembahyang.

Mula – mula pulau ini bernama Hai Qin Shan, nama ini tetap digunakan untuk sebuah bukit kecil yang terletak di bagian selatan pulau ini. “Pu Tuo” adalah sebuah istilah Buddha, yang berarti gunung suci Putoloka di India. Sebelah tenggara gunung ini terletak pulau Srilangka. Menurut Johnston dalam buku yang berjudul “Buddhist China”, Putoloka adalah puncak bagian barat dari pegunungan Malaya di bagian selatan India. Di Tiongkok ada dua tempat yang dinamakan Pu Tuo Shan. Yang satu adalah yang telah kita bicarakan yaitu sebelah timur propinsi Zhejiang, yang satu lagi terdapat di Tibet.

Jadi Pu Tuo adalah kependekkan dari Putoloka, Pu Tuo berarti bunga putih, sedangkan “loka” berarti gunung. Sebab itu pengarang – pengarang jaman dinasti Yuan menyebut Pu Tuo Shan sebagai Xiao Bai Hua Shan (Gunung Bunga Putih Kecil). Konon memang gunung Pu Tuo Shan banyak ditumbuhi oleh bunga putih yang dalam bahasa Latin disebut Gardenir Florida.

Pendeta – pendeta jaman dinasti Tang, karena melihat bunga – bunga ini lalu memilih gunungnya sebagai pusat pemujaan, ataukah melihat gunungnya lebih dahulu baru kemudian menanam bunganya, sulit diterangkan.
Para pemuja Guan Yin menganggap tanggal 29 bulan 8 Imlik sebagai tanggal perayaan kelahirannya (sebagian ada yang merayakan pada tanggal 19 bulan 2 Imlik), karena dalam setahun, pada tanggal itulah ombak paling besar, dikaitkan dengan Guan Yin sebagai Dewi Pelindung Lautan.

Tapi kalangan awam cenderung untuk menganggap Guan Yin adalah nama gabungan dari beberapa Guan Yin Pu Sa. Ada Guan Yin Pu Sa sebagai pelindung lautan, Guan Yin Pu Sa sebagai Dewi Pemberi Anak dan lain – lain yang masing – masing dicarikan hari lahir tersendiri. Ini menyebabkan kita sering menemui perayaan hari lahir Guan Yin Pu Sa tidak sama diberbagai tempat dalam setahun, kecuali bulan yang – 12 dalam 11 bulan lainnya tentu terdapat hari lahirnya, yang berarti juga hari vegetarian (Ciak Jay), bagi para pemujanya.

Di Guang Zhou, tanggal 24 bulan 2 Imlik, sering dianggap sebagai hari lahir Guan Yin Pengantar Anak. Pria dan wanita dari berbagai pelosok perkumpulan menjadi satu dalam suatu perayaan yang disebut Sheng Cai Hui (perayaan sayur mentah). Para pengikut upacara biasanya datang ke pusat perayaan dengan membeli sayur mentah, dengan harapan memperoleh tuah melahirkan anak, sebab “Sheng Cai” (yang berarti sayur mentah) dan “Sheng Zai” (yang berarti melahirkan anak), punya suara yang mirip. Di tempat perayaan dibuat kolam kecil.

Dalam kola mini sebelumnya telah dimasukkan sejumlah kerang dan keong. Orang – orang yang datang kemari memasukkan tangannya ke dalam kolam, kalau yang terambil adalah keong, maka ia boleh berharap memperoleh anak lelaki, tapi kalau kerang yang terambil, harapannya anak perempuan.

Kebiasaan ini asal – usulnya dapat ditelusuri pada masa pemerintahan Kaisar Wen Zong (827 – 840 M). Kaisar Wen Zong gemar sekali akan tiram. Pada suatu hari ia menemukan tiram yang besar, yang kulitnya keras sekali. Setelah berhasil dibuka ternyata didalamnya terdapat patung Guan Yin kecil Kaisar terperanjat, barulah setelah mendengar penjelasan dari para ahli filsafat kerajaan, ia sadar dan menjadi penganut Guan Yin yang tekun, dan banyak mendirikan kelenteng untuk Guan Yin. Pemujaan Guan Yin sejak itu jadi sangat berkembang, Kaisar meninggal tahun 840, dan kelenteng di Pu Tuo Shan selesai didirikan pada tahun 847 M.

Para pemuja Guan Yin berpantang makanan daging sapi, burung dara, udang, ikan yang tidak bersisik, sarang burung (Yan – oh), daging kuda, daging anjing, bulus dan jenis kerang. Harapan mereka terbesar adalah dapat melihat wajah Guan Yin. Mereka yang pergi ke Pu Tuo Shan pasti menyempatkan diri memasuki gua dimana Guan Yin pernah menampakkan diri. Ada yang sampai membakar sepuluh jarinya dengan api lilin, agar bisa meraga sukma dan bertemu sang Dewi.

Kebiasaan ini jelas berasal dari India. Konon orang yang melakukan cara itu tidak ada yang tidak berhasil melihat Guan Yin. Meskipun ada variasi di berbagai daerah tentang hari lahir Guan Yin, tapi secara garis besar dapat dikatakan umumnya ada 3 hari besar untuk menghormati Dewi Welas Asih ini. Ke 3 hari besar tersebut adalah :
1). Tanggal 19 bulan 2 Imlik adalah hari kelahirannya.
2). Tanggal 19 bulan 6 Imlik adalah hari menjadi Pendeta.
3). Tanggal 19 bulan 9 Imlik adalah hari memperoleh penerangan.

Pada hari – hari ini, para pemuja yang telah merasa pernah memperoleh pertolongan Guan Yin berbondong – bondong memenuhi kelenteng pemujaan Guan Yin, membawa barang persembahan, melepaskan burung – burung dan binatang lain, melakukan pantang makan berjiwa, melaksanakan perbuatan amal dengan berkunjung ke rumah jompo dan rumah penampungan anak caact dan lain – lain kegiatan social dan ritual.

Biasanya ada 5 larangan yang dipatuhi :
1). Tidak membunuh atau menyiksa mahluk hidup lain.
2). Tidak mencuri atau mengambil yang bukan jadi haknya.
3). Tidak berbuat jinah.
4). Tidak berbohong atau membual.
5). Tidak minum minuman keras atau barang lainnya.

Biasanya sepanjang hari diisi dengan acara pembacaan kitab suci dan meditasi secara masal, serta perenungan. Yang lebih tekun biasanya melakukan pembacaan parita dan meditasi untuk kebahagiaan semua umat manusia sampai beberapa hari. Guan Yin tidak hanya dipuja di kelenteng – kelenteng, di daratan tiongkok, Hongkong, dan Taiwan.

