Sabtu, 03 April 2010

Dewi Welas Asih Guan Si Yin Pho Sat


Kemarin 4 Apri 2010 adalah perayaan besar Dewi Kwan Im. Saya sendiri mengunjungi klenteng Sanggar Agung Kenjeran untuk memberikan penghormatan. Berikut adalah cerita mengenai Dewi Welas Asih Kwan Si Yin Pho Sat yang berhasil saya himpun.

Kwan Im Pho Sat / Guan Yin Phu Sa / Kwan Si Im Pho Sat / Guan Shi Yin Phu Sa (Tiongkok) / Avalokitesvara Bodhisatva (Lokeshvara, Sansekerta) / Spyan ras gizgs (Tibetan) / Kannon Bosatsu (Kanjizai / Kanzeon / Kwannon, Jepang) & Quan Am (Vietnam)

Jauh sebelum masuknya agama Budha menjelang akhir Dinasti Han, Kwan Im Pho Sat telah dikenal di Tiongkok purba dengan sebutan Pek Ie Tai Su yaitu Dewi Berbaju Putih Yang Welas Asih (“Dewi Welas Asih”).

Di kemudian hari, Beliau identik dengan perwujudan dari Budha Avalokitesvara. Secara absolut, pengertian Avalokitesvara Bodhisatva dalam bahasa Sansekerta adalah : “Avalokita” (Kwan / Guan / Kwan Si / Guan Shi) yang bermakna Melihat ke Bawah atau Mendengarkan ke Bawah. “Bawah” disini bermakna ke dunia, yang merupakan suatu alam (lokita). “Isvara” (Im / Yin), berarti suara. Yang dimaksud adalah suara dari makhluk-makhluk yang menjerit atas penderitaan yang dialaminya. Oleh sebab itu Kwan Im adalah Bodhisatva yang melambangkan kewelas-asihan dan penyayang. Di negara Jepang, Kwan Im Pho Sat terkenal dengan nama Dewi Kanon.

Penjelasan Arti

Guan : Melihat atau merenungi.
Shi : Dunia, alamnya orang yang menderita.
Yin : Segala suara dari dunia, jeritan atau ratapan dari mahluk hidup,lahir
maupun batin, yang kesemuanya ini menyentuh lubuk hati sang Dewi Welas
Asih.

Sebab itu Guan Yin adalah Bodhisattva yang melambangkan hati yang welas asih dan penyayang, yang tertanam dalam – dalam dihati tiap pemujanya. Mereka percaya bahwa GuanYin dapat mendengarkan keluh – kesah mereka yang menderita dan datang menolong, dalam wujud yang berbeda – beda, baik pria maupun wanita.

Guan Yin, Pria atau Wanita :

Pada waktu memasuki Tiongkok sekitar dinasti Han, Agama Buddha memang memperkenalkan Avalokitesvara yang kemudian dikenal sebagai Guan Yin Pu Sa sebagai pria. Mulai dinasti Tang (618 – 907 M) dan lima dinasti (907 – 960 M).Guan Yin ditampilkan sebagai wanita. Mungkin ini terpengaruh ajaran Konfusianisme yang sangat berakar dalam sistem sosial masyarakat pada waktu itu. Mereka menganggap tidak layak wanita memohon anak dari seorang Dewata pria. Bagi para penganutnya, hal itu dianggap sebagai kehendak dari Guan Yin sendiri untuk mewujudkan dirinya sebagai wanita, agar ia dapat leluasa dengan kaum wanita yang banyak memohon uluran tangannya.

Kelihatannya perubahan ini terjadi secara berlahan – lahan. Mula – mula Guan Yin ditampilkan sebagai pasangan Avalokitesvara (seperti halnya Dewa – dewa dari India yang selalu mempunyai pasangan). Kemudian lambat laun, oleh penganutnya di Tiongkok, dewata pria Avalokitesvara mulai dilupakan. Sampai abad ke – 12 Masehi. Guan Yin telah dipuja sendirian sebagai Dewata yang khas Tiongkok, begitu juga Dewata – dewata Buddhist lainnya.

Perlu diketahui bahwa sebelum masuknya Buddhist ke Tiongkok, kaum wanita di sana sudah banyak memuja para dewi dari Taoisme yang mereka panggil dengan sebutan “Niang – niang” (Probabilitas adalah Dewi Wang Mu Niang-Niang), sebagai tempat mereka memohon perlindungan, keselamatan dan keturunan. Sebab itu ketika muncul Guan Yin,mereka menyebutnya dengan panggilan Niang – niang pula. Sebutan Guan Yin Pu Sa yang sepenuhnya bersifat Buddhisme dikalangan rakyat akhirnya popular dengan sebutan “Guan Yin Niang – niang”. Sehubungan dengan adanya legenda Puteri Miao Shan yang sangat terkenal, (menurut Kitab Suci Kwan Im Tek Too yang disusun oleh Chiang Cuen, Dewi Kwan Im dilahirkan pada jaman Kerajaan Ciu / Cian Kok pada tahun 403-221 SM) mereka memunculkan tokoh wanita yang disebut “Guan Yin Niang Niang”, sebagai pendamping Avalokitesvara Bodhisatva pria. Tidak sampai di situ, kaum Taoist-pun yang akhirnya ikut pula memujanya, bahkan menempatkannya sejajar dengan Dewi mereka, yaitu Tian Hou (Tian Shang Sheng Mu). Nama Taoist untuk Guan Yin adalah Zi Hang Dao Ren (Zu Hang To Jin – Hokkian). Yang berarti pendeta penyelamat pelayaran. Begitulah Guan Yin memperoleh kepopuleran yang jauh melebihi Dewata Buddhisme yang tertinggi Sakyamuni Buddha, meskipun dalam banyak kelenteng dan vihara, Sakyamuni duduk di altar yang paling terhormat.

Legenda Putri Miao San

Puteri Miao Shan, anak dari Raja Miao Zhuang / Biao Cong / Biao Cuang Penguasa Negeri Xing Lin (Hin Lim), kira-kira pada akhir Dinasti Zhou di abad III SM. Disebutkan bahwa Raja Miao Zhuang sangat mendambakan seorang anak lelaki, tapi yang dimilikinya hanyalah 3 (tiga) orang puteri. Puteri tertua bernama Miao Shu (Biao Yuan), yang kedua bernama Miao Yin (Biao In) dan yang bungsu bernama Miao Shan (Biao Shan).

Setelah ketiga puteri tersebut menginjak dewasa, Raja mencarikan jodoh bagi mereka. Puteri pertama memilih jodoh seorang pejabat sipil, yang kedua memilih seorang jendral perang sedangkan Puteri Miao Shan tidak berniat untuk menikah. Beliau malah meninggalkan istana dan memilih menjadi Bhiksuni di Kelenteng Bai Que Shi (Tay Hiang Shan). Berbagai cara diusahakan oleh Raja Miao Zhuang agar puterinya mau kembali dan menikah, namun Puteri Miao Shan tetap bersiteguh dalam pendirianNya.

