Senin, 01 Februari 2010

Imlek ( Festival Musim Semi)


Bagi kebanyakan orang Tionghoa Indonesia, Imlek adalah saat menggunakan warna merah, tanda kebahagiaan, sembahyang dan yang paling menarik adalah menerima angpau.

Hal ini tidak heran, karena bagi para generasi muda, pengertian dari Imlek sendiri sudah memudar.

Kita mengenal berbagai sistem penanggalan. (Gong Li / Yang Li) Kalender Masehi yang menggunakan Sistem Gregorian / Tata Surya / Solar / Matahari, yang dihitung berdasarkan lamanya peredaran bumi mengelilingi matahari selama 365,25 hari. Tahun pertamanya berdasarkan pada tahun kelahiran Nabi Yesus Kristus. Kalender Islam yang menggunakan Sistem Lunar, yang berdasarkan pada masa orbit bulan mengelilingi bumi selama 354 hari, atau selisih 11 hari dibandingkan sistem solar. Tahun pertamanya dihitung sejak Nabi Muhammad SAW hijrah dari Mekkah ke Medinah.

Sedangkan Yin Li {Hok Kian = Im Lek = Kalender Imlek} merupakan perpaduan kedua sistem Matahari & Bulan sekaligus. Perhitungan hari per-bulannya mengacu pada sistem lunar. Namun selisih 11 hari per tahun disesuaikan dengan sistem matahari melalui Run Yue {Hok Kian = Lun Gwe = mekanisme penyisipan bulan ketiga belas sebanyak 7 (tujuh) kali dalam kurun waktu 19 tahun}. Koreksi atau penyisipan ini membuat jatuhnya awal Tahun Baru Imlek selalu berada dalam rentang waktu antara 21 Januari – 19 Februari, tidak bergeser maju ataupun mundur.
Melalui mekanisme Lun Gwe ini, maka pada tahun-tahun tertentu, Kalender Imlek kadang memiliki bulan ganda. Misal tahun 2009 ada Lun Go Gwe (2x bulan Lima). Dengan adanya penyesuaian ini maka Kalender Imlek lebih tepat disebut Kalender Yin Yang Li {Im Yang Lek / Sistem Lunisolar}.

Selain itu penanggalan Imlek masih dilengkapi beberapa unsur yang mempengaruhi, yaitu : 5 unsur, 12 Shio, 24 Jie Qi (pembagian 24 musim yang amat erat hubungannya dengan perubahan-perubahan yang terjadi pada alam, yang terbukti amat berguna bagi pertanian dalam menentukan saat tanam maupun saat panen), 60 Hua Jia (60 konsep penggabungan Tian Gan & Di Zi). Walaupun demikian, semua perhitungan ini dapat terangkum dengan baik menjadi satu sistem “Penanggalan Tionghoa” yang Lengkap & Harmonis, bahkan hampir bisa dikatakan Sempurna karena sudah mencakup “Koreksi” -nya juga, sebagai contoh adalah Lun Gwe.

Penanggalan Tionghoa telah ada sejak zaman Kaisar Huang Di [2.696 – 2.598 SM]. Tapi baru digunakan secara resmi oleh Dinasti Xia [2.205 – 1.766 SM], yaitu 4.213 tahun yang lalu

Pada tanggal 14 Februari 2010 ini kita merayakan Tahun Baru Imlek yang ke 2561. Lalu dari mana angka 2.561 ini? Ini dihitung dari kelahiran Nabi Kong Zi {Hok Kian = Khong Cu} atau Confusius yang lahir pada tahun 551 SM.

Jadi tahun 2010 ini berarti tahun 551 + 2010 = 2561 Imlek. Karena awal tahunnya dimulai dari awal kelahiran Nabi Kong Zi, maka kalender Imlek disebut juga Khong Cu Lek. Namun bukan berarti usia Kalender Imlek sama dengan usia Kong Hu Cu. Pada kenyataannya, Penanggalan Imlek telah digunakan jauh sebelumnya, tepatnya sejak zaman Kaisar Huang Di, yaitu pada tahun 2.696 SM. Dengan demikian Kalender Imlek telah berusia 4.704 tahun.

Banyak dan sering sekali timbul pertanyaan, mengapa tahun pertama penanggalan Imlek dihitung sejak kelahiran Nabi Kong Zi ?