Seiring dengan menyebarnya orang Tionghoa perantauan di Asia Tenggara, maka di Malaysia, Singapura dan Indonesia juga banyak dijumpai kelenteng yang khusus diperuntukkan Guan Yin.

Khusus di Jawa terbesar adalah kelenteng Dewi Welas Asih di Banten, Jawa Barat. Selain itu, tidak terhitung banyaknya rumah yangmemujanya dalam sebuah altar pribadi, baik di kota – kota besar sampai jauh di desa kecil di pegunungan. Dewata lain mungkin dipuja dan dihormati bercampur rasa takut, tapi Guan Yin begitu dekat di hati, ia dihormati sekaligus dicintai. Dewata lain mungkin berwajah bengis dan angker. Tapi Guan Yin selalu tersenyum lemah lembut dan bersahaja.
Begitu dekat pengaruh Guan Yin dalam masyarakat, sampai – sampai seorang gadis akan sangat bangga apabila ia disebutkan sebagai ia mirip dengan Guan Yin hidup. Memang Guan Yin dari dulu sampai sekarang juga dianggap sebagai lambang kecantikan dengan bibir merah, kulit halus, alis lentik dan langkah yang lemah gemulai.

Sebagai garis besar, di kalangan rakyat, Guan Yin dianggap Boddhisatva penolong bagi orang yang sedang dalam kesusahan dan kesengsaraan. Juga dianggap penolong roh – roh yang mengalami penderitaan di neraka, sebab itu ia ditampilkan dalam sembahyang memberi makan roh – roh kelaparan yang jatuh pada bulan 7 Imlik, dengan nama Pu Du Gong (atau tuan yang menolong penyeberangan). Secara umum ia dipanggil Guan Yin Fo Zhu atau Guan Yin Ma dan lain – lain, sebutan akrab. Begitulah kira – kira betapa meresapnya pemujaan Guan Yin dalam masyarakat.

Dalam sejumlah kitab Tiongkok klasik, disebutkan ada 33 (tiga puluh tiga) rupa perwujudan Kwan Im Pho Sat, antara lain :
1. Kwan Im Berdiri Menyeberangi Samudera;
2. Kwan Im Menyebrangi Samudera sambil Berdiri diatas Naga;
3. Kwan Im Duduk Bersila Bertangan Seribu;
4. Kwan Im Berbaju dan Berjubah Putih Bersih sambil Berdiri;
5. Kwan Im Berdiri Membawa Anak;
6. Kwan Im Berdiri diatas Batu Karang/Gelombang Samudera;
7. Kwan Im Duduk Bersila Membawa Botol Suci & Dahan Yang Liu;
8. Kwan Im Duduk Bersila dengan Seekor Burung Kakak Tua.

Legenda Kakak - Kakak Putri Miao Sin :

Bun Cu Pho Sat / Wen Shu Phu Sa.

Beliau adalah Bodhisatva Lambang Kebijaksanaan Yang Luar Biasa. Kata Bun Cu Pho Sat berasal dari bahasa Sansekerta yang bermakna Manjusri Bodhisatva, yang artinya “Bodhisatva Dengan Keagungan Yang Lemah Lembut”.

Tokoh Manjusri berasal dari tanah India dan setelah agama Buddha memasuki daratan Tiongkok, tokoh ini mengalami perubahan gender. Sama seperti tokoh Avalokitesvara Bodhisatva, tokoh ini awalnya adalah sosok seorang pria. Menurut kitab-kitab Mahayana kuno, dituturkan bahwa Manjusri adalah tokoh yang dalam berbagai kehidupanNya yang lampau (Reinkarnasi) sering kali menjadi orang tua dari para Buddha.

Dipercaya bahwa Budha Sakyamuni adalah keturunan Manjusri setelah 9 (sembilan) generasi. Selain itu juga dituturkan juga bahwa Manjusri adalah Kepala Pengawas Para Bodhisatva. Probabilitas perubahan gender Manjusri di Tiongkok terjadi bersamaan dengan perubahan yang dialami oleh Avalokitesvara, dengan latar belakang yang sama. Berdasarkan pada legenda Puteri Miao Shan, setelah Miao Shu diangkat menjadi Pho Sat,

Beliau dinamakan Bun Cu Pho Sat dan berkedudukan di gunung Wu Tai Shan. Tugas Bun Cu Pho Sat adalah mengajar umat manusia agar terbebas dari kegelapan bathin. KepadaNya diberikan binatang tunggangan berupa seekor Singa Hijau, yang asalnya adalah siluman api. Sebenarnya singa hijau tersebut melambangkan nafsu pikiran yang liar, yang hanya dapat ditundukkan dengan bermeditasi.

Seperti yang telah diceritakan di atas, Bun Cu Pho Sat umumnya ditampilkan sebagai seorang puteri yang mengendarai atau duduk di atas punggung seekor Singa Hijau. Kadang ditampilkan dengan membawa pedang, yang disebut pedang kebijaksanaan, dan membawa gulungan kertas yang diikat tali, yang isinya adalah ajaran kebijaksanaan. Bun Cu Pho Sat boleh dikatakan tidak pernah tampil sendirian, umumnya ditampilkan dalam bentuk 3 (tiga) serangkai, yaitu Bun Cu Pho Sat – Kwan Im Pho Sat – Pho Hian Po Sat.

Po Hian Pho Sat / Pu Xian Phu Sa.

Beliau adalah Bodhisatva Lambang Sila atau Moralitas Yang Sangat Luhur. Kata Po Hian Pho Sat berasal dari bahasa Sansekerta yang bermakna Samantabhadra Bodhisatva, yang artinya “Bodhisatva Yang Memiliki Kebajikan Universal”.

Sama seperti tokoh Kwan Im Pho Sat dan Bun Cu Pho Sat, tokoh Po Hian Pho Sat juga berasal dari India dan mengalami perubahan gender di daratan Tiongkok karena pengaruh legenda Puteri Miao Shan.

Menurut Kitab Buddhis Mahayana Kuno, dituturkan bahwa Samantabhadra Bodhisatva sesungguhnya memiliki tubuh yang besarnya tiada batas. Karena ingin turun ke dunia untuk membantu orang-orang yang sengsara, Beliau mengubah wujudNya menjadi seorang pria yang mengendarai seekor Gajah Putih.

Warna putih sang Gajah ini sungguh luar biasa, bahkan sampai puncak Himalayapun tidak bisa menandinginya (Puncak Himalaya selalu tertutup salju putih). Dalam legenda Puteri Miao Shan dikisahkan bahwa Miao Yin diangkat menjadi Pho Sat dengan nama Po Hian Pho Sat dan berkedudukan di gunung E Mei Shan serta bertugas untuk memberikan kesejahteraan kepada orang banyak.