Didalam kelenteng atau vihara itu terdapat kira – kira 500 orang bikkhuni. Kepala bikkhu disitu memerintahkan Miao Shan bekerja berat, dibagaian dapur. Sebetulnya kepala bikkhu ini telah mendapat perintah dari ayah Miao Shan agar membuat putrinya tidak betah untuk hidup di vihara itu.

Melihat keteguhan hati Miao Shan, Dewa Dapur Zao Jun, lalu membuat laporan kepada Yu Huang Da Di. Yu Di menerima laporan ini segera memerintahkan para malaikat dari Lima Pegunungan, dan Delapan Dewa Naga, untuk membantu Miao Shan di vihara Bai Que Si. Kemudian disusulnya peritah kepada Raja Naga dari lautan timur untuk membuat sumur di dapur Vihara itu, dan para binatang liar di pegunungan berdatangan mengantar kayu bakar, serta burung – burung membawa sayur – mayur. Dengan segala bantuan ini Miao Shan tidak banyak mengalami kesengsaraan.

Raja Miao Zhuang akirnya mengirim tentara ke Vihara itu untuk memaksa agar Miao Shan. Pasukan ini dipimpin oleh Raja Muda Zhau dan Raja Muda Ye. Biyara Bai Que Si di bakar, Miao Shan lalu berdo’a memohon perlindungan Yang Maha Kuasa,kemudian ia mencabut tusuk kondenya dan ditusukan ke lidahnya. Darah dari lidah itu di semburkan ke udara,dan tiba-tiba dari angkasa turun hujan yang berwarna merah. Api yang berkobar menelan biara itu segera padam.

Raja Miao Zhuang habis kesabarannya dan memerintahkan para prajurit untuk menangkap dan menghukum mati sang puteri.

Sang Buddha yang mengetahui peristiwa ini lalu memerintahkan pada Tu-di, sang Dewi Bumi, untuk menyelamatkan Miao Shan. Beliau bersabda ”Tak ada di dunia sebelah barat ini manusia yang sesuci dan sebaik Miao Shan. Besok ketika pelaksanaan hukuman mati dilaksanakan patahkanlah golok dan tombak para algojo yang dipergunakan untuk membunuh dia. Jagalah agar dia tidak banyak menderita kesakitan.

Pada saat kematiannya, rubahlah dirimu menjadi seekor harimau dan bawalah tubuhnya ke suatu Hutan Pinus. Sembunyikan dan masukkan sebutir pil ke dalam mulutnya agar tubuh itu tidak membusuk. Rohnya akan kembali mencari badan kasarnya sesudah selesai perjalanan ke neraka. Setelah itu ia akan bersemayam di bukit Xiang Shan di pulau Pu Tuo samapi mencapai kesempurnaan”.

Pada waktu pelaksanaan hukuman di jalankan, golok dan tombak para algojo patah ketika menyentuh leher Miao Shan. Lalu leher Miao Shan dijerat dengan tali baja, barulah sang putri tewas. Bersamaan dengan itu mendadak seekor macan besar menyerbu masuk dan menggondol tubuh putri yang malang itu, lalu membawanya masuk ke dalam Hutan Pinus.

Roh Miao Shan di neraka, karena kesucian dan ke – welas – asihannya, serta ketulusan do’anya, menyebabkan tempat yang penuh penderitaan itu berubah menjadi seperti sorga. 10.000 roh yang tersiksa memperoleh pengampunan berkat do’anya.

Penguasa Akherat, Yan Luo Wang, menjadi bingung sekali. Akhirnya arwah Puteri Miao Shan diperintahkan untuk kembali ke badan kasarNya. Begitu bangkit dari kematianNya, Budha Amitabha muncul di hadapan Puteri Miao Shan dan memberikan Buah Persik Dewa. Akibat makan buah tersebut, sang Puteri tidak lagi mengalami rasa lapar, ke-tuaan dan kematian. Budha Amitabha lalu menganjurkan Puteri Miao Shan agar berlatih kesempurnaan di gunung Pu Tuo, dan Puteri Miao Shan-pun pergi ke gunung Pu Tuo dengan diantar seekor harimau jelmaan dari Dewa Bumi.

9 (Sembilan) tahun berlalu, suatu ketika Raja Miao Zhuang menderita sakit parah. Berbagai tabib termasyur dan obat telah dicoba, namun semuanya gagal. Puteri Miao Shan yang mendengar kabar tersebut, lalu menyamar menjadi seorang Pendeta tua dan datang menjenguk. Namun terlambat, sang Raja telah wafat. Dengan kesaktianNya, Puteri Miao Shan melihat bahwa arwah ayahNya dibawa ke neraka, dan mengalami siksaan yang hebat. Karena rasa bhaktiNya yang tinggi, Puteri Miao Shan pergi ke neraka untuk menolong.

Pada saat akan menolong ayahNya untuk melewati gerbang dunia akherat, Puteri Miao Shan dan ayahNya diserbu setan-setan kelaparan. Agar mereka dapat melewati setan-setan kelaparan itu, Puteri Miao Shan memotong tangan untuk dijadikan santapan setan-setan kelaparan. Setelah hidup kembali, Raja Miao Zhuang menyadari bahwa bhakti ketiga putrinya sangat luar biasa.

Akhirnya sang Raja menjadi sadar dan mengundurkan diri dari pemerintahan serta bersama-sama dengan keluarganya pergi ke gunung Xiang Shan untuk bertobat dan mengikuti jalan Budha. Rakyat yang mendengar bhakti Puteri Miao Shan hingga rela mengorbankan tanganNya menjadi sangat terharu. Berbondong-bondong mereka membuat tangan palsu untuk Puteri Miao Shan. Budha O Mi To Hud yang melihat ketulusan rakyat, merangkum semua tangan palsu tersebut dan mengubahNya menjadi suatu bentuk kesaktian serta memberikannya kepada Puteri Miao Shan.

Lalu Ji Lay Hud memberiNya gelar Qian Shou Qian Yan Jiu Ku Jiu Nan Wu Shang Shi Guan Shi Yin Phu Sa, yang artinya Bodhisatva Kwan Im Penolong Kesukaran Yang Bertangan Dan Bermata Seribu Yang Tiada Bandingnya. Dalam kisah lain disebutkan bahwa pada saat Kwan Im Phu Sa diganggu oleh ribuan setan, iblis dan siluman, Beliau menggunakan kesaktianNya untuk melawan mereka. Beliau berubah wujud menjadi Kwan Im Bertangan dan Bermata Seribu, dimana masing-masing tangan memegang senjata Dewa yang berbeda jenis. Kisah Kwan Im Lengan Seribu ini juga memiliki versi yang berbeda, diantaranya adalah pada saat Puteri Miao Shan sedang bermeditasi dan merenungkan penderitaan umat manusia, tiba-tiba kepalanya pecah berkeping-keping. Budha O Mi To Hud (Amitabha) yang mengetahui hal itu segera menolong dan memberikan “Seribu Tangan dan Seribu Mata, sehingga Beliau dapat mengawasi dan memberikan pertolongan lebih banyak kepada manusia.