Sejarahnya amat panjang. Kalender Imlek secara resmi digunakan oleh Dinasti Xia [2.205 – 1.766 SM]. Dinasti Xia hanya berkuasa sampai 1.766 SM, dan kemudian digantikan oleh Dinasti Shang [1.766 – 1.122 SM].

Pada masa Dinasti Shang, kalender Imlek yang kita kenal sekarang, dimodifikasi dengan dimajukan penentuan awal tahun barunya sekitar satu bulan. Akibatnya awal tahun baru yang semula jatuh di awal musim semi, bergeser ke musim dingin. Demikian pula dengan perhitungan awal tahunnya, dihitung sejak dinasti Shang berkuasa.

Ketika dinasti Shang digantikan dengan dinasti Zhou [1.122 – 255 SM], perhitungan awal tahun barunya dimajukan lagi, bertepatan dengan Dong Zi, puncak musim dingin sekitar 22 Desember, tepat ketika matahari berada di 23,5o Lintang Selatan. Perhitungan awal tahunnya dimulai sejak berdirinya Dinasti Zhou.

Nabi Kong Zi, Confusius [551 – 479 SM] hidup pada masa dinasti Zhou. Kong Zi pernah mengingatkan bahwa sebuah sistem penanggalan seharusnya dibuat dengan mempertimbangkan kepentingan orang banyak. Kalender yang baik harus bisa dijadikan Pedoman bagi rakyat yang menggunakannya.

Sementara Kalender Dinasti Zhou yang digunakan semasa Kong Zi hidup, dirasakan amat tidak cocok untuk digunakan sebagai panduan bagi rakyat yang mayoritas hidup dari sektor pertanian, karena penentuan awal tahun barunya bertepatan dengan musim dingin. Bila tahun baru jatuh di musim dingin, sulit dijadikan pedoman bagi rakyat untuk mulai kerja baru.

Atas dasar pemikiran ini, Kong Zi menyarankan kepada Kaisar Zhou agar kembali menggunakan Kalender Dinasti Xia, di mana awal tahun baru bertepatan dengan awal musim semi, sehingga dapat dijadikan pedoman bagi rakyat yang mayoritas petani untuk mulai kerja baru. Namun usulan Kong Zi ini tidak ditanggapi penguasa Zhou pada waktu itu.

Ketika dinasti Zhou digantikan oleh dinasti 秦 Qin [255 SM – 202 SM], nasehat Kong Zi pun tetap diabaikan. Kaisar waktu itu tetap mengikuti tradisi sebelumnya, berupaya memperkuat legitimasi kekuasaan dengan berbagai cara, di antaranya dengan membuat kalender baru. Soal apakah kalender tersebut cocok atau tidak dengan kebutuhan rakyatnya, kurang diperhatikan.
Jadi ketika dinasti Shang diganti dengan dinasti Zhou, dan kemudian diganti dengan dinasti Qin, sistem penanggalan yang digunakan juga terus digonta-ganti, sesuai keinginan sang penguasa.

Dinasti Qin tidak berumur panjang, digantikan oleh Dinasti Han [202 SM – 206 M] yang didirikan oleh Lu Bang. Kaisar pertama ini tidak sempat memikirkan penggantian kalender. Baru pada saat 漢武帝 Han Wu Di [140 SM – 86 SM] berkuasa, ia menuruti fatwa Nabi Kong Zi & mengumumkan berlakunya kembali Kalender Xia. Sebagai penghormatan kepada Nabi Kong Zi, penentuan perhitungan awal tahun Kalender Xia (penetapan tahun ke-1 Kalender Imlek), dihitung sejak tahun kelahiran Nabi Kong Zi, 551 SM.

Kebijakan Han Wu Di ini ternyata lebih abadi, terbukti kaisar sesudahnya, baik dari Dinasti Han maupun dinasti sesudahnya, tetap menggunakan Kalender Xia. Jadi walaupun kaisar berganti kaisar, dinasti berganti dinasti, tidak terjadi lagi pergantian penanggalan. Semuanya menggunakan kalender peninggalan Dinasti Xia, dengan awal tahun yang mengacu pada tahun kelahiran Nabi Kong Zi. Tidak sampai di situ saja, pada masa Dinasti Han, agama Khong Hu Cu pun kemudian ditetapkan sebagai agama negara, bahkan sampai Dinasti Qing. Ajaran Nabi Kong Zi juga menjadi pedoman utama bagi mereka yang ingin meraih gelar pendidikan tinggi.