KendaraanNya adalah seekor Gajah Putih yang berasal dari siluman Air. Gajah Putih ini juga mengandung arti kesucian dari moralitas. Terkadang Gajah tungganganNya ditampilkan dalam bentuk 3 (tiga) kepala dan 6 (enam) gading. Pada umumnya, belalai sang Gajah Putih selalu membawa setangkai bunga teratai, lambang dari ajaran Po Hian Pho Sat yang terkenal yaitu Sutra Bunga Teratai.

Sumber Penulisan :
1. http://forums.siutao.com/viewtopic.php?t=1364
2. Myths and legends of China, E.T.C. Werner

Sejarah Asal Mula Perayaan Ceng Beng


Tradisi ini berasal dari tradisi kerajaan di zaman dulu. Ceng Beng (baca : Qing Ming = cerah dan cemerlang) dipilih karena 15 hari setelah Chunhun, biasanya dipercayai merupakan hari yang baik, cerah, terkadang diiringi hujan gerimis dan cocok untuk melaksanakan ziarah makam. Sebelum zaman Dinasti Qin, ziarah makam hanya monopoli dan hak para bangsawan. Namun setelah Qin Shi-huang mempersatukan Tiongkok dan mengabolisi para bangsawan, rakyat kecil kemudian meniru tradisi ziarah makam ini setiap Ceng Beng.

Sebuah legenda asal mula Ceng Beng menceritakan tentang kaum Cina yang memang punya tradisi yang sedikit banyak tertuju pada peringatan leluhur (sebutannya “kia hao” atau “filial piety”, alias “rasa hormat anak pada orang tua/leluhurnya”) . Makanya di rumah-rumah Cina banyak ditemukan rumah abu atau meja sembahyang leluhur. Karena itulah, nyekar juga menjadi satu kegiatan wajib.

Legenda 1
Hari *Ceng Beng* bermuasal dari zaman *Chun Qiu Zhan Guo *(Musim semi-gugur dan negara saling berperang, abad 11-3 SM), adalah salah satu hari perayaan tradisional suku Han (suku mayoritas di Tiongkok), sebagai salah satu dari 24 *Jie Qi *(sistem kalender Tiongkok), waktunya jatuh antara sebelum dan sesudah 5 April Masehi.

Sesudah hari *Ceng Beng*, di Tiongkok semakin banyak hujan, bumi dipenuhi dengan panorama kecemerlangan musim semi. Pada saat itu semua makhluk hidup "melepaskan yang lama dan memperoleh yang baru", tak peduli apakah itu tanaman di dalam bumi raya, atau tubuh manusia yang hidup berdampingan secara alamiah, semuanya pada saat itu menukar pencemaran yang diperoleh pada musim dingin/salju untuk menyambut suasana musim semi dan merealisasi perubahan dari *Yin *(unsur negatif) ke *Yang* (unsur positif).

Konon, sesudah Yu agung (Âçã», raja pada zaman Tiongkok kuno, abad ke-22 SM) menaklukkan sungai, maka orang-orang menggunakan kosa kata *Qing Ming *(di Indonesia terkenal dengan *Ceng Beng*) untuk merayakan bencana air bah yang telah berhasil dijinakkan dan kondisi negara yang aman tenteram.

Pada saat itu musim semi nan hangat bunga bermekaran, seluruh makhluk hidup bangkit, langit cerah bumi cemerlang, adalah musim yang baik untuk berkelana menginjak rerumputan (Ta Qing). Kebiasaan tersebut telah dimulai sejak dinasti Tang (618-907).

Saat *Ta Qing*, orang-orang selain dapat menikmati panorama indah musim semi, juga sering dilangsungkan beraneka kegiatan hiburan untuk menambah gairah kehidupan.

Legenda 2
Konon, jaman dahulu, terutama bagi orang-orang yang berduit dan berharta, nyekar itu tidak hanya diadakan sekali setahun, tapi bisa berkali-kali (dua kali sebulan bahkan). Dan acara ini dibuat penuh dengan kemewahan dan benar-benar mempertontonkan kekayaan. Kaum sanak keluarga ditandu ke sana lalu ke mari, diiringi dayang-dayang dan pengawal yang berjumlah banyak, makanan yang dibawa itu pasti yang enak-enak dan bunga yang disiapkan juga yang mahal dan harum-harum.

Suatu hari, Kaisar Tang Xuanzong melihat semuanya ini seperti pemborosan massal saja. Dia pun menitahkan agar semua membatasi diri dan hanya mengadakan acara nyekar ini sekali setahun. Dan ia menetapkan hari Ceng Beng (limabelas hari setelah Chunhun, atau hari di mana matahari tiba di katulistiwa) sebagai hari baik untuk ini. Selain karena Ceng Beng adalah hari baik (arti kata Ceng Beng, atau Qing Ming, adalah “cerah dan terang”), hari ini dipilih karena banyak petani sudah selesai panen dan punya waktu senggang untuk mengunjungi makam leluhur. Jadilah Ceng Beng bukan hanya kegiatan orang kaya, tapi kegiatan untuk semua orang.

Legenda 3

Kesederhanaan Ceng Beng juga berkaitan erat dengan cerita Kaisar Cong Er dari Dinasti Tang. Seperti kisah Cina kuno lainnya, latar belakangnya adalah kudeta. Pada masa pelarian (karena berselisih dengan selir kejam) ketika masih jadi putra mahkota Cong Er ini ditemani oleh teman (dan bawahan) yang sangat setia, Jie Zhitui namanya. Saking setianya, dia rela untuk mengorbankan dagingnya supaya si pangeran ini bisa makan dan nggak mati kelaparan. Suatu hari, tiba kabar bahwa Cong Er sudah tidak perlu lari lagi, karena ibu tirinya sudah mati. Bersiaplah Cong Er untuk kembali ke istana dan jadi kaisar. Tapi Je Zhitui menolak untuk ikut balik ke istana, dan menyepi ke sebuah gunung bersama Ibunya.

Cong Er yang sudah jadi kaisar itu tetep kukuh meminta temannya balik dan hidup bahagia di istana. tapi Jie Zhitui bukannya balik ke istana malah semakin bersembunyi ke pedalaman gunung. Cong Er yang sudah habis akal menyuruh prajuritnya untuk membakar gunung, dengan maksud supaya Jie Zhitui keluar dari persembunyian. Tetapi, yang terjadi bukannya keluar, malah Jie Zhitui dan Ibunya tewas terbakar.
Sedihlah sang kaisar. Lalu ia mencanangkan Hari Hanshi (Hari Makanan Dingin), satu hari dalam setahun (setiap tahunnya) di mana orang-orang tidak boleh memasak/memanaskan makanan dengan api. Lambat laun Hanshi pun diintegrasikan ke dalam perayaan Ceng Beng, di mana makanan yang disediakan itu dingin dan hambar.