Masih ada beberapa versi, seperti yang dimuat dalam kitab Shou-sen-ji (Catatan tentang kumpulan Para Dewa), agak berbeda dengan apa yang ditulis dalam kitab Xiang-shan. Raja Miao Zhuang, misalnya dalam kitab Xiang-shan dikatakan berperangai halus dan berbudi. Sebaliknya dalam Shou-sen-ji, beliau disebut sebagai berwatak kasar, kejam dan gemar nerperang. Tapi secara garis besar, versi – versi yang dimuat dalam beberapa kitab, tidak memiliki perbedaan besar dalam kisah keseluruhannya.

Miao Shan Guan Yin ditampilkan dengan keadaan duduk, tangannya dalam sikap meditasi dan membawa mutiara yang menyala. Banyak lukisan atau pahatan menampilkan dia sedang duduk di atas batu karang dekat air yang mengalir deras, atau di tengah lautan. Lukisan lain memperlihatkan dia sedang membawa gulungan kitab suci yang melambangkan Sutra Penerangan Hati, atau sebatang dahan pohon Yangliu untuk memercikkan embun suci (Amritha) yang berkhasiat menyembuhkan berbagai penyakit dan mengusir roh – roh jahat.

Masih ada bentuk lukisan lain yang menampilkan Guan Yin membawa tasbih mutiara di tangannya, tapi sering juga tasbih itu dibawa di paruh seekor burung kakak – tua. Bajunya berwarna putih dan tampak melayang di atas awan, di atas bunga teratai atau di atas kelopak teratai yang terapung di lautan.

Lukisannya yang paling terkenal adalah pada waktu di tampilkan bersama dengan pembantunya yaitu Si Anak Merah, Shan Cai, dan Si Gadis Naga Long Nü. Shan Cai dengan posisi menyembah dan Long Nü membawa mutiara yang menyala.

Dalam legenda Puteri Miao Shan, disebutkan bahwa kakak-kakak Miao Shan bertobat dan mencapai kesempurnaan, lalu mereka diangkat sebagai Pho Sat oleh Giok Hong Siang Te. Puteri Miao Shu diangkat sebagai Bun Cu Pho Sat (Wen Shu Phu Sa) dan Puteri Miao Yin sebagai Po Hian Pho Sat (Pu Xian Phu Sa). Disebutkan juga bahwa pada saat pelantikan Puteri Miao Shan menjadi Pho Sat, Puteri Miao Shan diberi 2 (dua) orang pembantu, yakni Long Ni dan Shan Cai. Konon, Long Ni diberi gelar Giok Li (Yu Ni) atau “Gadis Kumala” dan Shan Cai bergelar Kim Tong (Jin Tong) atau “Jejaka Emas”.

Selain perwujudan Beliau yang beraneka bentuk dan posisi, nama atau julukan Kwan Im (Avalokitesvara) juga bermacam-macam, ada Sahasrabhuja Avalokitesvara (Qian Shou Guan Yin), Cundi Avalokitesvara, dan lain-lain. Walaupun memiliki berbagai macam rupa, pada umumnya Kwan Im ditampilkan sebagai sosok seorang wanita cantik yang keibuan, dengan wajah penuh keanggunan .Selain itu, Kwan Im Pho Sat sering juga ditampilkan berdampingan dengan Bun Cu Pho Sat dan Po Hian Pho Sat, atau ditampilkan bertiga dengan : Tay Su Ci Pho Sat (Da Shi Zhi Phu Sa) – O Mi To Hud – Kwan Im Pho Sat.

Legenda Long Ni

Tentang Gadis Naga Long Nü dikisahkan sebagai berikut ini. Dengan kekuatan gaibnya Miao Shan melihat bahwa putra ketiga Long Wang, Sang Raja Naga, sedang menjelma menjadi ikan tambera. Dalam perjalanan melaksanakan tugas ayahnya, tak terduga ikan itu terperangkap dalam jala nelayan, dan diangkat ke darat lalu dijual ke pasar.

Miao Shan lalu memerintahkan pelayannya yang setia, Shan Cai untuk membeli ikan itu, yang kemudian dibawa ke Pu Tuo Shan untuk dilepaskan ke laut bebas. Putra ketiga Sang Raja Naga sangat berterima kasih atas pertolongan Guan Yin.

Sang Raja Naga dalam terima kasihnya kepada Miao Shan Guan Yin bermaksud menghadiahkan sebutir mutiara yang dapat bersinar di waktu malam. Long Nü cucu perempuan Long Wang dari pangeran ketiga tersebut mohon ijin untuk menghantarkan hadiah kepada Miao Shan.

Di hadapan Miao Shan, Long Nü minta diijinkan untuk belajar ajaran orang – orang suci di bawah bimbingannya. Setelah mengetahui kesungguhan hatinya, Miao Shan akhirnya menerima Long Nü sebagai murid. Shan Cai memanggilnya kakak. Mereka bersama – sama mendampingi Miao Shan.

Sering juga Long Nü ini ditampilkan dalam bentuk naga yang sedang ditunggangi oleh Guan Yin. Oleh Yu Huang Da Di, Shan Cai diberi gelar Jin Tong (Kim Tong – Hokkian) yang berarti “jaka emas” dan Long Nü bergelar Yu Nü (Giok Li – Hokkian) yang berarti “gadis kumala”.

Khusus untuk Shan Cai ada 2 (dua) versi legenda.

Versi pertama


Pada waktu Tu Di Gong mengantar Miao Shan ke pulau Pu Tuo, menjaganya selama 9 tahun, sampai akhirnya sang putri mencapai kesempurnaan. Ditentukan hari pelantikan Miao Shan menjadi Pu Sa adalah tanggal 19 bulan 9 Imlik. Tu Di menyebarkan banyak undangan untuk menghadiri pelantikan tersebut. Yang diundang antara lain adalah San Guan Da Di, Shi Dian Yan Luo (10 Raja Akherat) Ba Xian (8 Dewa), Wu Yue Da Di (dewa dari Lima Pegunungan) dan lain – lain. Pada hari yang telah ditentukan, para undangan telah berkumpul, Miao Shan duduk di atas singgasana bunga teratai, lalu para Dewata itu mengumumkan pelatikan di kalangan ke-Buddha-an dan wilayah kekuasaannya di langit dan bumi.