Penanggalan Imlek cocok digunakan sebagai pedoman masyarakat yang mayoritas hidup dari pertanian, sehingga sering disebut Nong Li (Kalender Petani). Banyak juga yang menyebut Kalender Kong Zi {Khong Cu Lek}, sehingga tahun barunya disebut Tahun Baru Khong Zi. Sebutan ini lazim digunakan di kalangan umat agama Khong Hu Cu di Indonesia, maupun di beberapa negara yang masyarakatnya banyak menganut agama Khong Hu Cu.

Walaupun demikian, Perayaan Tahun Baru Imlek bukan hanya perayaan umat Khong Hu Cu saja. Pada kenyataannya, Perayaan Tahun Baru Imlek terutama diperingati juga oleh penganut agama Buddha & Taoisme, dan juga orang Tionghoa di seluruh dunia. Selain itu, pada Cia Gwe Ce It (tanggal 1 bulan 1 Imlek) ini umat Buddha juga memperingati hari lahirnya Mi Le Gu Fo {Bi Lek Ko Hud = Buddha Maitreya}.
Hari itu juga adalah perayaan untuk menyambut musim semi yang baru di Cina dan merupakan awal untuk melakukan kembali kegiatan pertanian.

Persiapan perayaan imlek berlangsung beberapa hari sebelum hari H. Dimulai dengan acara membersihkan rumah. Mereka percaya, dewa kekayaan Chai Shen hanya mau mendatangi rumah yang bersih. Saat tahun baru tiba, rumah sudah harus dalam keadaan bersih agar rejeki mengalir lancar. Selama tiga hari, terhitung dari tahun baru dan dua hari sesudahnya, ada larangan memegang sapu, alias menyapu. Dipercaya, dewa kekayaan bersembunyi dibalik debu. Jadi, kalau menyapu dikhawatirkan sang dewa akan ikut terbuang.

Asal-Usul Kegiatan bersih-bersih di tanggal 24 bulan 12 Lunar
(Seminggu sebelum Imlek)

Alkisah, seorang dewa bernama Dewa Tiga Mayat (San Shi Shen) ingin menjadi pahlawan bagi manusia dengan cara licik. Ia menjelek-jelekkan manusia di hadapan Mahadewa Tertinggi ( Yuhuan Dadi). Dalam waktu singkat Mahadewa menerima 99.999 laporan tentang rencana manusia berontak melawannya. Mahadewa marah bukan kepalang, memerintahkan Dewa Tiga Mayat memberi tanda khusus pada dinding rumah si manusia pemberontak, juga menyuruh laba-laba membuat jaring yang amat besar di langit-langit rumah. Saking marah, ia pun menyuruh Dewa Pencabut Nyawa ( Lingshenggong) turun ke bumi di malam tahun baru untuk membunuh orang yang rumahnya sudah ditandai oleh Dewa Tiga Mayat!

Dewa Tiga Mayat, tanpa buang waktu, cepat-cepat terbang ke bumi menuju rumah yang sudah ditandainya guna "menyelamatkan manusia". Dengan demikian, dia akan dipandang manusia sebagai dewa terbaik. Tak disangka, pimpinan dewa dapur mengetahui rencana busuknya. Si Pimpinan cepat-cepat pergi ke Dewa Dapur di setiap rumah mencari akal bagaimana menghalangi niat busuk Dewa Tiga Mayat. Akhirnya mereka sepakat menghapus bersih semua tanda yang dibuat Dewa Tiga Mayat.

Kagetlah ketika Dewa Pencabut Nyawa tiba di bumi, ia tidak menemukan apa pun di rumah manusia. Rencananya gagal total. Malah begitu akal liciknya terbongkar, Dewa Tiga Mayat pun dihukum kurungan di langit. Sebaliknya, Dewa Dapur menjadi pahlawan. Itulah asal-usul ada hari khusus membersihkan rumah sebelum Tahun Baru.

Sumber Tulisan :
1. Sejarah Panjang Tahun Baru Imlek, Kim Tek Ie
2. http://jindeyuan.org/sejarah-panjang-tahun-baru-imlek/index.htm
3. Walter, Derek. The Complete Guide to Chinese Astrology: The Most Comprehensive
Study of the Subject Ever Published in the English Language, Watkin Publishing,
London, 2002
4. Berdasarkan penuturan turun temurun masyarakat Tionghoa Gorontalo

Tidak ada komentar:

Posting Komentar