Legenda 4
Cerita legenda yang lain menyebutkan tentang seorang Raja yang sudah bertahun-tahun pergi berperang (jaman perang antar kerajaan di Cina dulu), namun berakhir dengan kekalahan dan menjadi tawanan perang yang tidak terhormat di negeri lawan. Tapi raja ini tidak tinggal diam dan diam-diam mengumpulkan sekutu untuk mempersiapkan serangan balas dendam. Singkat cerita raja ini berhasil melakukan balas dendam dan negaranya pun kembali ke dalam tangannya.

Sewaktu ia kembali ke rumah, dia baru tahu kalau orang tuanya sudah lama meninggal — dibunuh oleh raja musuh. Dan parahnya lagi tidak ada yang tau di mana orang tua sang raja dimakamkan. Sang Raja akhirnya punya akal dan mencanangkan hari kunjungan makam leluhur. Pada hari yang telah ditentukan, semua orang di negaranya harus dan wajib nyekar. Logikanya, makam yang sepi dan nelangsa, pastilah makam orang tuanya. Sejak hari itulah, setiap tahun semua wajib nyekar ke makam leluhur.

Secara Awam, masih banyak yang belum jelas bahwa sebenarnya mengapa Ceng Beng itu selalu jatuh pada 5 April setiap tahunnya, dan bukannya mengikuti penanggalan kalender Imlek. Dalam tradisi Tionghoa, ada 2 penanggalan yang menggunakan penanggalan masehi. Yakni Ceng Beng dan Tang Che/Festival musim dingin.

Kelihatannya, kalender Tionghoa itu kalender bulan, tidak begitu halnya, karena ada faktor peredaran matahari di dalamnya, yaitu 24 posisi matahari. 1 posisi matahari adalah berjangka waktu 15 hari, ada 2 posisi matahari dalam 1 bulan. Posisi ini telah ada sejak zaman Huangdi (2697 SM, 4700 tahun lalu) didasarkan atas 12 cabang bumi yang diciptakan olehnya.

Penanggalan Tionghoa sendiri memperhitungkan peredaran matahari karena Tiongkok sejak dulu adalah negara agrikultur, mayoritas penduduk Tiongkok adalah petani dan petani harus menanam sesuai musim. Musim bergantung pada peredaran matahari, sehingga posisi matahari ditambahkan dalam kalender Tionghoa.

Adapun posisi penting peredaran matahari dalam kelender Tionghoa adalah :
1. Lipchun (mulai musim semi), tanggal 5 Februari
2. Chunhun (tengah musim semi), tanggal 21 Maret (matahari berada di khatulistiwa)
3. Ceng Beng (cerah dan terang), tanggal 5 April
4. Heche (tengah musim panas), tanggal 21 Juni (saat ini matahari berada pada 23.5 LU, siang terpanjang di belahan bumi utara/Tiongkok)
5. Chiuhun (tengah musim gugur), tanggal 23 September (matahari berada di khatulistiwa)
6 Tangche (tengah musim dingin), tanggal 22 Desember (saat ini matahari berada di 23.5 LS, malam terpanjang di belahan bumi utara/Tiongkok).
Dari 24 posisi matahari ini, maka Ceng Beng dan Tangche dijadikan festival penting dalam kebudayaan Tionghoa.

Kegiatan yang dilakukan berkaitan dengan Ceng Beng
Pada jaman dinasti Tang, implementasi hari Ceng Beng hampir sama dengan kegiatan sekarang, misalnya seperti membakar uang-uangan, menggantung lembaran kertas pada pohon Liu, sembayang dan membersihkan kuburan.
Yang hilang pada saat ini adalah menggantung lembaran kertas, yang sebagai gantinya lembaran kertas itu ditaruh di atas kuburan.

Kebiasaan lainnya adalah bermain layang-layang, makan telur, melukis telur dan mengukir kulit telur. Permainan layang-layang dilakukan pada saat Ceng Beng karena selain cuaca yang cerah dan langit yang terang,kondisi angin sangat ideal untuk bermain layang-layang.
Konon, ada orang setelah layang-layang berkibar di langit biru, memutus talinya, mengandalkan angin mengantarnya ke tempat nan jauh, konon ini bisa menghapus penyakit dan melenyapkan bencana serta mendatangkan nasib baik bagi diri sendiri.

Kebiasaan berikutnya adalah menancapkan pohon *Willow*: konon, kebiasaan menancapkan dahan *willow*(pohon Yangliu), juga demi memperingati *Shen Nong Shi*, yang dianggap sebagai guru leluhur pertanian dan pengobatan. Di sebagian tempat, orang-orang menancapkan dahan* willow *di bawah teritisan rumah, untuk meramalkan cuaca. Sesuai pameo kuno "Kalau dahan *willow* hijau, hujan rintik-rintik; kalau dahan *willow* kering, cuaca cerah". *Willow* memiliki daya hidup sangat kuat, dahannya cukup ditancapkan langsung hidup, setiap tahun menancapkan dahan willow, dimana-mana rimbun.

Sedangkan sejarah pohon Liu dihubungkan dengan Jie Zitui, karena Jie Zitui tewas terbakar di bawah pohon liu.

Kebiasaan lain adalah bermain ayunan *Qiu Qian *(ðãðè): ini adalah adat kebiasaan hari *Ceng Beng* zaman kuno. Sejarahnya panjang, ayunan pada zaman dulu kebanyakan menggunakan dahan sebagai rangka kemudian ditambatkan selendang atau tali.
Akhir-nya berkembang menjadi 2 utas tali ditambah papan kayu sebagai pijakan kaki yang dipasang pada rangka balok kayu yang hingga kini digemari, terutama oleh anak-anak seluruh dunia.

Selain itu ada kebiasaan bermain *Cu Ju *(sepak bola kuno): *Ju* adalah semacam bola yang terbuat dari kulit, di dalam bola tersebut diisi bulu hingga padat. *Cu Ju *menggunakan kaki untuk menyepak bola (Mirip sepak bola saat ini). Ini adalah semacam permainan yang digemari oleh orang-orang pada saat *Ceng Beng *pada zaman kuno. Konon ditemukan oleh *Huang Di *(kaisar Kuning), pada awalnya bertujuan untuk melatih kebugaran para serdadu.

Ada juga kebiasaan untuk Menanam pohon: sebelum dan sesudah *Ceng Beng*, matahari musim semi menyinari, hujan rintik musim semi betebaran, menanam tunas pohon berpeluang hidup tinggi dan dapat tumbuh dengan cepat. Maka, semenjak zaman kuno, di Tiongkok terdapat kebiasaan menanam pohon di kala *Ceng Beng*. Ada orang menyebut hari *Ceng Beng* sebagai "hari raya penanaman pohon". Kebiasaan ini berlangsung hingga hari ini.