Kemudian mereka beranggapan bahwa tidak sepantasnyalah Miao Shan sekarang dinamakan Guan Shi Yin berada di Xiang Shan seorang diri tanpa pembantunya. Mereka mengusulkan agar dicarikan dua pembantu, seorang pria perjaka dan gadis yang bertugas melayani semua keprluannya di tempat itu. Tu Di diserahi tugas untuk menemukan calon yang sesuai.

Dalam perjalanan mencari calon pembantu Guan Yin ini, Tu Di bertemu dengan seorang pendeta mudan yang bernama Shan Cai. Setelah kematian kedua orang tuanya, Shan Cai menjadi pertapa di gunung Da Hua Shan, tapi tanpa bimbingan ia merasa sulit untuk mencapai kesempurnaan. Dengan perantara Tu Di akhirnya Shan Cai menghadap Guan Yin. Guan Yin masih meragukan kesungguhan hati pemuda ini dan ingin mengujinya. Disuruhnya pemuda itu menempati sebuah puncak di pulau itu, dan menunggu sampai Guan Yin menemukan cara untuk mengatur kesempurnaannya.

Miao Shan kemudian memanggil Tu Di dan meminta agar para dewa yang hadir di situ mau menyamar menjadi bajak – bajak laut yang mau mengepung gunung itu, membawa obor dan senjata tajam mengancam akan membunuh Guan Yin. “Aku akan lari ke puncak dimana Shan Cai sekarang berada dan menguji kesetiannya”, kata sang Dewi.

Tak lama kemudian segerombolan bandit dan bajak laut datang mengepung vihara di Xiang Shan itu. Guan Yin melarikan diri ke puncak, ia terpeleset dan terguling ke dalam jurang. Melihat sang dewi terguling, Shan Cai tanpa ragu – ragu segera terjun untuk menyelamatkannya. “Anda tidak mempunyai sesutau yang berharga untuk dirampok mereka, mengapa takut dan terjun ke jurang, sehingga terancam bencana kematian”, tanya Shan Cai. Melihat pemuda itu menangis, Guan Yin berkata “aku harus tunduk pada kehendak langit”.

Shan Cai, dengan segala kepedihan hatinya, berdo’a kepada Langit dan Bumi agar Sang Dewi diselamatkan. “Seharusnya kau tak perlu menunjukkan diri untuk menolong aku dengan penuh resiko. Aku belum menjelmakan kau kembali dan mengantarmu kesempurnaan. Tapi kau adalah anak yang berani, aku sekarang tahu hatimu baik, Lihatlah ke bawah sana “ kata Guan Yin. Shan Cai lalu menoleh “Aku melihat mayat”.
“Ya, itulah badanmu yang lama. Sekarang kau telah dijelmakan kembali, dan kau dapat terbang dan membumbung keangkasa sesuka hatimu!” Guan Yin berkata. Shan Cai membungkukkan badannya tanda terima kasih dan Guan Yin berkata lagi “Selanjutnya kau selalu berada di sampingku dan berdo’a, jangan meninggalkan aku seharipun”. Sejak itulah Shan Cai selalu hadir di sebelah Guan Yin.

Versi lain

Dalam cerita Se Yu Ki (Xi You Ji) menyebutkan bahwa Shan Cai adalah putera siluman kerbau Gu Mo Ong (Niu Mo Wang) dengan Lo Sat Li (Luo Sa Ni). Nama asliNya adalah Ang Hay Jie (Hong Hai Erl) atau si Anak Merah. Karena kenakalan dan kesaktian Ang Hay Jie, Sang Kera Sakti Sun Go Kong / Sun Wu Kong meminta bantuan kepada Kwan Im Pho Sat untuk mengatasiNya. Akhirnya Ang Hay Jie berhasil ditaklukkan oleh Kwan Im Pho sat dan diangkat menjadi muridNya dengan panggilan Shan Cai.

Dalam hal ini, banyak orang yang salah mengerti dan menganggap bahwa salah 1 (satu) pengawal Kwan Im Po Sat adalah Lie Lo Cia (Li Ne Zha), yang penampilanNya memang mirip dengan Ang Hay Jie. Secara khusus terdapat perbedaan diantara keduaNya, Lie Lo Cia menggunakan senjata roda api di kakiNya, sedangkan Ang Hay Jie menggunakan semburan api dari mulutnya. Lie Lo Cia adalah anak dari Lie King dan Ang Hay Jie adalah anak dari Gu Mo Ong.

Perbedaan Sejarah Avalokitesvara dengan Guan Shi Yin Pho Sat

Dari sini jelas bahwa tokoh Avalokitesvara Bodhisatva berasal dari India dan tokoh Guan Yin Phu Sa berasal dari Tiongkok. Avalokitesvara Bodhisatva memiliki tempat suci di gunung Potalaka, Tibet, sedangkan Kwan Im Pho Sat memiliki tempat suci di gunung Pu Tao Shan di kepulauan Zhou Shan, Tiongkok. Kesimpulan atas hal ini adalah tokoh Avalokitesvara Bodhisatva merupakan stimulus awal munculnya Kwan Im Pho Sat. Terdapat beberapa legenda lainnya terkait tentang asal-usul Dewi Kwan Im. Dalam kitab Hong Sin Yan Gi / Hong Sin Phang (“Penganugerahan Dewa”) disebutkan bahwa sebelum Beliau dikenal dengan sebagai Dewi Kwan Im, Beliau bernama Chu Hang salah 1 (satu) murid dari Cap Ji Bun Jin (12 Murid Cian Kauw Yang Sakti).

Dalam perwujudan-Nya sebagai pria, Beliau disebut Kwan Sie Im Pho Sat. Dalam Sutra Suddharma Pundarika Sutra (Biauw Hoat Lien Hoa Keng) disebutkan ada 33 (tiga puluh) penjelmaan Kwan Im Pho Sat. Sedangkan dalam Maha Karuna Dharani (Tay Pi Ciu / Ta Pei Cou / Ta Pei Shen Cou) ada 84 (delapan puluh empat) perwujudan Kwan Im Pho Sat sebagai simbol dari Bodhisatva yang mempunyai kekuasaan besar. Altar utama di Kuil Pho Jee Sie (Pho To San) di persembahkan kepada Kwan Im Pho Sat dengan perwujudan sebagai “Budha Vairocana”, dan di sisi kiri atau kanan berjajar 16 (enam belas) perwujudan lainnya.

Perwujudan Beliau di altar utama Kim Tek Ie*, salah satu Kelenteng tertua di Indonesia adalah King Cee Koan Im (Koan Im Membawa Sutra Memberi Pelajaran Buddha Dharma Kepada Umat Manusia. Disamping itu, terdapat pula wujud Kwan Im Pho Sat dalam Chien Chiu Kwan Im / Jeng Jiu Kwan Im / Qian Shou Guan Yin. (Kwan Im Seribu Lengan / Tangan) sebagai perwujudan Beliau yang selalu bersedia mengabulkan permohonan perlindungan yang tulus dari umatNya. Julukan Beliau secara lengkap adalah Tay Cu Tay Pi, Kiu Kho Kiu Lan, Kong Tay Ling Kam, Kwan Im Sie Im Pho Sat.