Pada dinasti Song (960-1279) dimulai kebiasaan menggantungkan gambar burung walet yang terbuat tepung dan buah pohon liu di depan pintu. Gambar ini disebut burung walet Zitui. Kebiasaan orang-orang Tionghoa yang menaruh untaian kertas panjang di kuburan dan menaruh kertas di atas batu nisan itu dimulai sejak dinasti Ming.

Menurut cerita rakyat yang beredar, kebiasaan seperti itu atas suruhan Zhu Yuanzhang, kaisar pendiri dinasti Ming,untuk mencari kuburan ayahnya. Dikarenakan tidak tahu letaknya, ia menyuruh seluruh rakyat untuk menaruh kertas di batu nisan leluhurnya. Rakyat pun mematuhi perintah tersebut, lalu ia mencari kuburan ayahnya yang batu nisannya tidak ada kertas dan ia menemukannya. (Dalam kisah ini agak berkaitan dengan Legenda 4 diatas. Namun karena ditemukan pada literatur yang berbeda, penyusun tidak berani mengambil kesimpulan sendiri. Mohon bagi yang lebih paham ceritanya memberikan masukan).

Seperti perayaan lainnya, Ceng Ceng juga memiliki makanan khas seperti makan telur yang kulitnya sudah dilukis, tapi untuk telur yang diukir tidak dimakan. Selain itu ada beberapa yang mungkin tidak pernah ada di Indonesia ini seperti makanan dari daun Ai yang menjadi ciri khas suku Khe, bubur dingin, ciri khas rakyat dibawah kaki gunung Mian, serta Qing tuan adalah makanan khas Qingming dari daerah Suzhou.

Pesan Moral Perayaan Ceng Beng :
Festival Ceng Beng pada akhirnya terkait dengan pilar-pilar budaya Tionghoa yaitu
penghormatan leluhur, makanan, kekerabatan, keselarasan dan harmony, setia, berbakti, dan juga kebersamaan.
Dan hal itu tidak hanya ada pada festival Ceng Beng saja tapi tercermin pada semua festival Tionghoa yang ada.

Dengan menghormati leluhur berarti kita harus menjaga sikap hidup kita agar
tidak mencoreng nama leluhur. Semoga pada perayaan festival Ceng Beng ini kita menyadari bagaimana cara kita menghormati leluhur, caranya sederhana yaitu berikanlah kontribusi positif pada lingkungan kita dan selalulah menjaga perilaku kita agar tidak memalukan para leluhur.

Sumber Penulisan:
1. Berdasarkan cerita turun temurun Masyarakat Tionghoa Indonesia.
2. http://www.hoktekbio.com/index.php?option=com_content&view=article&id=62:qing-ming-ceng-beng&catid=27:ritual-a-budaya&Itemid=72
3. http://www.wihara.com/forum/artikel-buddhist/6742-cengbeng.html
4. http://www.chinapage.com/festival/qingming.html
5. TRADITIONAL CHINESE CULTURE by Qizhi Zhang.
6. The Legend of the Kite: A Story of China(Make Friends Around the World)by Kuiming Ha, Yiqi Ha. Published by Soundprints
7. http://www.indoforum.org/archive/index.php/t-41419.html
8. http://groups.yahoo.com/group/budaya_tionghua/message/42410
9. Dong Zhou Lie Guo Zhi (東周列國志), Feng, Menglong, 1574-1646, 2008.(pertama terbit 1752, Shanghai shu ju)
10. Buletin Maya Indonesia Dharma Mangala, 9 Maret 2004, tahun I, no 7
11. http://groups.yahoo.com/group/budaya_tionghua/message/42410

Selasa, 16 Maret 2010

Asal Usul Tandu Pengantin Cina

Tandu merupakan salah satu kendaraan yang sering digunakan pada jaman dahulu oleh orang-orang Tionghoa yang kaya, sedangkan yang kurang mampu biasanya naik keledai atau berjalan kaki.

Merupakan sebuah kebanggaan tersendiri jika naik tandu dibandingkan keledai yang seringkali ribut. Pada perayaan-perayaan tertentu, seperti pesta pernikahan, tandu digunakan untuk menghantar pengantin wanita ke rumah pengantin pria, baik oleh orang kaya maupun orang miskin.

Ada asal usul mengapa tandu digunakan pada pesta pernikahan.

Terdapat seorang kaisar bijaksana yang sering melakukan kunjungan ke berbagai daerah. Suatu saat sang kaisar dan para anak buahnya sedang berlalu di sebuah perbukitan, tiba-tiba pemandu memberi tahu bahwa iring-iringan akan terhalang oleh iring-iringan lain.

Maka sang kaisar keluar dari tandu untuk melihat apa yang sedang terjadi. Sebuah iring-iringan pernikahan penuh kegembiraan sedang berjalan dengan pengantin wanita mengendarai keledai. Melihat kejadian menggembirakan itu, sang kaisar turut bergembira.

Pada saat kedua rombongan bertemu , rombongan pengantin wanita yang tidak mengetahui bahwa rombongan didepan adalah rombongan kaisar, tidak bersedia mengalah, demikian pula rombongan sang kaisar.

Akhirnya sang kaisar menemukan sebuah ide, ia berkata kepada pengantin wanita, “Tidak hanya aku akan memberikan jalan kepadamu, aku juga akan meminjamkan tanduku jika kamu bisa membuat puisi saat ini juga.”

Pengantin wanita lalu berpuisi, “Melihat rombonganmu, melihat rombonganku. Bukan masalah siapakah pemilik jalan ini. Melihat tandumu, melihat keledaiku. Tidak peduli manakah yang terbaik untuk pesta pernikahanku. Anda haruslah bermurah hati dengan meminjamkan tandu anda. Siapa dapat berkata bahwa saya adalah orang sederhana dan anda orang terhormat. Tidak ada perbedaan disini, hanya sekelompok orang yang ada.”

Sang kaisar sangat terkesan dengan puisi itu, sehingga ia meminjamkan tandunya. Adanya hal itu membuat pesta pernikahan yang ada menjadi semakin menarik perhatian orang ramai.

Sejak itu, setiap pesta pernikahan selalu menggunakan tandu, meskipun terkadang hanya sebuah tandu sederhana.

Meskipun saat ini sudah sangat jarang pesta pernikahan yang menggunakan tandu, namun tandu tetap digunakan pada perayaan-perayaan tradisional.

Sumber Penulisan :
1. http://www.tionghoa.com/50/tandu-pengantin/

Asal Usul Tulisan Kebahagiaan ganda


Sebuah karakter Tionghoa yang banyak dikenal, Kebahagiaan Ganda, yang tertera pada kertas merah atau potongan kertas selalu ada pada saat pernikahan.

Terdapat asal usul dibalik itu.

Pada masa Dinasti Tang, terdapat seorang pelajar yang ingin pergi ke Ibukota untuk mengikuti ujian negara, dimana yang menjadi juara satu dapat menempati posisi menteri.

Sayangnya, pemuda itu tersebut jatuh sakit di tengah jalan saat melintasi sebuah desa di pegunungan. Untung seorang tabib dan anak perempuannya membawa pemuda itu ke rumah mereka dan merawat sang pelajar. Pemuda tersebut dapat sembuh dengan cepat berkat perawatan dari tabib dan anak perempuannya.

Setelah sembuh, pelajar itu harus meninggalkan tempat tersebut untuk melanjutkan perjalanan ke Ibukota. Namun pelajar itu mengalami kesulitan untuk mengucapkan selamat tinggal kepada anak perempuan sang tabib, begitu juga sebaliknya. Mereka saling mencintai.

Maka gadis itu menulis sepasang puisi yang hanya sebelah kanan agar pemuda itu melengkapinya, “Pepohonan hijau dibawah langit pada hujan musim semi ketika langit menutupi pepohonan dengan gerhana”

Setelah membaca puisi tersebut, sang pelajar berkata, “Baiklah, saya akan dapat mencapainya meskipun bukan hal yang mudah. Tetapi kamu harus menunggu sampai aku selesai ujian”. Sang gadis mengangguk-angguk.

Pada ujian negara, sang pelajar mendapatkan tempat pertama, yang mana sangat dihargai oleh kaisar. Pemuda itu juga bercakap-cakap dan diuji langsung oleh kaisar.

Keberuntungan ternyata pada pihak sang pemuda.

Kaisar menyuruh pemuda itu agar membuat sepasang puisi.

Sang kaisar menulis: “Bunga-bunga merah mewarnai taman saat angin memburu ketika taman dihiasai warna merah setelah sebuah ciuman”.

Pemuda itu langsung menyadari bahwa puisi yang ditulis oleh sang gadis sangat cocok dengan puisi kaisar, maka ia menulis puisi sang gadis sebagai pasangan puisi kaisar.

Kaisar sangat senang melihat bahwa puisi yang ada merupakan sepasang puisi yang harmonis dan serasi sehingga ia menobatkan pemuda itu sebagai menteri di pengadilan dan mengijinkan pemuda itu untuk mengunjungi kampung halamannya sebelum menduduki posisinya.

Pemuda itu menjumpai sang gadis dengan gembira dan memberitahu kepada sang gadis puisi dari kaisar.

Tidak lama kemudian mereka menikah.

Untuk pesta perayaan pernikahan, sepasang karakter Tionghoa, bahagia, dipasang bersamaan pada selembar kertas merah dan ditempel di dinding untuk menunjukkan kebahagiaan dari dua kejadian yang bersamaan, pernikahan dan pengangkatan sang pemuda.

Sejak saat itu, tulisan Kebahagiaan Ganda menjadi sebuah tradisi yang dilakukan pada setiap pesta pernikahan.

Sumber Penulisan :
1. http://indoculture.wordpress.com/2008/10/15/kebahagiaan-ganda/

Asal-Usul Tradisi "Bakar Rumah-rumahan Kertas"


Sejak zaman dulu sebenarnya ada 2 jenis kertas yang digunakan dalam tradisi ini, yaitu kertas yang bagian tengahnya berwarna keemasan (Kim Cua) dan kertas yang bagian tengahnya berwarna keperakan (Gin Cua). Menurut kebiasaan-nya Kim Cua (Kertas Emas) digunakan untuk upacara sembahyang kepada dewa-dewa, sedangkan Gin Cua (Kertas Perak) untuk upacara sembahyang kepada para leluhur dan arwah-arwah orang yang sudah meninggal dunia.

Mereka yang mempercayai tradisi ini beranggapan bahwa dengan membakar kertas emas dan perak itu berarti mereka telah memberikan kepingan uang emas dan uang perak kepada para dewa atau leluhur mereka; sebagaimana diketahui kepingan emas dan perak adalah mata uang yang berlaku pada zaman Tiongkok kuno.

Tetapi ternyata kemajuan zaman telah mempengaruhi pula tradisi ini, sekarang yang dibakar bukan hanya kertas emas dan perak, ada pula sejenis uang kertas dengan nilai nominal aduhai (milyaran), yang bentuknya mirip dengan uang kertas yang digunakan pada zaman sekarang. Yang membedakannya adalah kalau pada uang kertas yang berlaku pada umumnya ada yang bergambar kepala negara atau pahlawan, tetapi pada uang kertas yang akan dikirim kepada para leluhur yang telah meninggal ini bergambar Yen Lo Wang (Giam Lo Ong) yakni Dewa Yama, penguasa alam neraka, dan adanya tulisan "Hell Bank Note" (Mata Uang Neraka). Sebenarnya ini adalah salah kaprah yang perlu diluruskan, karena yang semestinya uang-uangan ini dimaksudkan untuk alam baka dan buka neraka. Entah dari mana asal mula timbulnya ide untuk membuat dan membakar uang kertas akhirat seperti itu, mungkin dasar pemikirannya adalah karena sekarang mata uang tidak lagi berupa kepingan emas dan perak, melainkan uang kertas; tentunya di alam sana juga perlu penyesuaian.

Konon tradisi "Bakar Rumah-rumahan dan uang Kertas" ini baru dimulai pada zaman pemerintahan Kaisar Lie Sie Bien (Lie She Min) dari Kerajaan Tang di Tiongkok. Lie Sie Bien adalah seorang kaisar yang adil dan bijaksana serta pemeluk Agama Buddha yang taat sehingga beliau dicintai oleh rakyatnya.

Dalam pandangan Kaisar sendiri, beliau puas dengan kemakmuran yang ada disekeliling beliau. Masyarakat dikota raja semuanya hidup bahagia, tenteram dan damai. Sampai suatu ketika sang raja pergi keluar kota raja dan melihat keadaan masyarakatnya yang sesungguhnya.

Keadaan diluar kota raja sungguh menyedihkan. Mereka hanya cukup untuk makan, namun mereka tidak punya apa-apa dan hidup dalam kemiskinan. Yang ada hanyalah pohon-pohonan bambu saja dihalaman rumah mereka.