Guan Yin Berbaju Putih

Memang perwujudan Guan Yin tidak terbatas, tapi yang paling banyak dipuja secara meluas dari abad ke abad ialah Guan Yin berbaju putih. Sebab itu apabila kita melihat di berbagai kelenteg, sebagian besar adalah Guan Yin yang berbentuk demikian. Bentuk ini paling disukai dan paling popular diantara bentuk – bentuk lain.

Patung Guan Yin baik yang bentuk dalam keadaan duduk atau berdiri, mempunyai makna sendiri – sendiri. Kebanyakan orang akan memilih yang dalam posisi duduk, sebab bentuk ini menimbulkan kesan terang, tentram dan anggun, merupakan gambaran pencerahan yang sempurna.

Bentuk Guan Yin yang berdiri melambangkan geraknya yang penuh rasa penyayang. Ini diartikan oleh para pemujanya bahwa tindakannya yang penuh rasa kasih dan sayang itu mempunyai kekuatan untuk mencapai siapa saja yang membutuhkan pertolongannya. Dan Guan Yin selalu siap menghampiri dan membantu dengan uluran kasih dan perlindungan. Makna lain yang tersirat bentuk berdiri ini adalah melambangkan kesediaan Guan Yin untuk memberikan pencerahan kepada siapa saja yang menginginkan.

Guan Yin berbaju putih seringkali tampil dengan memegang botol yang berisi “Amrita” yaitu “ Embun Belas Kasih”, yang berkasiat mensucikan kotoran – kotoran dalam badan, ucapan dan batin manusia dan mempunyai kekuatan penyembuhan yang luar biasa. Diiringi dengan ekspresi wjah yang lembut, tenang dan manis, Guan Yin berbaju putih mencerminkan kebijaksanaan, ketenangan dan rasa kasih yang tak terhingga besarnya. Wajah inilah yang telah banyak memberikan ketenangan batin pada hati para pemujanya.

Bagaimana agar kita dapat menjadi penganutnya yang setia? Beberapa petunjuk dari mereka yang percaya yang telah mengalami sendiri rahmat dari Guan Yin mengatakan bahwa untuk menjadi penganutnya orang tidak boleh begitu saja percaya secara membabi buta dan bersembahyang setiap hari, tapi tetap dengan ingatan yang mementingkan diri sendiri. Harus melalui praktek perbuatan yang mencerminkan watak – wataknya seperti ramah – tamah, sering berbuat amal, sabar teguh hati, suka menolong, suka berbuat sesuatu yang memberikan manfaat bagi orang banyak dan meditasi. Dengan praktek – praktek seperti itu orang akan mendekatkan batinnya kepada Guan Yin dan menjadi pengikutnya.

Dilihat dari sini, kita merasakan bahwa sebetulnya pemujaan Guan Yin mengandung suatu ajaran moral yang tinggi.
Kalau kita perhatikan , semua wajah dari patung Guan Yin tentu memiliki mata yang bisa kita katakan setengah terbuka dan setengah tertutup. Mata yang begini, dalam ilmu kebatinan Budhisme mempunyai arti keselarasan yang sempurna dari kehidupan lahir dan batin, sebab sebagian pandangan untuk melihat dunia luar dan sebagian lain untuk melihat dalam diri sendiri. Jadi dapat dikatakan bahwa GuanYin selalu mengingatkan manusia agar selalu menjaga keseimbangan dunia luar dan batin kita dengan segala kecenderungan.

Guan Yin Tangan Seribu

Seperti kita sebutkan bahwa salah satu bentuk Guan Yin yang terkenal adalah GuanYin bertangan seribu ( bermata seribu) atau Qian-shou qian-yan Guan Yin. Sebetulnya kalau kita hitung dengan teliti,jumlah lengannya hanya 39 dan masing – masing menggenggam benda pusaka keagamaan, yang terbanyak berupa bunga dan senjata penakluk iblis. Pada tiap telapak tangan terdapat sebuah mata.

Dalam legenda dikisahkan pada waktu ia sedang dalam meditasi dan merenungkan tugasnya untuk menyelamatkan dan kebahagiaan semua mahluk yang berdosa, kepalanya tiba – tiba terbelah menjadi seribu kepingan, tepat pada saat ia menyadari betapa berat dan besarnya hal yang dilakukan itu.O-mi-tuo-fo (Amitabha), Bapak pembimbingnya, cepat datang untuk menolong dan menghidupkan kembali Guan Yin serta juga memberikan kesakitan untuk berubah menjadi bentuk kepala seribu itu. Matanya yang seribu, melambangkan watak Guan Yin yang penuh belas kasihan, mampu melihat segala hal, sedangkan tangan seribu melambangkan kemampuannya menolong umat manusia dimana saja dan kapan saja.

Semua bentuk Guan Yin baik itu wanita atau pria berkepala tunggal atau ganda, bertangan sepasang atau banyak , dengan ekspresi wajah bengis atau penyabar, mempunyai arti sendiri – sendiri. Dan yang harus diingat, apapun bentuknya, GuanYin tetap menampilkan wataknya yang pengasih dan penyayang,bahkan walau ditampilkan dalam bentuk bermata dan bertangan seribu, sekalipun, beliau tidak kehilangan watak aslinya yang luhur.

Di kelenteng Pu Ning Si yang terletak di dalam komplek Istana Kekaisaran untuk persinggahan musim panas, di Chengde, Tiongkok Utara,terdapat sebuah patung Guan Yin yang bertangan seribu terbuat dari pahatan kayu, yang merupakan patung kayu terbesar di dunia, patung ini tingginya 22 meter dan dibikin pada tahun 1755.

Kemukjijatan Guan Yin

Diantara para Dewata yang dipuja di klenteng – klenteng, Guan Yin bagi penganutnya dianggap paling sering menurunkan kemujijatan. Seorang yang telah membaca mantra : Namo Da-Bei Guan Shi Yin Pu Sa, dengan penuh ketulusan akan menerima pertolongannya lambat atau cepat, tergantung dari karma orang tersebut pada saat mengucapkan, dan kadar kesungguhan dari mantranya.

Kemujijatan Guan Yin banyak disaksikan dan diceritakan oleh para pemujanya. Kalau kita pernah bertatap muka dengan mereka, tentu ada saja keajaiban yang dituturkan selama memuja Guan Yin. Seperti Perawan Suci, Maria, dalam agama katholik, yang seringkali dilaporkan menampakkan diri atau melakukan mujijat penyembuhan seperti di Lourdes, atau patungnya mencucurkan air mata, begitu juga Guan Yin Pu Sa. Yang kami tulis disini ada beberapa peristiwa baik yang dicatat dalam kitab suci maupun pengalaman atau kesaksian seseorang :

1. Yang termuat dalam kitab penting Agama Buddha, fayuan-zhu-lin, antara lain menceritakan tentang hal ihwal Sun Jing De (Sun Keng Tek – Hokkian). Sun Jing De adalah seorang pegawai negeri bagian urusan social di kota Dingzhou, yang hidup di negeri Wei. Sun Jing De ini sangat tekun bersembahyang kepada Guan Yin dan juga telah membuat sebuah patung Sang Dewi.

Suatu ketika ia dilibatkan dalam suatu peristiwa perampokkan oleh salah seorang pelakunya. Tanpa pemeriksaan dan penelitian lagi, Sun Jing De secara serampangan lalu dijatuhi hukuman mati. Malam menjelang pelaksanaan hukuman mati, ia bermimpi bertemu seorang pendeta yang mengajarinya untuk membaca Do’a yang kemudian terkenal dengan nama Gao Wang Guan Shi Yin Jing, (Ko Ong Kuan Si Im Keng – Hokkian) sebanyak seribu kali agar dapat terbebas dari kematian. Paginya, pada saat digiring ke tempat pelaksanaan hukuman mati, Sun Jing De terus membaca do’a itu.

Tepat pada pelaksanaan hukuman mati akan dilaksanakan, Sun Jing De berhasil mencapai jumlah do’a keseribu, dan pada saat golok lagojo menabas batang lehernya, terjadilah mujijat. Golok itu pecah menjadi dua. Semua orang yang hadir di tempat situ heran. Samapai tiga kali algojo mengganti goloknya, tapi tetap saja Sun Jing De tidak terluka sedikitpun. Ketika diteliti pada leher, patung Guan Yin buatan Sun Jing De di rumahnya, ternyata terdapat tiga garis seperti bekas benda tajam. Menerima laporan ini, perdana menteri negeri itu, Gao Huan, lalu memerintahkan agar Sun Jing De dibebaskan dari semua perkara, dan dianjurkan agar do’a Gao Wang Guan Shi Ying Jing itu ditulis dan disebarkan. Sejak itu dari do’a penolong Guan Yin ini terkenal sampai sekarang.

2. Sun Dao De, seorang yang hidup pada jaman dinasti Jin, sangat gemar berdo’a. pada umur 50 tahun belum dikarunia seorang anak. Seorang bikkhu yang tinggal dalam kelenteng dekat rumahnya menganjurkan agar membaca Guan Yin Jing (Koan Im Keng) sejak itu tak lama lagi isteri hamil dan kemudian melahirkan anak laki – laki.

3. Pada tahun 1923 bulan Maret, seorang perwira angkatan darat yang sering disebut sebagai Zhang Jiang-Jun, berangkat bersama keluarganya dari Shanghai ke Nanjing dengan pesawat terbang. Setelah mengudara beberapa saat, tiba-tiba pesawat itu mengalami gangguan mesin dan mulai tidak dapat dikuasai. Zhang Jiang-jun yang biasanya sering membaca Do’a penolong Guan Yin, lalu mengajak semua orang yang ada di situ untuk berdo’a bersama. Baru saja berdo’a, dari jendela pesawat tampak Dewi Guan Yin muncul dengan tersenyum diantara awan, dan pesawat yang hamper menhunjam ke bumi itu mendadak dapat kembali naik dengan mesin hidup kembali. Sekretaris Zhang Jiang-jun sempat memotret wajah Guan Yin yang muncul diantara awan itu.

4. Pada tahun 1973 seorang perwira angkatan udara Amerika (USAF) yang sedang mengadakan penerbangan patroli di atas selat Taiwan, melihat segerombolan awan hitam yang bentuknya aneh, dia lalu memotretnya. Setelah hasil bidikan kamera itu dicuci, tampaklah gambaran Guan Yin sedang berdiri di atas seekor naga yang sedang terbang. Peristiwa ini sanggat menggemparkan dan sempat dimuat oleh beberapa surat kabar terkemuka.

5. Peristiwa ajaib terjadilah pada tahun 1977 bulan Juni. Patung Guan Yin besar yang ada di Port Stanley, Hongkong telah bergerak secara ajaib. Kejadian didahului dengan memancarnya sinar dari batu permata yang ditempelkan pada dahi patung yang bersangkutan, dan disaksikan oleh banyak umat yang pada waktu itu sedang khitmah berdo’a. berita ini sempat dikutip oleh Pikiran Rakyat, Bandung, terbitan 7 – 6 – 1977, dari salah satu harian di Hongkong.

6. Seorang penulis dari Malaysia, Guan Ming, menceritakan pengalamannya yang dimuat dalam buku yang berjudul “Popular Deities of Chinese Buddhisme” terbitan tahun 1985. pada pemulaan tahun 1979 penulis itu mengalami suatu peristiwa spiritual luar biasa yang telah merubahnya menjadi penganut Buddhist yang taat.

Berminggu- minggu ia berdoa kepada Tuhan untuk kesembuhan adik lelakinya yang mengidap kanker ganas. Rupanya do’a itu didengar oleh Yang Maha Kuasa dan secara tidak terduga Guan Yin Pu Sa muncul dihadapannya. Guan Yin tidak hanya menjanjikan kesembuhan buat adik lelakinya, tetapi juga mengatakan bahwa ia akan dikarunia seorang putra tahun berikutnya. Adiknya yang dinyatakan dokter hanya dapat bertahan hidup beberapa minggu lagi, ternyata sembuh total, dan dikaruniai seorang anak laki – laki pada tahun 1980, tepat seperti yang telah diucapkan oleh Guan Yin. Sejak itu sang penulis lalu mendirikan perkumpulan do’a Guan Yin yang berpusat di Malaysia, untuk menyebarkan agama Buddha dan memuja Guan Yin.

Pemujaan Guan Yin

Di atas telah kita singgung sedikit, bahwa pusat pemujaan Guan Yin terletak di Pu Tuo Shan, sebuah pulau kecil di sebelah timur Kabupaten Dinghai, Propinsi Zhejiang. Tiap tahun, terutama pada musim semi dan panas, para peziarah yang berjumlah puluhan ribu berbondong – bondong datang ke sini untuk bersembahyang.

Mula – mula pulau ini bernama Hai Qin Shan, nama ini tetap digunakan untuk sebuah bukit kecil yang terletak di bagian selatan pulau ini. “Pu Tuo” adalah sebuah istilah Buddha, yang berarti gunung suci Putoloka di India. Sebelah tenggara gunung ini terletak pulau Srilangka. Menurut Johnston dalam buku yang berjudul “Buddhist China”, Putoloka adalah puncak bagian barat dari pegunungan Malaya di bagian selatan India. Di Tiongkok ada dua tempat yang dinamakan Pu Tuo Shan. Yang satu adalah yang telah kita bicarakan yaitu sebelah timur propinsi Zhejiang, yang satu lagi terdapat di Tibet.