Sekembalinya ke kota raja, sang kaisar murung dan terus berpikir keras bagaimana caranya untuk menyeimbangkan kesejahteraan rakyatnya baik yang dikota maupun diluar kota raja. Akhirnya kemudian dikisahkan sang raja mendapatkan ide untuk berpura-pura mangkat, dengan demikian maka seluruh orang kaya di kota raja akan berkumpul untuk melayat beliau.

Disebarkan kabar bahwa Kaisar menderita sakit yang cukup parah, mendengar kabar ini rakyat menjadi sedih. Beberapa hari kemudian secara resmi keluar pengumuman dari Kerajaan bahwa Kaisar Lie Sie Bien meninggal dunia. Rakyat benar benar berduka-cita karena merasa kehilangan seorang Kaisar yang dicintai, sebagai ungkapan rasa duka cita ini penduduk memasang kain putih di depan pintu rumahnya masing-masing tanda ikut berkabung atas mangkatnya Sang Kaisar.

Sebagaimana tradisi pada waktu itu, jenazah Kaisar tidak langsung dikebumikan,
melainkan disemayamkan selama beberapa minggu untuk memberi kesempatan pada para pejabat istana dan rakyat untuk memberikan penghormatan terakhir.

Alkisah, setelah beberapa hari kemudian Kaisar Lie Sie Bien hidup kembali atau
bangkit kembali dari kematiannya. Dan kemudian beliau bercerita mengenai perjalanan panjangnya menuju alam neraka, yang dialaminya selama saat kematiannya.

Dimana salah satu cerita beliau, adalah ketika beliau dalam perjalanan menuju
alam neraka, sang Kaisar bertemu dengan ayah bunda, dan sanak keluarga, serta teman-temannya yang telah lama meninggal dunia. Dimana dikisahkan bahwa kebanyakan dari mereka berada dalam keadaan menderita kelaparan, kehausan, dan serba kekurangan walaupun dulu semasa hidupnya mereka hidup senang dan mewah. Keadaan mereka sangat menyedihkan, walaupun saat ini anak-anak dan keturunannya yang masih hidup berada dalam keadaan senang dan bahagia.

Makhluk-makhluk yang menderita ini berteriak memanggil Lie Sie Bien untuk minta pertolongan dan bantuannya untuk mengurangi penderitaan mereka. Menurut Kaisar mereka ini sangat mengharapkan bantuan dan pemberian dari keturunan dan sanak-keluarganya yang masih hidup.

Lalu sang Kaisar menghimbau dan menganjurkan agar keturunan dan sanak keluarga
yang masih hidup jangan sampai melupakan leluhur dan keluarganya yang telah meninggal. Kita yang masih hidup wajib mengingat dan memberikan bantuan kepada mereka yang menderita di alam sana, sebagai balas budi kita kepada leluhur kita itu.

Untuk itu keluarga yang masih hidup dianjurkan untuk mengirimkan bantuan dana/uang kepada mereka yang berada di alam penderitaan itu. Dan dana bantuan itu adalah salah satunya berupa "Rumah-rumahan" dan uang-uangan untuk dibakar yang terbuat dari bambu-bambu (yang juga merupakan bahan dasar pembuatan kertas saat itu). Rumah-rumahan ini yang kemudian dibakar dan akan menjelma menjadi rumah beserta isinya di alam sana, sehingga dapat dipergunakan oleh ayah bunda, leluhur, dan sanak keluarga yang berada di alam sana untuk meringankan penderitaan mereka.

Karena yang berkisah ini adalah seorang Kaisar yang sangat dihormati dan dicintai segenap rakyatnya, maka tentu saja cerita ini dipercayai, dan himbauan kaisar langsung mendapatkan tanggapan yang baik dari para pejabat, bangsawan, dan seluruh rakyat kerajaan Tang.

Dengan demikian maka masyarakat kota raja akan berbondong-bondong membeli bambu untuk kebutuhan rumah-rumahan yang akan dibakar serta pembuatan kertas kepada masyarakat luar kota raja yang hidup dalam kemiskinan.

Pesan Moral :
Dalam persembahyangan dan melakukan pembakaran uang-uangan kertas awalnya sebenarnya untuk membantu perekonomian masyarakat miskin dinasty Tang. Namun saat ini sudah berubah menjadi area bisnis bagi kalangan pengusaha yang sebenarnya tidak dapat disalahkan, hanya kita sebagai pelaku perlu untuk memahami maksud yang sebenarnya sehingga tidak melakukan sesuatu yang tidak dipahami dengan baik.

Apalagi adanya salah kaprah pada jenis uang-uangan saat ini dengan menuliskan Bank of Hell yang sebenarnya jauh dari maksud awal yang bermaksud untuk menjadi mata uang alam baka dan bukan mata uang neraka seperti yang terjadi saat ini.

Selain itu, pembakaran juga mengingatkan kita dengan pilar-pilar budaya Tionghoa untuk penghormatan terhadap leluhur. Selain itu, persembahyangan merupakan waktu kebersamaan untuk berkumpul dan bercerita mengenang pesan moral dan kebaikan leluhur untuk dijaga dan diteruskan oleh kita sebagai keturunannya sebagai wujud nilai bakti kepada leluhur.

Pembakaran juga memiliki pesan moral tersirat untuk berbakti dan setia kepada negeri kita tinggal karena dalam membakar kertas emas maupun perak mengandung makna tanah melahirkan logam dan tanah itu adalah tempat dimana kita berpijak, tempat kita lahir dan bertumbuh.

Semoga dengan penulisan ini semua bisa benar-benar memahami apa yang dilakukan. Karena maksud sebenarnya sangat baik dan memiliki nilai moral yang tinggi, terkadang hanya karena ketidak tahuan maka bisa terjadi penyimpangan yang tidak dipahami.

Sumber Tulisan :
1. Origins of Chinese People and Custom, Li Xiaoxiang, Asiapac Culture Singapore, 2001
2. http://suhuliem.forumotion.com/ajaran-taoismeklik-disini-f4/ask-tanya-kim-cua-t50.htm
3. http://www.indonesiaindonesia.com/f/34700-bakar-kertas-sembahyang/
4. Berdasarkan penuturan Bhante Dhammiko, Dhammadesana Vihara Berkah Utama 14 Maret 2009

Kamis, 04 Maret 2010

Asal Mula Kata Klenteng


Pada masa Dinasti Tang (618-907) China berhasil mengirim ekspedisi militernya ke daerah China Selatan. Sejak itu orang China mulai menyebar ke Asia Tenggara dan banyak yang terus menetap. Diantara mereka banyak sekali orang-orang Hoakio/Hokkian yang berasal dari daerah-daerah yang terletak di sekitar Amoy di propinsi Fukien (Fujian) dan orang-orang Kwang Fu (Kanton) yang berasal dari Kanton dan Makao di propinsi Kwangtung (Guangdong). Pada masa Dinasti Sung (907- 1127) mulai banyak pedagang-pedagang China yang datang ke negara-negara Asia Tenggara termasuk Indonesia. Mereka berdagang dengan orang Indonesia dengan membawa barang dagangan berupa teh, barang porselin China yang indah, kain sutra yang halus serta obat-obatan. Sedangkan mereka membeli dan membawa pulang hasil bumi Indonesia.

Dalam sejarah China Kuno, dikatakan bahwa orang-orang China mulai merantau ke Indonesia pada masa akhir pemerintahan Dinasti Tang. Daerah pertama yang didatangi adalah Palembang yang pada waktu itu merupakan pusat perdagangan kerajaan Sriwijaya. Kemudian mereka datang ke Pulau Jawa untuk mencari rempah-rempah. Banyak dari mereka yang kemudian menetap di daerah pelabuhan pantai utara Jawa seperti daerah Tuban, Surabaya, Gresik, Banten dan Jakarta.

Orang China datang ke Indonesia dengan membawa serta kebudayaannya, termasuk pula unsur agamannya. Dengan demikian, kebudayaan China menjadi bagian dari kebudayaan Indonesia.

Didalam masyarakat China dikenal adanya tiga agama yaitu Khong Hu Cu, Tao dan Buddha. Akan tetapi dalam prakteknya tidak pernah ada fanatisme terhadap salah satu dari tiga agama tersebut. Dengan kata lain dalam prakteknya ketiga agama tersebut dilakukan bersamaan. Gabungan ketiga agama tersebut dikenal dengan nama Tridharma. Campuran ketiga agama tersebut dapat dijelaskan dalam kaitannya dengan latar belakang orang China di Asia Tenggara. Para leluhur mereka datang dari Cina Selatan dimana ketiga agama itu diterima sebagai satu kepercayaan.

Kepercayaan terhadap ajaran agamanya dieksistansikan pula dalam suatu upacara suci dimana upacara tersebut melibatkan masyarakat. Oleh karena itu diperlukan suatu tempat atau bangunan suci untuk melakukan upacara. Setiap masyarakat beragama didunia ini memiliki suatu tempat ibadah untuk melakukan upacara keagamaan. Demikian pula halnya dengan orang China. Mereka juga memiliki tempat ibadah yang dinamakan Kelenteng.

Seorang sarjana arsitektur yaitu Evelin Lip menyatakan bahwa masyarakat China yang ingin mendirikan sebuah bangunan suci biasanya akan mengikuti aturan-aturan yang berlaku di China. Aturan-aturan tersebut adalah bahwa suatu bangunan suci biasanya didirikan diatas podium, dikelilingi oleh pagar keliling, mempunyai keletakan simetris, mempunyai atap dengan arsitektur China, sistim strukturnya terdiri dari tiang dan balok serta motif dekoratif untuk memperindah bangunan. Satu hal lagi yang tidak dapat dilupakan masyarakat China dalam pencarian lokasi adalah berpedoman pada Hong Sui (Feng Sui). Dengan berpedoman pada Feng Sui ini diharapkan akan memberikan keberuntungan pada penghuninya. Selain itu juga Lip mengatakan bahwa Kelenteng-kelenteng di China Utara berukuran lebih besar dan hiasannya sangat sedikit dibandingkan dengan yang ada di China Selatan dimana kelentengnya mempunyai banyak hiasan. Bumbungan atapnya dihiasi dengan motif naga, burung phoenix, ikan, mutiara atau pagoda dan ujung bumbungannya melengkung ke atas. Ciri arsitektural seperti inilah yang dibawa ke Singapore dan Malaysia oleh para perantau dan Pedagang China.

Dari mana asal mula kata Kelenteng. Ada dua versi tentang asal mula kata Kelenteng.

Versi Pertama
Banyak dari kita yang mengira kata Kelenteng adalah istilah luar. Tetapi sebenarnya kata Kelenteng hanya dapat ditemui di Indonesia. Kalau ditilik kebiasaan orang Indonesia yang sering memberi nama kepada suatu benda atau mahluk hidup berdasarkan bunyi-bunyian yang ditimbulkan - seperti Kodok Ngorek, Burung Pipit, Tokek - demikian pula halnya dengan Kelenteng. Ketika di Kelenteng diadakan upacara keagamaan, sering digunakan genta yang apabila dipukul akan berbunyi 'klinting' sedang genta besar berbunyi 'klenteng'. Maka bunyi-bunyian seperti itu yang keluar dari tempat ibadat orang China dijadikan dasar acuan untuk merujuk tempat tersebut. (Moertiko hal.97) Orang Tionghoa sendiri menamakan Kelenteng itu, sebagai Bio baca Miao. Wen Miao adalah bio untuk menghormati Confucius dan Wu Miao adalah untuk menghormati Guan Gong.

Versi Ke Dua menurut 'Kronik Tionghoa di Batavia', disebutkan bahwa sekitar tahun 1650, Letnan Tionghoa, Guo Xun-guan mendirikan sebuah tempat ibadah untuk menghormati Guan yin di Glodok. Guan yin adalah Dewi welas asih Buddha yang lazim dikenal sebagai Kwan Im. Pada abad ke-17 waktu umat kristen Jepang dianiaya, patung Dewi Kwan Im menggantikan patung Bunda Maria untuk menyesatkan mata-mata polisi Jepang. Tempat ibadah di Glodok itu disebut Guan yin Ting atau tempat ibadah Dewi Guan yin (Kwan Im). Kata Tionghoa Yin-Ting ini disebut dalam kata Indonesia menjadi Klen-Teng, yang kini menjadi lazim bagi semua tempat ibadah Tionghoa di Indonesia. (Heuken hal.181).

Versi Ketiga Asal mula kelenteng itu adalah berasal dari kata (Khe Ren Tang) yang kemudian oleh dialek indonesia dijadikan kelenteng.
Khe Ren == Tamu, Tang== Rumah, Khe Ren Tang (Klenteng) == Rumah peristirahatan tamu. Para pedagang pada masa ribuan tahun yang lalu, berpergian dari kota ke kota untuk berdagang. Merekapun mampir ke tempat peristirahatan ini. Kemudian ditambahkan tempat persembahyangan kepada Thien dan para Dewa Dewi, Oleh para pengurus rumah peristirahatan tersebut. Lama kelamaan, yang menjadi ramai & terkenal pada saat ini menjadi tempat sembahyang/ Ibadah.

Sumber Penulisan :
- http://groups.yahoo.com/group/budaya_tionghua/message/13778
- Bs. Buanadjaya, Riwayat Kelenteng, Vihara, Lithang, Penyusun Moerthiko