Jadi Pu Tuo adalah kependekkan dari Putoloka, Pu Tuo berarti bunga putih, sedangkan “loka” berarti gunung. Sebab itu pengarang – pengarang jaman dinasti Yuan menyebut Pu Tuo Shan sebagai Xiao Bai Hua Shan (Gunung Bunga Putih Kecil). Konon memang gunung Pu Tuo Shan banyak ditumbuhi oleh bunga putih yang dalam bahasa Latin disebut Gardenir Florida.

Pendeta – pendeta jaman dinasti Tang, karena melihat bunga – bunga ini lalu memilih gunungnya sebagai pusat pemujaan, ataukah melihat gunungnya lebih dahulu baru kemudian menanam bunganya, sulit diterangkan.
Para pemuja Guan Yin menganggap tanggal 29 bulan 8 Imlik sebagai tanggal perayaan kelahirannya (sebagian ada yang merayakan pada tanggal 19 bulan 2 Imlik), karena dalam setahun, pada tanggal itulah ombak paling besar, dikaitkan dengan Guan Yin sebagai Dewi Pelindung Lautan.

Tapi kalangan awam cenderung untuk menganggap Guan Yin adalah nama gabungan dari beberapa Guan Yin Pu Sa. Ada Guan Yin Pu Sa sebagai pelindung lautan, Guan Yin Pu Sa sebagai Dewi Pemberi Anak dan lain – lain yang masing – masing dicarikan hari lahir tersendiri. Ini menyebabkan kita sering menemui perayaan hari lahir Guan Yin Pu Sa tidak sama diberbagai tempat dalam setahun, kecuali bulan yang – 12 dalam 11 bulan lainnya tentu terdapat hari lahirnya, yang berarti juga hari vegetarian (Ciak Jay), bagi para pemujanya.

Di Guang Zhou, tanggal 24 bulan 2 Imlik, sering dianggap sebagai hari lahir Guan Yin Pengantar Anak. Pria dan wanita dari berbagai pelosok perkumpulan menjadi satu dalam suatu perayaan yang disebut Sheng Cai Hui (perayaan sayur mentah). Para pengikut upacara biasanya datang ke pusat perayaan dengan membeli sayur mentah, dengan harapan memperoleh tuah melahirkan anak, sebab “Sheng Cai” (yang berarti sayur mentah) dan “Sheng Zai” (yang berarti melahirkan anak), punya suara yang mirip. Di tempat perayaan dibuat kolam kecil.

Dalam kola mini sebelumnya telah dimasukkan sejumlah kerang dan keong. Orang – orang yang datang kemari memasukkan tangannya ke dalam kolam, kalau yang terambil adalah keong, maka ia boleh berharap memperoleh anak lelaki, tapi kalau kerang yang terambil, harapannya anak perempuan.

Kebiasaan ini asal – usulnya dapat ditelusuri pada masa pemerintahan Kaisar Wen Zong (827 – 840 M). Kaisar Wen Zong gemar sekali akan tiram. Pada suatu hari ia menemukan tiram yang besar, yang kulitnya keras sekali. Setelah berhasil dibuka ternyata didalamnya terdapat patung Guan Yin kecil Kaisar terperanjat, barulah setelah mendengar penjelasan dari para ahli filsafat kerajaan, ia sadar dan menjadi penganut Guan Yin yang tekun, dan banyak mendirikan kelenteng untuk Guan Yin. Pemujaan Guan Yin sejak itu jadi sangat berkembang, Kaisar meninggal tahun 840, dan kelenteng di Pu Tuo Shan selesai didirikan pada tahun 847 M.

Para pemuja Guan Yin berpantang makanan daging sapi, burung dara, udang, ikan yang tidak bersisik, sarang burung (Yan – oh), daging kuda, daging anjing, bulus dan jenis kerang. Harapan mereka terbesar adalah dapat melihat wajah Guan Yin. Mereka yang pergi ke Pu Tuo Shan pasti menyempatkan diri memasuki gua dimana Guan Yin pernah menampakkan diri. Ada yang sampai membakar sepuluh jarinya dengan api lilin, agar bisa meraga sukma dan bertemu sang Dewi.

Kebiasaan ini jelas berasal dari India. Konon orang yang melakukan cara itu tidak ada yang tidak berhasil melihat Guan Yin. Meskipun ada variasi di berbagai daerah tentang hari lahir Guan Yin, tapi secara garis besar dapat dikatakan umumnya ada 3 hari besar untuk menghormati Dewi Welas Asih ini. Ke 3 hari besar tersebut adalah :
1). Tanggal 19 bulan 2 Imlik adalah hari kelahirannya.
2). Tanggal 19 bulan 6 Imlik adalah hari menjadi Pendeta.
3). Tanggal 19 bulan 9 Imlik adalah hari memperoleh penerangan.

Pada hari – hari ini, para pemuja yang telah merasa pernah memperoleh pertolongan Guan Yin berbondong – bondong memenuhi kelenteng pemujaan Guan Yin, membawa barang persembahan, melepaskan burung – burung dan binatang lain, melakukan pantang makan berjiwa, melaksanakan perbuatan amal dengan berkunjung ke rumah jompo dan rumah penampungan anak caact dan lain – lain kegiatan social dan ritual.

Biasanya ada 5 larangan yang dipatuhi :
1). Tidak membunuh atau menyiksa mahluk hidup lain.
2). Tidak mencuri atau mengambil yang bukan jadi haknya.
3). Tidak berbuat jinah.
4). Tidak berbohong atau membual.
5). Tidak minum minuman keras atau barang lainnya.

Biasanya sepanjang hari diisi dengan acara pembacaan kitab suci dan meditasi secara masal, serta perenungan. Yang lebih tekun biasanya melakukan pembacaan parita dan meditasi untuk kebahagiaan semua umat manusia sampai beberapa hari. Guan Yin tidak hanya dipuja di kelenteng – kelenteng, di daratan tiongkok, Hongkong, dan Taiwan.

Seiring dengan menyebarnya orang Tionghoa perantauan di Asia Tenggara, maka di Malaysia, Singapura dan Indonesia juga banyak dijumpai kelenteng yang khusus diperuntukkan Guan Yin.

Khusus di Jawa terbesar adalah kelenteng Dewi Welas Asih di Banten, Jawa Barat. Selain itu, tidak terhitung banyaknya rumah yangmemujanya dalam sebuah altar pribadi, baik di kota – kota besar sampai jauh di desa kecil di pegunungan. Dewata lain mungkin dipuja dan dihormati bercampur rasa takut, tapi Guan Yin begitu dekat di hati, ia dihormati sekaligus dicintai. Dewata lain mungkin berwajah bengis dan angker. Tapi Guan Yin selalu tersenyum lemah lembut dan bersahaja.
Begitu dekat pengaruh Guan Yin dalam masyarakat, sampai – sampai seorang gadis akan sangat bangga apabila ia disebutkan sebagai ia mirip dengan Guan Yin hidup. Memang Guan Yin dari dulu sampai sekarang juga dianggap sebagai lambang kecantikan dengan bibir merah, kulit halus, alis lentik dan langkah yang lemah gemulai.

Sebagai garis besar, di kalangan rakyat, Guan Yin dianggap Boddhisatva penolong bagi orang yang sedang dalam kesusahan dan kesengsaraan. Juga dianggap penolong roh – roh yang mengalami penderitaan di neraka, sebab itu ia ditampilkan dalam sembahyang memberi makan roh – roh kelaparan yang jatuh pada bulan 7 Imlik, dengan nama Pu Du Gong (atau tuan yang menolong penyeberangan). Secara umum ia dipanggil Guan Yin Fo Zhu atau Guan Yin Ma dan lain – lain, sebutan akrab. Begitulah kira – kira betapa meresapnya pemujaan Guan Yin dalam masyarakat.

Dalam sejumlah kitab Tiongkok klasik, disebutkan ada 33 (tiga puluh tiga) rupa perwujudan Kwan Im Pho Sat, antara lain :
1. Kwan Im Berdiri Menyeberangi Samudera;
2. Kwan Im Menyebrangi Samudera sambil Berdiri diatas Naga;
3. Kwan Im Duduk Bersila Bertangan Seribu;
4. Kwan Im Berbaju dan Berjubah Putih Bersih sambil Berdiri;
5. Kwan Im Berdiri Membawa Anak;
6. Kwan Im Berdiri diatas Batu Karang/Gelombang Samudera;
7. Kwan Im Duduk Bersila Membawa Botol Suci & Dahan Yang Liu;
8. Kwan Im Duduk Bersila dengan Seekor Burung Kakak Tua.

Legenda Kakak - Kakak Putri Miao Sin :

Bun Cu Pho Sat / Wen Shu Phu Sa.

Beliau adalah Bodhisatva Lambang Kebijaksanaan Yang Luar Biasa. Kata Bun Cu Pho Sat berasal dari bahasa Sansekerta yang bermakna Manjusri Bodhisatva, yang artinya “Bodhisatva Dengan Keagungan Yang Lemah Lembut”.

Tokoh Manjusri berasal dari tanah India dan setelah agama Buddha memasuki daratan Tiongkok, tokoh ini mengalami perubahan gender. Sama seperti tokoh Avalokitesvara Bodhisatva, tokoh ini awalnya adalah sosok seorang pria. Menurut kitab-kitab Mahayana kuno, dituturkan bahwa Manjusri adalah tokoh yang dalam berbagai kehidupanNya yang lampau (Reinkarnasi) sering kali menjadi orang tua dari para Buddha.

Dipercaya bahwa Budha Sakyamuni adalah keturunan Manjusri setelah 9 (sembilan) generasi. Selain itu juga dituturkan juga bahwa Manjusri adalah Kepala Pengawas Para Bodhisatva. Probabilitas perubahan gender Manjusri di Tiongkok terjadi bersamaan dengan perubahan yang dialami oleh Avalokitesvara, dengan latar belakang yang sama. Berdasarkan pada legenda Puteri Miao Shan, setelah Miao Shu diangkat menjadi Pho Sat,

Beliau dinamakan Bun Cu Pho Sat dan berkedudukan di gunung Wu Tai Shan. Tugas Bun Cu Pho Sat adalah mengajar umat manusia agar terbebas dari kegelapan bathin. KepadaNya diberikan binatang tunggangan berupa seekor Singa Hijau, yang asalnya adalah siluman api. Sebenarnya singa hijau tersebut melambangkan nafsu pikiran yang liar, yang hanya dapat ditundukkan dengan bermeditasi.

Seperti yang telah diceritakan di atas, Bun Cu Pho Sat umumnya ditampilkan sebagai seorang puteri yang mengendarai atau duduk di atas punggung seekor Singa Hijau. Kadang ditampilkan dengan membawa pedang, yang disebut pedang kebijaksanaan, dan membawa gulungan kertas yang diikat tali, yang isinya adalah ajaran kebijaksanaan. Bun Cu Pho Sat boleh dikatakan tidak pernah tampil sendirian, umumnya ditampilkan dalam bentuk 3 (tiga) serangkai, yaitu Bun Cu Pho Sat – Kwan Im Pho Sat – Pho Hian Po Sat.

Po Hian Pho Sat / Pu Xian Phu Sa.

Beliau adalah Bodhisatva Lambang Sila atau Moralitas Yang Sangat Luhur. Kata Po Hian Pho Sat berasal dari bahasa Sansekerta yang bermakna Samantabhadra Bodhisatva, yang artinya “Bodhisatva Yang Memiliki Kebajikan Universal”.

Sama seperti tokoh Kwan Im Pho Sat dan Bun Cu Pho Sat, tokoh Po Hian Pho Sat juga berasal dari India dan mengalami perubahan gender di daratan Tiongkok karena pengaruh legenda Puteri Miao Shan.

Menurut Kitab Buddhis Mahayana Kuno, dituturkan bahwa Samantabhadra Bodhisatva sesungguhnya memiliki tubuh yang besarnya tiada batas. Karena ingin turun ke dunia untuk membantu orang-orang yang sengsara, Beliau mengubah wujudNya menjadi seorang pria yang mengendarai seekor Gajah Putih.

Warna putih sang Gajah ini sungguh luar biasa, bahkan sampai puncak Himalayapun tidak bisa menandinginya (Puncak Himalaya selalu tertutup salju putih). Dalam legenda Puteri Miao Shan dikisahkan bahwa Miao Yin diangkat menjadi Pho Sat dengan nama Po Hian Pho Sat dan berkedudukan di gunung E Mei Shan serta bertugas untuk memberikan kesejahteraan kepada orang banyak.

KendaraanNya adalah seekor Gajah Putih yang berasal dari siluman Air. Gajah Putih ini juga mengandung arti kesucian dari moralitas. Terkadang Gajah tungganganNya ditampilkan dalam bentuk 3 (tiga) kepala dan 6 (enam) gading. Pada umumnya, belalai sang Gajah Putih selalu membawa setangkai bunga teratai, lambang dari ajaran Po Hian Pho Sat yang terkenal yaitu Sutra Bunga Teratai.

Sumber Penulisan :
1. http://forums.siutao.com/viewtopic.php?t=1364
2. Myths and legends of China, E.T.C. Werner

2 komentar: